Tampilkan postingan dengan label Serial Faza (FanFic). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Faza (FanFic). Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

"First Snow : Keyhole" (episode 2)

0 komentar




 cast episode ini :
Merry, Kai, Tao, Mario Maurer
Ost :
Machine by EXO


Satu jam setelah pesawat bertolak menuju Incheon International Airport


Seorang pria berusia 20-an tampak memperhatikan sekitar lewat cermin yang digunakannya untuk melihat sesosok di belakangnya.

"Hyung, buatlah seolah-olah kau sedang tidak memperhatikannya" bisik seorang pria lagi tepat di sebelahnya. Ia membenarkan letak kacamata hitamnya. Wajahnya memang cukup menarik perhatian karena diantara semua penumpang saat itu, mungkin hanya dirinya yang memilik single eyelid.

Yang dipanggil hyung_dan berkulit sedikit lebih gelap_mengangguk. Pandangannya memang tak pernah lepas dari sesosok yang sedang tertidur pulas dibelakangnya. Dari ciri-cirinya dia jelas tak mungkin salah orang. Misi yang diembannya ini memang cukup membuat jantungnya berdegup kencang. Ini kali pertamanya dia akan menunjukkan "dirinya yang sesungguhnya" di depan umum. Jika gagal, bisa jadi ini adalah akhir dari semuanya, bahkan ending dari rangkaian estafet misi ini. Semua ditentukan oleh dirinya. Dan_Tao.

"Tao, coba kau lihat dua orang laki-laki berjaket hitam yang duduk di pojok depan sana. Entah mengapa, ekor mataku mengisyaratkan bahwa sejak pesawat ini lepas landas, dia selalu mengikuti gerak-gerik kita. Aku merasa...pandangannya seperti sedang mengawasiku" bisiknya tak kalah pelan.

Meskipun matanya sedang terlindung di balik kacamata hitam, Tao tetap memfokuskan untuk tak menatap langsung pada mata laki-laki mencurigakan yang di maksud.

"Hyung, kurasaaaa...."

Beberapa detik kemudian, laki-laki itu berdiri. Berjalan menuju Kai dan Tao. Pesawat tiba-tiba berguncang. Lampu seatbealt dinyalakan. Pesawat seolah menabruk sesuatu.

"Excuse me Mr, you're not allowed to stand up of your seat right now" seorang pramugari berkata pada laki-laki itu bertepatan dengan sebuah pengumuman dari co-pilot.

"but i really need to go to toilet" ucapnya.

Mendengar suara itu, Tao merasakan sesuatu yang de javu. Entah mengapa memory buruknya tiba-tiba bermunculan. Salah satunya memory yang tak diinginkannya. Melihat perubahan kondisi Tao, Kai bergegas menepuk pundak partnernya itu.

"Tao, kau benar. Kita harus segera bersiap-siap. Kendalikan pikiranmu _sekarang"

Sementara itu berjarak beberapa tempat duduk dari mereka, keributan pun pecah. Laki-laki berpakaian hitam itu mendorong paksa pramugari yang mencoba menahannya.

"Hyung.," panggil Tao memberi kode dengan melepas kacamata hitamnya.

Kai berlari menuju sesosok yang masih tertidur pulas di bangkunya. Seorang wanita...

"Shit !" ucap laki-laki berpakaian hitam itu. Kai tahu bahwa langkahnya harus lebih cepat. Setidaknya dia harus segera menyentuh wanita itu.

Melihat bahwa keadaan semakin darurat dengan kemungkinan Kai tertangkap oleh laki-laki yang dipastikan adalah mata-mata dari kelompok yang selama ini mengejar mereka, Tao pun mulai memfokuskan pikirannya.Sebisa mungkin tak ada seorang pun yang menyadari apa yang akan dilakukannya.

Kai menoleh ke belakang. Kini dirinya dan laki-laki itu berjarak hanya sepanjang lengan tangannya.

Tak ada jalan lain, Kai membanting badannya...

Bersamaan dengan itu...

Bagai film yang sedang ter-pause...semua kondisi tiba-tiba freeze.. Seorang perempuan yang masih tertidur namun cukup tersentak dengan sebuah tepukan di bahunya_Kai Hyung yang setengah mengambang di udara_seorang laki-laki berbadan besar yang nyaris_menangkapnya_dan...

Semuanya beku, terkecuali dirinya. Bahkan jika dilihat dari luar_pesawat ini benar-benar terdiam mematung di udara_sesuatu yang mungkin akan sedikit mengacaukan satelit udara.

Hanya dirinya yang tak berlaku sama.

Tao membuka matanya. One step closer dari akhir misi pertama ini...Tinggal bagaimana ketika ia melanjutkan kembali ke waktu yang sebenarnya, Kai telah mengaktifkan kekuatannya. Teleportation.

Tao berjalan menuju dimana kai dan wanita itu berada. Ia mengarahkan tangannya, dengan satu kedipan matanya makanya semua kembali normal. Tao pun meletakkan tangannya pada bahu Kai. Bagaimana pun caranya, mereka bertiga_ia, Kai, dan wanita yang bernama Merry ini harus berada di Incheon International Aiport secepatnya. Jauh lebih awal dari jam kedatangan yang seharusnya.

"Hana..."

Tao menghitung pelan,

"Dul..."

jantungnya berdegup kencang,

"Set.."

"Hyung !!! NOW !!!" bisiknya dan..

Sebuah lubang hitam yang tak tampak menyeret mereka bertiga. Berpusar-pusar dalam lorong waktu...Kai mempererat dekapannya, agar Merry tak terlepas darinya. Sementara satu tangannya yang lain menggenggam Tao. Hanya dirinya yang bisa melihat pusaran ini.

Tapi...sesuatu di luar dugaannya...

Dia lupa memposisikan tempat tujuan "mendarat" mereka. Kai lupa memvisualisasikan tempat yang akan mereka tuju secara detail. Yang ada dipikirannya hanya _Bandara Incheon !

Tao oleng,..

"Hyung !! Odieya ??! Kita ada di toilet bandara !" teriaknya.

Dan benar saja.,sebuah tanda cukup menjelaskan di tolet mana mereka berada. Yoja Hwajangsil ! (aka Women Toilet)


.....

Apgujeong, Pagi hari..Hari ke-2..

""what ?? Old Seoul ??"

Merry berteriak menatap sebuah leaflet yang diberikan Yongdo padanya. Matanya gantian beralih ke Yongdo. Seperti mimpi rasanya ia bisa berada sedekat ini dengan seseorang yang nyaris seprti kembar dengan...Mario !

"Suho hyung dan faza nuna mengabarkan padaku bahwa hari ini mereka tidak bisa ikut dengan kita. Jadi...hanya kau dan aku yang akan berangkat ke sana"

Mendengar kata "kau dan aku" entah mengapa ada perasaan aneh yang dirasakannya. Merry kembali menepuk-nepuk pipinya.

"Ya ! nuna, no gwenchana ??" tanya Yongdo seketika, begitu melihat apa yang baru saja dilakukan Merry.

Buru-buru Merry menggelengkan kepalanya.

"aa...it's okay. Aku hanya heran dengan nama tempat ini. Bukankah sekarang kita sedang berada di kota Seoul ?? Apakah maksudnya...tempat ini adalah kota seoul di zaman dinasti Jeoseon ??" cecarnya.

Yongdo tersenyum.

Melihatnya tersenyum, lagi-lagi perasaan lain menghinggapi dirinya. Butterflies are flying inside her tummy !

"Nanti juga nuna akan tau. Well, uri kaja !" ucap Yongdo, melingkarkan lengannya ke bahu Merry.

Jika ini sekali lagi hanya mimpinya_entah mengapa Merry merasa tidak ingin siapapun membangunkannya..Tidak Faza, Rafa ataupun...Ibu Kosnya !

Entah mengapa langit awal musim dingin kota Seoul serasa lapang baginya saat ini...

-BERSAMBUNG-

Senin, 20 Januari 2014

"First Snow"

2 komentar



Cast :
Merry, Faza, Mario Maurer, Suho-Exo,Rafa,Danny Odonoghue
Origanl Soundtrack : 
First Snow by EXO






3 hari sebelumnya...

"Kamu yakin mau berangkat sendiri ?"
tanya rafa untuk kesekian kalinya pada Merry yang tak berkesudahan dengan kegiatan packingnya. Memasukkan satu persatu baju-bajunya ke dalam koper berwarna pink menyala. Ia lantas mengangguk.

"kok kamu tumbern sih Mer travelling dadakan kayak gini ? kamu tau sendiri kalau sekarang itu lagi high-season, harga tiket pesawat lagi tinggi-tingginya.Lagi kebanyakan duit lo ?!"

Rafa mengambil sesuatu yang tergeletak di samping koper.

"tuh kan, benar yang gw duga" lanjutnya setelah melihat digit angka fantastis untuk harga tiket pp.

"ya habisnya kamu_aku ajakin gag mau"
ucap Merry angkat bicara. Diambilnya beberapa botol kecil untuk kemudian dimasukkan ke toiletriesnya.

"aku gag bilang gag mau, cuma diundur sampai januari. lagian..Danny mau tahun baruan di sini. Gag mungkin kan kalau aku gag stay di Indonesia"

"ya sama aja dengan kamu gag mau, fa. kalau kamu mau bisa-bisa aja kan kamu ajak danny buat ikutan travelling. Itu pun kalau memang dia benar-benar...:

kata-katanya terputus.Dilihatnya raut wajah rafa yang seketika berubah. Sejujurnya tak ada biatnya untuk melontarkan kata-kata tadi. tapi toh semuanya keburu keluar begitu saja.

"mulai lagi deh. Jangan samain aku sama Mario, si your blind-date lover itu ya. lagian kamu mau-maunya aja diajak kenalan lewat email. Bisa aja kan dia cuma spamming ke random orang"

Merry-email nyasar dari Mario-Yahoo Messenger-merupakan hal yang gag bisa dipisahkan dari Merry dalam kurun waktu satu tahun ini.

"kalau dia serius tertarik ke kamu, yaaa...seenggaknya dia ngasih akun socmednya yang lain. Twitter kek, instagram kek, atau minimal facebook. Lagian hari gini, gag punya fb ?? tuh orang tinggal di belahan dunia mana sih sampe gag ngerti dan gag punya akun fb ??" cerocos rafa.

"He lives in China, fa.Remember that" potong Merry.

"So What ?!"

kali ini giliran Merry yang tertawa. Rafa jadi tidak mengerti. Masih belum bisa menemukan korelasi antara gag punya fb dan negeri tirai bambu itu.

"Sekarang giliran gw yang nanya ke lo, lo tinggal di zaman kapan sih sampai-sampai gag tau kalau facebook using is forbidden di China. Pemerintah RRC itu anti amerika, termasuk produk-produknya"

Rafa terdiam.bengong.tumben-tumbennya sahabatnya ini lebih pintar dibandingkan dirinya.

"Trus lo masih gag bisa ngelupain dia ?" tanya rafa ngalihin pembicaraan.

"gw gag tau kenapa gw kayak gini. Gw emang gag pernah ketemu dia di kehidupan nyata, tapi entah kenapa gara-gara dia gw ngerti gimana rasanya galau karena gag bisa move on"

"hmm...makanya Mer, kalau suka atau jatuh cinta sama seseorang itu jangan total. Jangan serahin semua rasa lo. Mesti sabar. Ibarat kayak makan permen, jangan langsung dihabisin semua. Karena kalau lo habisin langsung, lo gigit tuh permen tanpa diemut pelan-pelan, lo gag bakalan tau tingkat manisnya tuh permen"

Merry terdiam. Ya dia memang terlalu cepat untuk suka sepenuhnya sama Mario Maurer. Seseornag yang memberi perhatian padanya hanya lewat-lewat surat elektronik, seseorang yang dia hanya bisa tau rupanya lewat sebuah attachment foto, selebihnya...ia hanya hidup dalam bayang-bayangnya.

Rafa mengeluarkan sesuatu dari saku jinsnya. Sebuah amplop putih.

"apaan nih ?" tanya Merry penasaran.

"jangan dibuka sekarang. Memang gag seberapa, tapi suatu waktu nanti lo bakal ngebutuhinnya. Jaga diri baik-baik, Mer" ucap rafa sembari memeluk sahabatnya erat.


....

Dongdaemun, hari ke-3 di awal Desember..

Merry melilitkan syal warna pink lebih rapat lagi di lehernya. Angin akhir musim gugur menerpa tubuhnya. Sebuah awalan dan sambutan akan datangnya musim dingin di awal desember ini.

Dekorasi natal serba merah hijau sudah bertebaran di setiap sudut kota Seoul. Pohon natal raksasa yang bisa bergerak dan mengeluarkan butiran salju buatan berdiri kokoh di samping sebuah pusat perbelanjaan ternama di area ini. Menarik minat dan perhatian Merry sejak tiga puluh menit yang lalu berdiri sendiri di sini. Hal yang tentu tidak pernah ia temukan di Indonesia.  Beberapa orang lalu lalang di hadapannya. Entah mengapa , meskipun saat ini dia tengah berada di salah satu negara asia timur, tapi tak satupun dari hilir mudik orang-orang lokal ini yang bermata sipit. Kemajuan teknologi plastic surgery negara ini semakin berkembang pesat.

"Merry !!!!"
sebuah suara tiba-tiba terdengar begitu familiar dari arah belakang. Merry membalikkan badannya, dan benar saja,

"Onnie !!!!"

Merry bergegas berlari ke arah sumber suara yang tak lain adalah...

"Udah lama gag ketemu, bogosiphooooooo..."
ucap wanita yang tak lain adalah faza, sahabat Merry yang telah bermukin sekian tahun di negeri ginseng ini. Bersama mereka berangkulan.

"Nado. udah lama gag ketemu, jadi kurusan"
 Faza tersenyum.

"eh gimana si cowok korea yang sering lo ceritain itu ?" lanjut Merry.

Faza melirik arloji tangannya, mengarahkan pandangannya..

"Tuh orang yang lo tanyain" tunjuk faza pada sesosok laki-laki berkulit putih khas ornag lokal korea.

"Annyeong haseyoo.."ucapnya sembari membungkuk.

"Perkenalkan...ini..uri namdongsaeng" lanjut laki-laki yang bernama Kim Suho kepada seseorang yang ada di sampingnya.

"aa..arayo..nahante marhaessoo..huaa...jinjja jal saenggeotta"

laki-laki yang terlihat lebih muda itu membungkukkan badannya, sembari memperkenalkan dirinya yang bernama Yongdo-Kim Yongdo.

Sementara itu Merry hanya terdiam. Tak bisa berkata apa-apa..Sebuah wajah yang sangat amat familiar dalam ingatanyya.

"Mer, kenalin ini adiknya Suho..Yongdo-ya, iyojaneun naechinguyaa..Merry, Merry Mera Na"

"Ma...ma..mario..."ucap Merry lirih, nyaris tak terdengar.

....

"Ahjumma, berikan saya satu mangkuk jjampong lagi" teriak Yongdo.

Merry memperhatikan pria di hadapannya ini. Ia merasa seperti bermimpi. Tapi beberapa kali dicubitnya pergelangan tangannya, tetap saja terasa sakit. Dan sesuai penjelasan Suho, yongdo adalah adik kandungnya, masih tercatat sebagai seorang pelajar di Seoul Foreign Language High School, jadi tidak mungkin jika laki-laki ini sebenarnya adalah...

"Nuna-deul, manhi mogoooo..." ucap Yongdo, memberikan gelas kecil ke faza dan merry untuk selanjutnya mengambil sebotol soju dan menuangkannya ke masing-masing gelas tersebut.

"mm..bukankah yang menuangkan soju seharusnya mereka yang lebih tua. Seperti yang sering aku lihat di drama-drama korea ?" tanya Merry spontan.

Baik faza, yongdo maupun Suho, ketiganya sama-sama tertawa.

"wahh...Merry-nuna sepertinya sangat gemar menonton drama-drama lawas"
ucap Yongdo.

..mwo ?? Drama lawas? Good Doctor, The Heirs, Master Sun, bukankah mereka adalah drama-drama populer di tahun ini ? Aisss...kau saja yang tak pernah menonton TV, anak muda...
ucap Merry dalam hati.

"Seiring perkembangan waktu, banyak kebiasaan dan kultur orang korea yang telah berubah. Salah satunya hal yang demikian tadi. Jangan kaget Merry-ssi, jika kau menemukan bahwa last name orang korea tidak lagi mengikuti garis keturunan ayah. Seperti halnya kami berdua. Appa bermarga Choi, sedangkan Kim adalah marga keluarga uri omma" jelas Suho. Merry hanya bisa terdiam. Sebuah informasi baru yang tidak pernah didengarnya sebelumnya.

"Satu contoh lagi, kimchi yang kau makan tadi..tidakkah itu berasa terlalu manis ? sementara rasa otentik kimchi adalah asam dan pedas" tambah Yongdo, mengarahkan sumpitnya pada mangkuk kimchi yang telah habis tak bersisa.

Merry kaget, itu juga kenapa dia bisa melahap habis makanan iconic korea tersebut, hal yang jarang dia lakukan di restauran korea manapun di Indonesia.

"Tapi jangan khawatir, jika kau ingin merasakan kehidupan korea yang sebenarnya, ada sebuah desa terpencil di utara korea, tempat di mana kau masih bisa merasakan atmosfer kehidupan korea di masa kejayaan dulu. Dan itu adalah destinasi wisata yang akan kita kunjungi besok"

Merry teringat pada catatan itinerarynya.

"mm.. ya aku sangat menyukai wisata klasik. Banyak tempat yang ingin kukunjungi selama di sini. Namsan Tower, Cheonggyecheon Stream, City Hall,dan.."

"Tepat sekali, kau bisa menemukannya di sana"

Merry kaget. Bukankah..daftar nama-nama yang disebutkannya tadi adalah tempat-tempat yang bisa dikunjunginya di kota ini ? tanya Merry.

"Aa...satu lagi, ada satu hal yang sangat ingin kulakukan selama berada di sini" lanjut Merry.

"apa itu ?" tanya faza.

"Aku ingin datang ke konser idolaku"

Ketiganya terdiam. "si..sia..pa ?" tanya faza.

Merry mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah kartu pos yang dilipatnya , diselipkan di salah satu bagian dompetnya.

"Taraaaaaaa...Girls Generation !!!!" teriak Merry.

Suasana hening. Suho, yongdo, dan faza bergantian bertatapan.

"Me...merr, kau sedang tidak sakit kan ??" tanya faza hati-hati dengan mimik serius.

"ma..maksudnya ?"

Faza menarik nafasnya dalam.

"Itu...itu...kau akan tau jawabannya begitu kita tiba di tempat yang akan kita tuju besok. A..aku merasa, ada seuatu yang aneh di dirimu" ucap faza.

Merry semakin tidak mengerti.

-BERSAMBUNG-






Selasa, 25 Juni 2013

Summer in Incheon (Episode 2)

0 komentar




Penerbangan jakarta-kuala lumpur membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Faza membenarkan letak ransel merahnya yang tampak berat dengan beberapa barang bawaan tak terduga. Ada travel book di sana.

“excuse me, where’s the toilet ?” tanyanya pada laki-laki berseragam berperawakan melayu.

“kalau di KL,biar gag salah paham, mending pake bahasa inggris aja deh. Daripada salah arti” kata-kata dinta masih terngiang-ngiang di pikirannya. Benar saja, banyak kata-kata yang tak dimengertinya. Tiba di negara yang sebenarnya memiliki rumpun bahasa yang nyaris sama dengan indonesia,membuat beberapa kata menjadi terdengar ambigu.

“Just go straight there, turn the right, and find on the left side,miss” ucapnya dengan logat kental melayu.

Faza mengikuti arahan dari petugas bandara tersebut. Ini pertama kalinya faza mempraktekkan pelajaran bahasa inggrisnya di luar negeri.Bayangan akan kekhawatiran gagap bahasa jelas membayanginya selama dalam perjalanan jakarta-KL. Tapi ternyata kekhawatiran tersebut tidak seperti dalam bayangannya. 

“where’s the toilet” kalimat memorable yang akan diingatnya, selaku kalimat pertama bahasa inggris yang diucapkannya di perjalanan luar negeri perdananya.

Toilet tempat transit bandara KL di jam-jam seperti ini benar-benar penuh.Bersyukur karena masih merupakan negara mayoritas muslim, sehingga penggunaan air masih berlaku di toilet. Tidak dengan korea selatan, begitu informasi yang didapat dari Kim-sonsaengnim, guru les bahasa koreanya.

Faza merebahkan badannya di atas bangku tunggu yang terletak di belakang ruang tunggu transit ke korea. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Dua jam lagi penerbangan selanjutnya akan tiba. Faza mengeluarkan tablet mininya. Akses wifi sangat melimpah di area ruang tunggu.Wajar saja, sekelas bandara international KLIA,akses internet jauh lebih maju ketimbang indonesia.

“are you waiting for next flight to south korea ?” seseorang tiba-tiba saja muncul di sebelah faza. Laki-laki dengan tampilan traveler namun berwajah khas asia timur.

Faza mengangguk, sedikit menggeser badannya agar dapat memberikan tumpangan duduk bagi laki-laki bermata sipit yang berbicara padanya.

“oo..thankyou” ucapnya singkat.

“sure..it looks we have same flight for same destination” ucap faza sedikit mulai fasih.

Laki-laki itu meletakkan ransel besar di depan

“are you backpacker ?” tanya faza tanpa ragu. Celana pendek safari selutu, kaos tak berlengan, topi, dan...peta ! ya item terakhir menjadi ciri bahwa laki-laki bisa dipastikan adalah seorang backpacker, not flashpacker seperti dirinya.

Laki-laki itu mengangguk, tersenyum ramah.”well..sorry to forgot.i’m lee..lee jin ki” ucapnya sembari mengulurkan telapak tangannya.

“mwo ???” ucap faza setengah berteriak. Beberapa orang di sekitarnya menyadari reaksi berlebihan faza barusan.

“hey, did you say one korean word before ,right ? hangukmareulhaeyo ??”

Faza masih tak percaya dengan apa yang didengarnya..lee...lee jinki ? sebuah nama yang tak asing...tertulis...di...diary-nya setiap waktu !

“a...aniya..jogoyo..just a little” jawab faza sembari mengatupkan jari telunjuk dan jempol tangan kanannya.

“gwenchanayo..so let’s change to english” ucapnya masih sama ramahnya.”just call me by jinki,but...some foreigner always calls me by lee...”lanjutnya lagi.

Faza menarik nafas lega. Si Lee jinki yang berada di depannya tentu saja bukan lee jinki impiannya,alias onew.

“by the way,ireum-i mwoyeyo ? (*what’s your name ?)” tanya lee lagi.

“aa..jae-ireumeun fazayeyo.Hajiman...nan hanguksaramaniya (*aa..my name is faza,but..i’m not korean) ”
“ne,tayonaji..algessumnida..(*yes,sure..i understand)”ucapnya tertawa renyah. Seperti halnya orang korea atau asia timur lainnya, mata lee sama nyaris hilangnya jika tertawa.

“well..what’s your purpose for your trip to south korea ? are you going to study there ?” tanyanya lagi. Lee menawarkan sebuah roti ke pada faza, tapi karena tidak lapar sama sekali, dengan halus dan sopan,faza menolaknya.

“i’m not sure for what..I just take sudden trip, out of my plan” jawabnya tanpa malu-malu. Toh apa yang dikatakannya sesuai dengan apa yang terjadi, perjalanan ini tanpa direncanakan dengan matang sama sekali sebelumnya,batin faza.

“aaa..i got it. Sometimes, wonderful trip always happens unassured before. Just go fun, and let it flow” ucapnya santai.”how long will you spend in korea ?”tanyanya lagi. Baru kali ini faza bertemu dengan orang asing yang talkactive seperti lee. Kebanyakan dari foreigner sangat individual jika berada di tempat umum. Tenggelam dalam aktivitasnya sendiri-sendiri. Tapi kali ini kenalan barunya sangat berbeda.

“i apply visa for stay one month. But i still dont have any plan to what will i do there..Firstly..”

“Wow ?? do you go alone ? aa...jinjja daebakiya..no yohaengkayo honjaisso ? (*aa..it’s great..you travel alone ?)”

Faza nyaris tertawa. Logat yang didengarnya kali ini sama persis dengan dialog-dialog yang sering didengarnya di drama korea.

“actually..i will not alone..i will travel with...my japanese friend” ucap faza sedikit ragu sebenarnya.

“it should better. Actually south korea is one of safetiest country for women traveler. Even it’s your first abroad trip. But..having travel-mate is better than one sometimes”

Keduanya sama-sama tergelak pada akhirnya.

“jinki-ssi, do you live in seoul ?”

Lee mengambil sesuatu dari dompetnya. “no..i live in incheon, one hour from seoul by KTX (*Korea Train Xpress)” Lee memberikan sebuah kertas kecil yang tak lain adalah kartu nama.

Faza membaca kartu nama yang kini berpindah tangan padanya. “Lee Jin Ki”, “Inha University of Incheon”.
“woww..jinki-ssi,inha daehaksaengiyeyo ? (*are you inha university student ?) . Shiwon supojunio-reul arayo ? (*do you know shiwon super junior ?)” tanya faza bertubi-tubi, saking excitednya.

“nan arayo.keuromyeon..nan daehakyoeso shiwon-eul anmannayo” (*i know him, but i never meet him at campus)

“shiwon-ssi jinjja bappayo “ (*shiwon is so busy)

Lanjut lee. Setiap menyebutkan nama salah satu boyband terkenal asal negeri ginseng itu, pikiran faza pasti langsung tertuju pada dinta. Dinta benar-benar fans fanatik super junior.

Shiwon dan ryeowook merupakan member super junior jebolan inha university.Begitu informasi yang didapat dari kegiatan fangirlingnya. Andai saja...faza bisa bertemu dengan orang korea yang satu kuliah dengan onew, bias abadinya. Leader boyband bernama SHINee.

“hey..be ready..the annoucement tells us to come in waiting room sooner”

Ucapan lee membuyarkan lamunan faza. Bergegas faza memasukkan tabletnya ke dalam tas ransel merahnya. Tak lupa dengan kartu nama lee,dimasukkannya ke dalam saku coatnya. Berdua mereka segera masuk ke dalam antrian penumpang yang hendak masuk ke ruang tunggu.

“don’t forget to take out your passport. They will check it now” ucap lee membantu. Mungkin karena dia bisa memahami bahwa faza belum terbiasa dengan alur ini.

Faza bergegas mengambil sesuatu dari ranselnya. Antrian penuh orang-orang dengan penerbangan yang sama membuat usaha faza menjadi sedikit kesulitan. Dicobanya untuk merogoh bagian dalam ransel. Sebuah paspor hijau dan selembar print tiket online ada di sana. Diambilnya segera benda tersebut, dan tanpa pikir panjang  dimasukkannya ke dalam saku coatnya. Tanpa di sadari, berbarengan dengan itu, sebuah benda terjatuh ke luar sakunya.

Faza terpisah beberapa orang dari kenalan barunya yang bernama lee itu.

...

Di dalam pesawat flight KL-Incheon..

Faza tak bisa terlelap tidur. Suhu tubuhnya terasa berbeda. Entah karena ini pertama kalinya dia berada dalam pesawat dengan ketinggian yang berbeda jauh dari penerbangan domestik biasanya, atau mungkin karena kekurangan cairan akibat faza lupa untuk menegak habis minum sebelum pesawat take off. Penerbangan international melakukan pembatasan bawaan cairan ke dalam kabin pesawat.

Faza mencoba mengatur pernafasannya. Perasaan tak enak itu masih terasa. Dicobanya dibayangkannya visualisasi-visualisasi yang indah. Entah mengapa..untuk pertama kalinya, faza menyadari bahwa pesawat ini terasa berjalan sangat lambat.

Faza benar-benar ingin segera jam 9 pagi tiba. Waktu di mana pesawat rute KLIA-Incheon International Airport dijadwalkan akan mendarat.

...


Selasa, 18 Juni 2013

Summer in Incheon (Episode 1)

0 komentar





Faza melipat dress dan beberapa peralatan dasar ke dalam koper yang sudah gembung dengan barang bawaanya.Kalau tidak karena saran dinta,tentu koper itu sudah dari beberapa jam yang lalu memuntahkan isinya.

“lo yakin mau backpacker ke korea bareng dia ??” dinta bertanya penuh selidik.Mengambil posisi duduk di sebelah faza yang masih sibuk dengan kerjaan yang sama sejak dua jam yang lalu.

“Menurut lo ?? yaiyalah..kalau gw gag serius..gag bakal ada ini” faza mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel mininya. Tiket pesawat jakarta-KL-incheon.

“faza...faza...gw gag habis pikir sama lo.mau-maunya lo backpackeran sama orang yang...bukan muhrim lo” dinta geleng-geleng kepala. Sebagai sahabat sejak masuk kuliah,dinta yakin banget kalau faza bukan tipikal easy woman yang dengan gampang kena jerat cowok yang punya niatan gag bener.Meskipun secara tampilan, faza gag sereligius anak kost-an yang laen.

“mana lo gag kenal sama sekali sama dia lagi ?!...mm..maksud gw,lo gag pernah blas sama sekali ketemu dia dalam kehidupan nyata.Cuma lewat fb trus...lo...” dinta kehabisan kata-kata. Sudah seminggu terhitung sejak faza mengutarakan niatnya untuk melakukan trip dengan seseorang bernama..

“tenang aja dint.emang gw kimchil-kimchil yang gitu mudah kepincut sama orang yang gag jelas asal muasalnya ??Nih ya,si  jepang ini,udah gw dapetin semua datanya. Kuliah dimana, tinggal di mana,teman-temannya siapa aja.yaa...meskipun di real life, kita gag pernah..”

“Kopi darat ??” cerocos dinta.disertai dengan anggukan mantap dari faza.

Dinta masih aja sama gusarnya. Bahkan di H-1 keberangkatan faza seperti ini.Kegelisahannya makin menjadi-menjadi.

“Dint..kalau aku pengen macem-macem sama nih orang,...gag perlu sampe jauh-jauh ke korea” ucap faza pelan.menggenggam erat tangan sahabatnya.Memberi keyakinan bahwa dirinya akan kembali dengan baik-baik saja.

“Please lo jujur ke gw za,lo gini...bukan karena dimaz kan ?”

...

Terminal 3 Keberangkatan Luar Negeri,Soekarno-Hatta The International Airport,Indonesia

“paspor lo ?tiket ?Hape ? gag ada yang ketinggalan kan ?” tanya dinta nyerocos.Memastikan bahwa 
kebiasaan sahabatnya yang teledor ini gag kumat lagi.

“Beres....semuanya udah masuk ke sini kok” tunjuk faza pada ransel mini merahnya.

“Nih,habisin minumannya.Gag boleh bawa cairan ke dalam pesawat lhoo...”

Tanpa pikir panjang,faza menenggak habis minuman air mineralnya.Setidaknya,meskipun hal ini berkemungkinan menyebabkan beser,seenggaknya faza gag susah-susah mecahin won (mata uang korea) hanya untuk sebotol kecil air mineral.Perjalanan dua jam menuju KLIA (Kuala Lumpur International Airport) tentu bukan perjalanan yang singkat.

“Bakal gempor nih pantat gw duduk di hot seat,benar-benar hot seat” gerutu faza.

“yaa..namanya juga backpacker.Mesti siap dengan kemungkinan terburuk sama sekali dong.Sayang banget ya za,gw gag bisa ikut bareng lo.Padahal gw pengen banget ke sana.Impian gw sejak SMA coba”

Faza tertawa ringan.

“Udaaahhhh...kamu fokus sama hari besarmu.Lagian kalau lo ikut bareng gw,yang ada lo jadi obat nyamuk gw lagi.Hahahaa..”

“Dasar...modus lo,za” timpal dinta.

“dint, sorry ya..gw gag bisa datang ke acara tunangan lo” faza memeluk erat dinta.Minggu depan adalah hari specialnya seorang Dinta. Sementara,kepergian selama sebulan ke korea tentu membuat faza gag bisa hadir di hari tersebut.Tapi sepenuh hati,faza janji ke dirinya sendiri kalau dia akan datang di hari pernikahan Dinta.Apapun yang terjadi.

“gag apa-apa..lo jaga diri di korea.Jangan kepincut sama cowok-cowok sana.Susah buat di ajak ke indo.Mendingan lo samaaaaa....”

“Apaan sih,dint.Udah deh..jangan mulai-mulai lagi.”jawab faza setengah gusar.

Keduanya tertawa bersama.Berbarengan dengan teriakan dari petugas imigrasi yang memanggil semua penumpang pesawat tujuan malaysia yang akan berangkat sebentar lagi. Penerbangan malam adalah penerbangan favorit faza. Setidaknya, seberapa lama waktu tempuhnya,faza bisa menghabiskan tidurnya di dalam pesawat.

“Jangan lupa ngabarin gw kalau lo udah nyampe korsel.Dan...salam ya buat...”

“Iaaa...tar gw salamin.Hahaha...”
...

Faza memandan ke arah luar kaca jendela pesawat. Hitam gelap di sana. Pikirannya tertuju pada kondisi gelap langit. Dalam hitungan beberapa jam,sebuah petualangan baru akan dimulai.

Korsel adalah pemberhentian pertamanya.Satu bulan tentu bukan waktu yang lama ataupun singkat. Diam-diam sebuah nama dituliskannya di kaca jendela pesawat.Nama dari sesorang yang akan ditemuinya begitu mendarat di Incheon International Airport.


Membayangkan ini,setengah beban dan kekhawatirannya sedikit terangkatt.

Senin, 10 Juni 2013

Faza & Jojo

0 komentar




“kenapa sih kamu gag mau ngomong langsung ke aku ?”

 faza menekan sebelah tangannya ke arah bahu  jojo,merendahkan tone suaranya agar tak ada yang mencoba menerka bahwa saat ini ada pertengkaran sengit di antara mereka.


“za,dengerin penjelasan aku dulu.Aku gag bermaksud buat menutupi semua ini dari kamu !” 

Jojo berusaha untuk tak gegabah menjelaskan semua hal yang menjadi akar permasalahan tersulutnya kemarahan faza.

Faza melepaskan tangannya,membuang wajahnya ke sisi kanan,untuk kemudian lantas beralih kembali memandangi jojo,sahabatnya.

“Jo, kita sahabatan gag Cuma sehari dua hari. Kita udah tau sama tau. Pertimbangan apa lagi yang bikin kamu jadi gag jujur ke aku,huh ?”

Jojo mengambil nafas dalam.

“Masa aku tau ini dari orang lain ?? Kamu jo sahabatku,kamu orang pertama yang aku percaya melebihi siapapun,bahkan orang tuaku”

Faza mengambil jeda,mengumpulkan segenap kemarahan yang memuncak, yang ia sendiri takut akan berakhir hujan di pelupuk matanya.

“ka...kamu bukan Cuma sekedar sahabat bagi aku jo,..lebih..lebih dari itu”

Sayang ketakutannya pada akhirnya berubah menjadi kenyataan,faza mendekap erat jojo,satu-satunya lelaki yang ada dalam hidupnya. Tangisnya berhamburan. Ada sesak di dalam hatinya.Ia tau akan berakhir seperti apa cerita ini.

“a..aku odha,za..”
....

Faza merapikan selimut yang ada di atas ranjang paviliun kemuning no 5. Kantuk masih terlihat di wajah sayunya. Semalaman faza tidak tidur.Begitu menyelesaikan jadwal manggung terakhirnya di sebuah kafe,bergegas ia melaju rumah sakit tempat di mana jojo berada dalam kurun waktu satu minggu ini.

“lho,kamu masih di sini za ?” tiba-tiba jojo muncul dari arah belakang,tak jauh dari pintu masuk. Faza bergegas menuju jojo yang tampak kesulitan dengan kursi rodanya. Faza membantu mendorong kursi roda yang menjadi tumpuan pergerakan sahabatnya.

“gimana hasil check upnya ?” tanya faza,dan lantas membopong jojo untuk kembali berbaring di atas ranjangnya.

Jojo tersenyum simpul. “ini “ ucapnya menunjuk pada tempat tidur putih dengan slang infus di samping kirinya. “harus bed rest” lanjutnya pelan.

Faza menatap jojo iba, “mau aku ambilin makan gag ? aku bawa makanan kesukaan kamu lho” tanya faza berbinar. “bentar ya,aku ambilin”

Buru-buru ditahannya langkah faza, “gag usah za.aku belum laper.simpan di kulkas aja makanannya.Makasih banyak”

Faza menarik nafas dalam,dan lantas mengangguk pelan.

“kamu gag ke kampus hari ini ? gag ada bimbingan ?” tanya jojo pelan.

Faza menggeleng, “dosennya lagi ke luar kota..seminggu ini”

“gapapa za...seenggaknya kamu udah berusaha. Keep fighting ya,lambat laun dalam waktu dekat ini aku yakin kamu bakal pake baju kebesaran itu..Toga”

Faza menarik kedua ujung bibirnya. “aku mau...kamu,kamu yang dateng ke wisudaan aku,jo” ucap faza tersendat. Suaranya melemah.

“pasti...aku pasti bakal dateng..buat kamu” jojo melebarkan kedua telapak tangannya,dan lantas di sambut oleh faza.

“kamu harus yakin sama kemampuan kamu. Kamu lama kuliah, bukan berarti kamu bego.Bagi aku, kamu mahasiswa terpintar yang pernah aku kenal di arsi” Faza tertawa pelan.

“kamu juga harus kuat ”
...

“Eh...faza ??” sebuah suara membuyarkan lamunan faza.

“eh..anggi.lama gag ketemu”

“kamu...kamu nerusin S2  di sini ?” tanya anggi to the point.

Faza menggeleng pelan.

“oo...mau ngambil legalizir ijazah ya ?” tanya wanita berkerudung ini, teman satu jurusan di arsitektur yang udah lama gag ketemu.

“mm..mau ketemu dosen,gi.buat ini “ jawab faza nanar,sembari menunjuk sebuah bundelan kertas berjilid yang tak lain adalah dokumen skripsi yang menunggu direvisi untuk kesekian kalinya.

“oooo...” ujar anggi pelan.

“kamu apa kabar ?” tanya faza gantian kali ini.

“kabar aku baik, za.Aku sama suamiku sekarang pindah ke sini”

“oo..kamu udah nikah ?? kapan ?kok gag ngasih tau”

“awal tahun yang lalu,za. Sebenarnya aku mau kirim undangan ke kamu waktu itu,tapi anak-anak seangkatan gag pada tau nomer kamu,jadinya..aduh aku jadi gag enak,”

“eii...gapapa,gi.Aku turut bahagia denger kabar ini”

“kamu kapan nyusul ?”

Faza tertawa, “aku masih jauh gi, masih lama banget. Mesti kelarin yang satu ini, trus kerja, trus..travelling dulu deh”

Anggi ikutan tertawa, “gapapa za,santai aja. Nikmatin dulu masa muda. Gag kayak aku gini, pacaran udah tujuh tahun sejak masuk kuliah,trus lanjut nikah..gag sempat nikmatin masa kesendirian deh”

“di sisi lain,tapi kamu pasti dapetin apa yang gag aku dapetin kok,gi.”

Anggi mengangguk, “eh,kamu masih temenan sama ..siapa anak KU temen dekat kamu itu ?”

Faza langsung menebak siapa yang dimaksud anggi,yang tak lain adalah..

“nah, jonathan !. Mm..aku dapet kabar dari temenku yang juga satu almamater sama dia, katanya..dia kena HIV ya ? kamu gag sering jalan sama dia lagi kan,za ??”

Faza terdiam,

“mending jangan lagi deh za. Kalau gag,kamu bisa ketularan,jangan deket-deket lagi.Kata temenku nih ya, kalau sama orang yang positive HIV-aids itu jangan sampe pegangan tangan,pake toilet yang sama ma mereka, intinya...jaga jarak deh.Temenku aja yang dokter gigi, dia bakal nolak kalau ada pasiennya yang mengidap aids,meskipun udah pake masker sama sarung tangan”

Faza udah gag tahan dengan perasannya, “gi, gag nyangka ya, kamu punya teman paling bego yang pernah aku tau”

“???”

“aku kasih tau ya..aids itu gag pernah akan nular hanya karena jabatan tangan,pake toilet yang sama,atau..temenan sama mereka. Ia,aku memang temenan sama Jonathan,dari dulu sampe sekarang.Emang kenapa ?”

“fa...faza ?ka..kamu gag ketularan kan ?” tanya anggi dengan ekspresi jijik campur ngeri. Dan lantas buru-buru mengusap tangannya.

“Dan paling aku gag nyangka...kamu sama temanmu yang dokter gigi itu ternyata....sama aja ya “

Ucap faza berlalu, mengambil ranselnya, dan lantas berjalan meninggalkan anggi yang masih setengah kaget. Tapi sebelum sampe jauh, faza berbalik..berjalan menuju tempat semula.

“yang bener, gini nih cara aids buat nular” lanjut faza, mengusapkan telapak tangannya pada punggung anggi, yang lantas menimbulkan teriakan ngeri dari anggi.

“Fazaaaaaaaaaaaaa !!!!!!!”

....

“Hahaha.....trus kamu pergi gitu aja ??” jojo terpingkal begitu mendengar cerita,lebih tepatnya curhatan faza siang ini. Ke jojo, faza emang gag bisa bohong.

Faza mengangguk,manyun.

“ya abis mau gimana lagi. Males banget ngadepin orang-orang yang sotoy kayak gitu” cerocosnya lagi.
“za, tolong ambilin tissue yang ada di meja sana “ tunjuk jojo pada sebuah meja yang terdapat dipojok ruangan. Mata faza tiba-tiba tertuju pada balutan perban berwarna bercak merah yang dibalut lagi dengan plastik transparan.

“jo,i..ini, kamu kenapa ??”tanya faza panik.

“gag..gag apa-apa kok..ini,ini Cuma gara-gara habis motong buah tadi pagi.dikit doang kok”

“ke,,,kenapa masih bisa warna merah gitu ?”tanya faza lagi.

“ini...karena lukanya susah kering..biar gag kemana-mana,aku bungkus lagi dengan plastik ini” jojo nyengir.

Faza terdiam ditempatnya.Tubuh jojo makin mengurus, wajahnya pun makin tirus, tak ada lagi sisa-sia tubuh bugar yang kerap membentot senar bass dengan sebegitu apiknya. Ya, dunia musik band beraliran rock,di mana faza sebagai vokalisnya lah yang telah mempersatukan mereka. Dan dari dunia itu pula, jojo mengenal barang haram..cikal bakal dari penyakit yang bersarang ditubuhnya.Buah dari depresi pasca perceraian kedua orang tuanya.Keluarga jojo berantakan setelah ibunya terlibat dalam kasus perselingkuhan dengan sesama anggota dewan.

“za...aku kangen maen musik lagi...” jojo berkata pelan.”kalau aja..di rumah sakit ini ada ruangan kedap suara..pastinya aku gag bakal mati bosan kayak gini” lanjutnya lagi.

Faza terdiam.Sebuah ide tiba-tiba berlarian dalam pikirannya.

“aku pengen kita travelling ke tempat impian kita, museum the beatles...UK”

Faza terdiam.

“aku juga jo, kita pasti bisa jalan-jalan bareng lagi”

...

Dua minggu kemudian..

“coba saudara jelaskan, mengapa anda memilih judul penelitian ini ?”

....

Sinar itu makin jelas.Putih.Bersih.Faza berlarian menyusuri jalanan kota London.Disusul dirinya dari belakang.

“jo,ayo buruan...tar ketinggalan” teriak faza dari kejauhan,tersenyum sumringah melambaikan tangannya.
Faza terlihat sangat cantik dalam balutan dress selutut berwarna putih gading berbalutkan jaket kulit hitam dan kalung berinisialkan “FJ” besar di dadanya. Sepatu boot sebetisnya menjejak conblock jalan, menimbulkan bunyi tukk-tukk berirama.

“tunggu aku za,” teriak jojo bersamaan dengan sebuah bus berwarna merah bertingkat yang tak lain adalah “RED BIG BUS” melintas cepat di samping mereka.

Lampu hijau masih menyala.Namun sedetik kemudian,.

“Faza awasssssss !!!!!!”

....

Degg.Jojo terbangun dari mimpinya.Keringat dingin membasahi dahinya.Ia baru saja bermimpi aneh.Ke London-Faza-dan...

Derap langkah tiba-tiba terdengar dari koridor luar. Beberapa petugas kesehatan berlari membawa tandu pasien.Sepertinya ada pasien gawat darurat masuk hari ini. Seperti biasanya.

Tiba-tiba sebuah langkah buru-buru memasuki ruangan jojo.

“jo...”

“Pa ??”

Papa dan adik semata wayangnya tiba-tiba muncul di pintu masuk.

“fa,.faza kecelakaan...mobilnya tabrakan saat mau menyebrang ke rumah sakit.Di..dia...gag sadarkan diri”

“pa....”

Air matanya berhamburan,mengalir deras dari kedua sudut matanya tanpa terkendali.
...

“aku mau kamu yang datang ke wisudaanku,jo”

“ia,aku pasti datang buat kamu”

“tar kita bisa jalan-jalan bareng lagi”
...

Enam bulan kemudian..

Tanah itu masih berwarna merah. Masih basah,dan sesegar rumput hijau di sekelilingnya.

“Selamat jalan,sahabat.Kita gag nyangka bakal kehilangan dua orang anggota keluarga sekaligus di tahun ini”
Dion, sang drummer sekaligus leader band,memandangi dua pusara di hadapannya. Ia mengambil keranjang bunga, dan lantas menaburkannya di atas tempat peristirahatan terakhir kedua sahabatnya ini. Hari ini Jojo berpulang, setelah berjuang melawan penyakitnya. Pada akhirnya dia menyerah,tepat enam bulan setelah kepergian faza, dan tiga bulan sejak kehadirannya di acara wisuda dirinya yang sebenarnya berbarengan dengan hari wisuda faza. Jojo menepati janjinya. Ia memang benar datang,datang untuk faza.

“kalian sekarang pasti udah tenang di sana. Bisa barengan lagi” lanjut kevin,personel lainnya lagi.

Dari kejauhan dua pasang mata menatap nanar pemandangan di hadapan mata mereka.Keduanya tersenyum dan lantas berangkulan. Perlahan..kedua sosok putih itu melayang pelan ke atas,melambaikan tangannya ke bawah.

Seorang anak kecil yang belum genap satu tahun lantas serta merta menunjuk ke atas.Menunjuk ke arah faza dan jojo yang kini tersenyum bahagia.


..The End..

Selasa, 30 April 2013

Mimpi Besar Ojan

0 komentar








“lo..ojan kan ??”

Sebuah suara tiba-tiba muncul dari samping audzan,yang biasa dipanggil..

“o,siapa ya ?” tanya ojan bingung. Melihat ke arah si pemilik suara yang tak lain adalah chusla, teman lamanya sekaligus..

“masyaallah....Apa kabar bro ?!!” seru wanita yang berambut sebahu.Tapi punya warna yang gag kalah ngejreng dengan outfitnya.Full colour.

“eh..lo, chusla...chuslah islahul kan ??” tanya ojan sumringah.Memamerkan behelnya yang kini telah berganti warna.

“yoi mamen !!!!” teriak chusla yang tanpa tendeng aling-aling bermaksud untuk bersalaman ke ojan.Tapi,
“eitsss bukan muhrim,girl.Haha..becanda.Apa kabar lo sekarang ??” tanya ojan lagi.

Chusla memalingkan mukanya sekilas,menarik nafas singkat.”ya..gini lah,seperti yang lo lihat. Jadi SPG”
Ada kekagetan yang terlihat di raut wajah ojan.

“SPG ?? Produk apaan ?Bukan rokok kan ??” tanya ojan lagi blak-blakan.

“menurut lo ?? ya gag lah.Nih, sekalian gw promosiin” ujar chuslah memberikan selebaran.

“travel & tour ?? wuidih...keren” Ojan mengamati selebaran yang bergambar beberapa landmark terkenal sedunia.Menara Pisa,Twin Tower,Liberty,Big Ben, sampai..

“punya paket ke paris juga ??” tanya ojan antusias.

Chusla menoleh.”ehhh kebetulan..bukannya lo pengen banget ke Paris yakk ??” teriak chuslah. Bergegas ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya.

“satu aja cukup chus,gag usah banyak-banyak..lagian..tabungan gw belum cukup buat ke sini” ujar ojan nelangsa, sembari matanya tak lepas dari puncak menara eiffel,kebanggaan kota impiannya.

“Bukaannnn..nih, karena gw kenal lo banget. Gw mau ngasih cara cepat buat ngewujudin mimpi besar lo itu” Chusla menghitung beberapa lembar selebaran serupa dan lantas memberikannya pada ojan yang setengah tak mengerti.

“masih pengen ke paris kan ??” tanya chusla kilat. Ojan mengangguk.

“tapi belum punya cukup uang kan ??”tanya chusla.”emang susahh..mahal banget ini kota”jawab chusla sergap tanpa sempat memberikan kesempatan pada ojan untuk menjawabnya.

“tapi..ingat bro,nothing’s impossible di dunia ini kecuali satu,ngecilin perutmu itu.haha..gw becanda” tawa chusla,meskipun sebenarnya dia gag lagi becanda.

“nah..cukup dengan lo bagiin brosur-brosur ini.Lo punya kesempatan buat Terbang ke Paris !!” teriak chusla membahana.

“eh serius lo ??”

“duarius !! “

“Gratis ??” tanya ojan lagi.Chusla mengangguk pede.

“wahhh...mimpi apa gw semalam sampai ketemu lo dan...selebaran ini !” teriak ojan mengudara,layaknya habis menangin lotre.

“tuh kan, kurang baik apa coba gw ke lo ?Oke,jadi kapan nih lo mulai nyebarin itu brosur ?” tanya chusla to the point.

“secepatnya..bila perlu pulang ini,langsung tancap gas dah” Ojan begitu bersemangat.

“Tapi ada satu syaratnya”

“apaan ?”

Chusla mengambil buku catatannya yang terlihat lusuh. “kalau belum itu brosur habis,lo gag boleh nyetor atau nemuin gw dulu.Gimana, bersedia ?”

Ojan mikir.Menyebarkan brosur sebanyak ini ? ah..demi paris yang di depan mata,apa sih yang gag ?batin ojan.

Ojan mengangguk yakin.

“oke,deal ya.Sekarang tanggal.....”chusla mengamati layar handphone monoponicnya.”oke..01 april..jadi..tanggal berapa lo target nyelesainnya ?”

Ojan mikir.Mengecek ulang jadwal-jadwalnya yang sudah tersusun bersama wolu,teman satu kontrakannya.
“21 april deh.itung-itung ngerayain hari kartini atas jasa-jasa lo”

“busett lama banget.Tapi okelah,gag apa-apa.Yang penting tuh brosur ludes semua ya”

“beresss..percaya ke gw”

...

Ojan merapikan tali sepatunya yang setengahnya telah menganga dipojok kiri depan.

“mau ke mana lu boy pagi-pagi gini udah rapi jali ??” tanya wolu yang tengah sibuk sarungan, menjemur pakaiannya di depan rumah kontrakan.

“biasaaa..menjemput rejeki” jawab ojan sumringah.Dibetulkannya letak sisiran rambutnya. Kaca spion motor supranya menunjukkan bahwa ojan memang tampak berbeda pagi ini.

“mamen,pinjem semprotan wangi-wangian lo dong”

“tuh ambil aja di dalem kamar gw” toleh wolu sembari tetap fokus memeras cuciannya yang wangi banget habis direndam berjam-jam lamanya dengan cairan pewangi dan pelembut pakaian.

Ojan ngacir ke dalam kamar mamen.

“woyyy buka sepatu lo ! itu buat tempat shalat gw dodol !” teriak mamen begitu tau bahwa ojan masuk ke dalam tanpa melepaskan sepatunya terlebih dahulu.

“ini baru gw cuci minggu lalu,men”teriak ojan di dalam.

“masyaallah ojaaaaannn...ojaan” Wolu geleng-geleng kepala menyaksikan sohib karibnya itu.

Wewangian yang dimaksud tak lain adalah pengharum ruangan yang kerap dipakai wolu.Wolu adalah tipikal cowok pemuja kebersihan.Kontras banget ma sahabatnya.

Ojan berjalan keluar.Matanya tiba-tiba tertuju pada whiteboard yang tergantung di ruang tengah. Tempat wolu menulis plan-plan usaha menjual jerseynya.

Mata ojan tertuju pada gambar menara eiffel,buah karya Yugo,teman mereka yang lain,yang gape banget ngegambar.Padahal backgroundnya bukan anak arsi ataupun DKV.

“Paris...wait me, i’m coming” ucap ojan khusyu’.Dan lantas melangkah dengan pasti keluar.

“gw cabut mamen ! doa’in gw berhasil !” teriak ojan sembari mengengkol motornya,dan melaju keluar gang.

...

Ternyata menyebar brosur tak semudah yang dibayangkan. Tak semua orang-orang yang lalu lalang mau menerima brosur yang disebar ojan. Padahal itu gratis. Ojan gag habis pikir,apa dia terlihat seperti sales yang ngotot biar penerima brosur membeli barangnya.

“lagi nyebar selebaran mas ?”tanya seorang mbak-mbak yang tengah mangkal menjajakan nasi uduknya.

Menurut lo ?? batin ojan dalam hati.Ojan lantas mengangguk singkat.

“brosur opo tho mas ?? “

Terik siang panas kala itu cukup membuat tenaganya terkuras.

“ada es teh gag mbak ?”tanya ojan balik. Ojan melangkah menuju bawah pohon tempat jualan mbak-mbak yang menegurnya.

“pesan satu ya” ujarnya lagi.

“oalah...brosur trapel thoo...”ujar mbak-mbak begitu melihat dengan jelas selebaran yang dipegang ojan.
Ojan mengangguk.

“sekarang toh ya mas,emang susah cari kerjaa..Banyak banget sarjana-sarjana.Wong kebanyakan merekaaa..ya ujung-ujungnya kayak sampeyan gini. Wes aku ngerti, ngerti gimana rasanya jadi sampeyan”
Mbak-mbak itu terus meracik es teh, sembari tangannya terlatih menakar gula-mengambil es batu dan menuangkan air dari termos.

“iki”

Ojan mengambil segelas es teh yang disodorkan mbak-mbak tersebut.

“kalau di sini..memang orang-orangnya pada sibuk semua ya mbak ?kok dari tadi saya mau ngasih brosur,kebanyakan nolak”tanya ojan akhirnya.

“ooo....” mbak-mbak itu mengipas-ngipaskan dagangannya dengan selembar koran yang dilipat empat.

“emang koyo gini kok mas.Sing sabar kalau nyebar brosur gini.Biasanyaa..yang sering mangkal di sini,nyebar brosur juga, pasti gag balik lagi besok. Wes aku ndak ngerti ngopo nyerah”

Mendengar kata-kata terakhir, entah mengapa ojan merasa tersentak. Menyerah ? Kata-kata yang sering terlintas di benaknya tatkala bayangan menara eiffel menari-nari dalam benaknya.

“Zaman susah.Cari kerja susah.Wong cilik kayak kita emang gag berhak punya cita-cita gede.Nrimo wae lah”

Ujar mbak-mbak itu lagi.

“saya tuh ya mas..kepingiiiiiiinnn..banget balik kampung.Enak.Adem.Bisa nanam.tapi py lagi..malu.malu sama tetangga.Dikira aku wong sukses kerja rene”

Curhat mbaknya itu lagi.

“emang mbak udah berapa lama tinggal di sini ?”

“pitu..eh salah..wolu, wes wolu aku neng kene”

Ojan kaget. Hatinya geli.Setiap mendengar kata “wolu” yang berarti angka “delapan”,pikirannya pasti langsung tertuju ke sohibnya itu.

“delapan itu angka kesejahteraan mamen...harapan bapak sama si mbok, pengennya gw jadi wong sugih” jelas wolu ketika suatu waktu seseorang bertanya kenapa namanya “wolu”.

“tapi mas..kalau lagi susah ,lagi usaha gini..sing terpenting..mesti sedekah..Ra’ popo kecil..Gusti Allah tau kemampuan kita”

Dleg.Ojan kaget.

“mbaknyaaa....maaf...ngasih juga ?”tanya ojan hati-hati.

“hmmmm...ngece...” jawab mbaknya sembari mendelik ke arah ojan.

“hahaha...becanda kok mbak.Justru saya salut..orang kayak mbak, tapi masih ingat”

Ojan menatap ke langit yang kini mulai teduh.Entah mengapa cuaca seperti mewakili perasaannya sekarang.Setelah menghabiskan es teh dan membayar dengan uang 2000 lusuh. Ojan bergegas melangkah ke arah sepeda motor yang terparkir di belakang halte bus.

“lho..mau ke mana mas ?wes rampung ?” tanya mbaknya.

“ngambil brosur mbak,mau tak tambahin” jawab ojan sumringah.




...Bersambung Gan...



Ost For "Mimpi Besar Ojan"





Senin, 29 April 2013

Sunset Pantai Haeundae

0 komentar




“Ya ! Kwon Ji Yong !!”

Sebuah suara menggelegar,membahana seantero ruangan kelas.

“Kapan sih kamu  berhenti gag berbuat ulah di sekolah ini ??”

Yang diajak bicara hanya terdiam tertunduk.Matanya menatap lantai ruang guru yang licin baru saja dibersihkan.Jam di dinding  menunjukkan pukul 9 pagi.Kelas baru dimulai beberapa menit yang lalu.

“kamu lihat dan baca ini”

Seorang guru muda,melemparkan sebuah koran lokal bertajuk “Kenakalan Remaja : Tawuran”.Dengan ogah-ogahan, GD mengambil koran  lokal bernama “Busan Daily News” itu.Alih-alih membacanya, dia hanya bergerak pada kolom iklan di pojok kiri headline.Bukan karena malas membacanya,lebih karena pagi tadi appa sudah memperlihatkannya terlebih dahulu.Berbarengan dengan gebrakan meja makan di saat waktu sarapan pagi berlangsung.

“aisss....kau mau jadi apa nanti kalau terus-terusan membuat keonaran,huh ??”

Guru muda yang bernama Miss.Han Ji Eun itu mengambil sesuatu dari balik meja kerjanya.GD mengamati langkahnya.Dia sudah siap dengan segala hal yang terjadi.Termasuk kena pukulan rotan maha-dahsyat miss.Han yang terkenal seantero satu sekolahan itu.

“ini..pulanglah”

Miss.Han meletakkan sebuah amplop cokelat di atas tumpukan buku pelajaran.

“Kau di-skors selama satu bulan”

“mwo sonsaengnim ??!”

...

“kamu sekarang di mana sall ?”

“lagi di stadion.habis latihan.sorry baru bisa angkat telpon.kenapa ?”

“bisa temenin aku sekarang ?”

“oo..sekarang kamu di mana ?”

...

Sally mengelap keringatnya yang masih mengucur sehabis latihan sebelum pertandingan kejuaran taekwondo besok di jepang.

“berarti kalian jadi berangkat besok sore ?” tanya GD,meremas botol air mineral yang dibelinya dari kantin sekolah,sesaat sebelum beranjak berpindah ke pantai Haeundae.

Angin laut pantai terasa menyejukkan. Ombak yang tak begitu tinggi dan besar,menjadi melody yang menenangkan.Pantai ini sudah menjadi semacam basecamp bagi mereka.Berdua.

Sally mengangguk.”gag kerasa ya,cepet banget.Mudah-mudahan..latihan selama ini gag sia-sia” Sally mengatupkan kedua telapak tangan,dan memejamkan matanya.

“kamu gag bikin surat di botol lagi sekarang?” tanya GD.”nih”menyerahkan botol kosong satu lagi yang sudah keduluan isinya habis.

Sally mengamati pemberian GD,dan kemudian menggeleng pelan.

“gag ah.bosen.Sekarang giliran kamu yang ngelakuin.Ayo,write your wishes” ucapnya mengeluarkan pulpen dan kertas dari dalam ranselnya.

GD membuang tatapannya ke laut lepas.

“ngapain ?? kalau gag tau apa lagi yang mesti diharapkan..ngapain aku bikin keinginan” ucap GD lirih.
“ka..kamu gag lagi kenapa-kenapa kan ?” tanya Sally bingung. GD menatap hamparan pasir pantai.Beranjak bangkit dari tempat duduknya semula.Berjalan menuju garis pantai.

Dari jauh sally mengamati punggung GD yang terus berjalan menuju garis pantai,melewati..dan menceburkan dirinya ke air laut.

“Aku di Skors !!!!!” teriak GD dari kejauhan.

“mwo ???”

“wohoooooo !!!” teriaknya lagi.Semakin membenamkan dirinya ke air laut.Seragam sekolah basah total.Berenang adalah “me time”nya GD dan..

“aku nyusul !!!” teriak sally,sembari bergegas membuka sepatunya,untuk kemudia berlari menyusul GD.

...

Sally mengelap rambutnya yang masih basah. Sejak 30 menit yang lalu, dia tiba di rumah.Omma sudah memasak samgyeoptang favoritnya.

“sally..siganeun mogoya” teriak omma dari bawah.

“Ne ,chankanmanyo” jawabnya lagi.

Sally bergegas merapikan barang-barang bawaannya ke dalam koper merah maroonya. Matanya tiba –tiba tertuju pada deretan foto yang tertempel di dinding kamar tidurnya.Foto yang berjumlah puluhan.

....Ya ! Kwon Ji Yong,kau nakal sekali.Ommaaaaaa dia menarik kucir rambutkuuu...

...Aku & sahabatku,GD.Seragam pertama kami di bangku sekolah menengah pertama.Aku berhasil memotong rambut panjangku akhirnya..

...Hadiah Valentine pertama yang diterima GD.Dari Han A-sya.Anak kelas sebelah yang luar biasa cantiknya TT..

...Aku,GD, dan satu sahabat baru kami lagi.Chicco..anjing yang kami temukan dalam perjalanan pulang les..

...Hari Kelulusan.Tapi kami tetap gembira, karena berjanji akan berada di satu sekolah yang sama.GD tak jadi pindah ke Seoul..

Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah foto.Foto yang belum ada caption-nya. Sally mengambil foto itu,melepaskannya dari tembok.

Matanya nanar.Sudah sejak lama dari hari terakhir tersebut terjadi.Sally berharap hal ini tak akan pernah terjadi lagi.

“ya,kim sally !!! mogo paliwaaa” teriak ommanya dari arah bawah,membuat sally bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan ikut bergabung di meja makan bersama omma dan kedua adik-adiknya.

...

Ruang Tunggu Keberangkatan Internasional, Incheon International Airport

“Oke,sebentar lagi kita masuk ke ruang check-in.Siapkan paspor dan tiket kalian semua”

Suara coach Jong kook membahana di antara belasan atlit perwakilan korea selatan yang akan berlaga di kejuaran taekwondo tingkat regional asia.

“Kim Sally..”

“ne ?”

“ada yang nyari kamu.tuh “tunjuk Lee Myongsoo,kapten team ke arah pintu masuk.

“GD !!!!” Sally melambaikan tangannya ke araj GD. Bergegas GD menghampiri sahabatnya itu.

GD tiba dengan ngos-ngosan.Nafasnya memburu.Perjalanan busan-incheon merupakan perjalanan tersingkatnya.

“aa...aku ingin mengucapkan sesuatu kepadamu”

“eii....ucapan selamat tinggal ? Minggu depan kita pasti bakal ketemu lagi”

GD menunduk.”mm...benar.aku ingin ...mengucapkan selamat tinggal padamu”

Sally terdiam.Berharap apa yang didengarnya barusan adalah sebuah kekeliruan indera pendengaran.

“Nanti malam aku akan berangkat ke London.A...aku pindah sekolah”

“be....be..kau tidak sedang bercanda kan ?”

GD menggeleng pelan. “Ayah mengirimkanku ke luar, untuk tinggal bersama pamanku di sana.A...appa sudah mengetahui kalau aku diskors”

GD bergegas memeluk sally. Sally terdiam,tak mampu berkata-kata apa lagi.

“Ya, kim sally , sebentar lagi kita akan check ini.Bersiaplah”panggil seorang anak perempuan lagi.

“A..aku minta maaf jika pernah membuatmu..kecewa” GD semakin memeluk erat sally.Sekuat tenaga sally mencoba agar air itu tidak tumpah.Dia menarik nafas dalam-dalam.Membalas pelukan erat seseorang yang telah menjadi sahabatnya sejak lahir.

“gag apa-apa..itu mungkin yang terbaik buat kamu.Masa depanmu ada di sana,Kwon...Ji yong”

GD melepaskan pelukannya. Menatap sally yang hanya bisa menunduk.

“Kau..kau sahabat terbaikku”



...

Satu tahun yang lalu,Pantai Haeundae,Busan

“kau sudah janjian dengan Ji Yong sebelumnya di sini ?”tanya Han A-sya pada sally yang tengah memegang kotak berwarna pink.

Sally mengangguk tak yakin.Tapi sudah kepalang A-sya tau.

“sall...aku mau jujur sesuatu ke kamu..”

“ige mwoya ?”tanya sally menoleh pada A-sya yang tertunduk.

“eiiii...marhaebwaaaa..”ucapnya sekali lagi pada A-sya.

“se...sebenarnya....tigar hari yang lalu..aku sudah nembak Ji Yong lagi...dan...”

Sally terdiam.”hasilnya..?”tanyanya pelan.

A-sya tersenyum.”Kali ini Ji Yong menerimaku !!!!” teriaknya,refleks segera memeluk erat sally. Sally terdiam di tempat.

“makasih sall..berkat kamu..aku..aku jadi punya keberanian lagi untuk nembak sahabatmu itu untuk kedua kalinya.Makasih,,makasih karena kamu udah ngasih tau semua hal tentang Ji Yong.Kamu memang sahabat terbaiknya “

Sally tak mampu berkata-kata apalagi.Mulutnya terkatup rapat.Kado-rencana-pantai haeundae..

“sebagai balasan kebaikan kamu.Aku udah bikin surprise party buat kita be3 di sini..Tuh aku udah menyiapkan semuanya di dalam mobil”

Sally terdiam lagi. Dilihatnya kotak kado yang tengah dipegangnya. Apa yang menjadi isi di dalamnya,serta merta merta membuat sally berpikir ulang untuk melakukan rencananya kali ini.

“a....aku minta maaf,sya.Aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengan pelatih kim.Kami...kami ada latihan dadakan” ucap sally sembari beranjak dari tempak duduknya di atas pasir pantau Haeundae..

“jadi..kau tidak bisa ikut merayakan hari ulang tahun Ji yong sekarang ?”

Sally menggeleng.”sampai...sampaikan ucapan selamat ulang tahun untuknya...ha....happy birthday..dan....se...lamat,selamat untuk hubungan kalian”

Sally beranjak melangkah menjauh.Dia berbalik arah,membalikkan badannya menjauh dari pandangan Han A-sya yang terdiam tak mengerti.

“Sa...sallly !!!”

Panggil Han A-sya. Sally melambaikan tangannya tanpa sempat membalikkan badannya.

Tangisnya mengucur dari kedua sudut matanya. Ia jelas telah kalah start.



..The End..




Banpo Bridge

0 komentar




“kamu lagi ngapain sih ??”

Sebuah suara hampir membuat jantung willy berdetak kencang. Pemiliki suara itu tak lain adalah..

“Tiff ?? Please..berapa kali harus kukatakan, kalau mau masuk,..knock the door “ ulang willy, membuat tiffany yang tak lain adalah sahabat merangkap mantan terdiam di tempat.

“oh come on buddy..gag mesti kan setiap ke sini mesti ngetuk itu freaking door” jelas tiffany dengan aksen american girlnya.

Tiffany mengambil posisi di sebelah willy yang tampak tergesa-gesa menutup layar notebooknya.

“ih...ada apa sih ? Pasti ada yang lagi kamu sembunyiin ya ?? “ tiffany menatap penuh selidik ke arah willy yang sedang berusaha untuk menghindari tatapan pengen-tahu-banget tersebut.

“well...ada saatnya aku bakal ngasih tau kamu.tapi gag sekarang,ngerti ?”

Willy mendorong tiffany menjauh ke arah pintu kamar tidurnya. Yang didorong merasa gag terima ,lantas mengeluarkan sebuah amunisi balasan.

“oke...gag apa-apa sih nyuruh aku keluar dari kamar ini, yang jelaaasss....sayang banget kalau kamu melepaskan kesempatan...emas ini !” Tiffany mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.

“will..tujuan aku ke sini bukan Cuma buat kepo-in kamu doang.Males banget kalau harus jadi secret stalker kamu.Nih..” Tiffany memindahkan sebuah kertas yang tak lain adalah invitation card ke tangan willy.

Willy mengamati kertas berwarna soft pink itu.

“Sabtu malem,gag boleh gag datang,ultahnya hyuna.Kalau kamu gag nongol,aku gag yakin kamu bakal dapat kesempatan kayak gini lagi apa gag.oke ?”

Tiffany melenggang keluar meninggalkan willy yang masih  setengah tidak percaya.

...

“cari apaan sih hyun ...Bakalan datang kok.Udah ..keep calm and stay here,girl”

Tiffany menepuk pundak hyuna yang malam ini tampak glow dengan tubedress merah menyalanya. Senada dengan lipstick merah terang favorite,signature make upnya seorang Kim Hyuna. Ketua eskul dance di Seoul International High School.

“kamu beneran kan udah ngasih undangan itu ke willy ??” tanya hyuna,memastikan bahwa pesta ultahnya kali ini gag bakalan berakhir dengan sia-sia.

“Mission Completed” ujar Tiffany sembari menyatukan jempol dan telunjuknya.”Tuh orangnya datang” lanjutnya menunjuk pada sekawanan laki-laki yang kehadirannya diikuti teriakan “wohooo” dari seluruh penjuru ruangan yang telah disulap jadi mini private ballroom.

Melihat prince charmingnya datang,serta merta Hyuna tampak sumringah. Bahkan mengalahkan kilauan dance ball di tengah ruangan.

“Hi will...” sapa Hyuna kagok. Akhirnya setelah sekian lama, sosok yang selama ini Cuma bisa di lihatnya dari selebaran daftar siswa paling berprestasi seantero sekolahan favorit di kota seoul. Hyuna memang populer,plus tajir.Tapi kepopulerannya beda “dunia” dan “kasta” dengan Choi Willy, kandidat kuat ketua osis periode tahun ajaran baru ini.

“Happy birthday,hyun” ucap willy, gag kalah kagok,sembari menyerahkan satu buah kotak berwarna pink-warna favoritnya hyuna,sebagai kado ultah.

“Thanks bangeetttt...”hyuna buru-buru bergerak dekat mendekat ke arah willy, tapi tak disangka dari arah berlawanan.

“dasar,brengsek !”

Brukk.sebuah kepalan tangan mendarat tepat di pipi sebelah kiri willy.membuat tubuhnya oleng.
Serta merta dentuman musik dance yang menghentak dari tangan DJ tiba-tiba berganti menjadi keriuhan jerit histeris.

“Omo !! Fathur !! Mwo....what have you done to my party ??” jerit Hyuna histeris.

“Kamu gag usah ngomong.Tetap di situ Hyun, kalau kamu gag pengen celaka” tunjuk fathur ke arah Hyuna yang sangat panik.

Willy bangkit dari olengnya.

“what’s problem ,bro ??”tantangnya pada fathur..yang begitu didekati..bau alkohol menyengat ke udara. Nih orang mabok..batin willy.

“Aku memang gag punya hubungan sama kamu.Tapi aku..punya urusan sama dia” tunjuknya sekali lagi pada Hyuna.Membuat Hyuna makin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Hey..aku datang ke sini,karena Cuma pengen pesta.that’s it.Gag pake berantem” Willy dengan berani maju beberapa langkah mendekati Fathur.Ditahannya indera penciumannya untuk beberapa saat.Bau alkohol semakin menyengat.He’s not okay enough sama bau-bauan setajam alkohol.

“Aku..pengen nunjukin ke dia...Kalau dia udah salah ninggalin aku buat...pecundang kayak kamu” tunjukknya tepat mendarat di bahu sebelah kiri willy.Willy melirik sengit ke arah tersebut.

Please..jangan maksa aku buat mulai duluan..batin willy.

“Takut ? atau Jaim karena di depan Hyuna ??” teriak fathur,tanpa melepaskan telunjuknya.

“Please..jauhkan jari kotormu itu dari jasku”

“Shit ! Bajingan !”

Bukk.sebuah pukulan bergerak secepat kilat menuju arah yang sama seperti sebelumnya. Dengan sigap,background sabuk hitam-nya,willy menangkis serangan yang memang sudah diprediksikan sebelumnya. 

Urat nadinya menegang.

“Sudah aku bilang...jangan maksa aku buat mulai duluan.Kayak gini akibatnya.Tau rasa kamu”

Willy mengubah serangan fathur menjadi umpan balik untuk menyerang lawannya itu. Fathur terjerembab ke lantai yang semula adalah dance floor. Tak kalah sigap, fathur bangkit.Membalas serangan balik willy dengan satu buah tendangan. Willy terdorong ke belakang beberapa langkah.

“Gitu doang ,heh ??” tanya fathur dengan seringai dinginnya.

Willy menahan amarahnya.Ditahannya untuk tidak melakukan sesuatu yag sudah menjadi komitmennya sejak tergabung dalam eskul karate sekolah.

“Ini...ini Hyun ,yang kamu bela selama ini sampai..sampai kamu ninggalin aku ???” teriak fathur,berjalan menuju ke arah Hyuna yang kini terlihat ketakutan.Sudut matanya berair.Bukan sedih,ataupun kasihan..tapi ngeri.Ngeri dengan apa yang dilihatnya saat ini.Bayangan meriahnya pesta ulang tahun berubah layaknya party horor hallowen.

“Mau kamu apaaaaaaaa....??” teriaknya pelan.”udah cukup...please thur, gag usah ganggu aku lagi...” Hyuna terisak. Ia terduduk bersimpuh ke lantai. Di sisi lain, fathur adalah guardian angelnya selama ini, tapi di sisi sekarang..ia tak lebih seperti demon dengan tanduk merah menyala.

“udah cukup,udah habis kesabaranku...rasakan ini”

Brakkkk!!!!!

Bunyi meja ambruk.Terbelah dua.Beberapa botol minuman jatuh berserakan pecah di lantai.Semua tamu undangan terdiam untuk beberapa saat.Menyaksikan pemandangan mengerikan di depan mata mereka.

“Fa....Fathur !!!!!!!!!!!!!!!!!”

.....

Tiga jam kemudian...

“aduh..sakit.Udah udah..”

“kamu tuh ya..udah tau kayak gitu beresiko,masih aja nekat melakukannya”

Tiffany melepaskan usapan kapas steril yang tadi menyentuh pelipis fathur yang lebam akibat pertarungan sengitnya beberapa jam yang lalu.

Fathur tersenyum.Menatap sesosok wanita yang menemaninya sejak dua setengah jam yang lalu.”Untung aja hapeku gag kenapa-kenapa.Kalau ia,wah bakal susah buat koordinasi ke kamu”

Tiffany menatap iba pada Fathur. Beruntung besok hari minggu,setidaknya ia punya waktu untuk berada di luar dini hari seperti ini.

“Baru kali ini lho aku lihat air mancur jembatan banpo indah banget”

Tiffany memperhatikan arah pandangan fathur.”thur..”

“hm ?”

Tiffany melepaskan syal toscanya,untuk kemudian melilitkannya ke leher laki-laki yang kini tampak lebam di wajahnya.Tidak keruan lagi bentuknya.

“Terima kasih banyak sudah melakukan ini buat aku...”ujar Tiffany lirih.Ia tak sanggup bertatapan mata dengan Fathur. Matanya pasti akan sama perihnya.

Fathur tersenyum singkat.”ini bukan buat kamu kok..”

Tiffany serta merta bingung.

“Kalaupun kamu merasa apa yang kulakukan tadi itu bisa membantumu..aku merasa senang.Baik Hyuna ataupun willy,mereka pantas mendapatkan itu semua.Semua orang harus tau siapa mereka aslinya”

Tiffany terdiam.Ia tak mampu berkata apa lagi.

“sekalipun itu membahayakan kamu ?”tanyanya akhirnya.

Fathur kembali tersenyum pendek.”apa gunanya sejak sd aku ikut taekwondo kalau gag bisa bertahan dari serangan...serigala semacam willy itu”

Baik tiffany maupun fathur,keduanya  sama-sama tergelak.

“gimana, sakit hatimu udah terbalaskan ?”tanya fathur pada Tiffany. Tiffany mengangguk.

“hhhhhh...gag nyangka kalau akhirnya aku bakal ketemu kamu lagi di sini sejak terakhir kamu ninggalin LA” Tiffany menghembuskan nafasnya dalam. Ditatapnya langit malam di atas Banpo Bridge yang terpantul cahaya warna-warni dari penjuru kiri kanan jembatan.

“Meskipun dalam keadaan kayak gini.As you said to me some years before...”ujar fathur.

“Right...Sometimes..something happen for a reason..There’s a reason inside”

Bipppp,bipppp.

Ponsel bergetar dari dalam tas tangan.Tiffany mengeluarkannya.Sebuah sms masuk terpampang di layar.
“dari willy ?” tanya Fathur.Tiffany diam.

“dari...Hyuna ?”tanyanya lagi.Tiffany menoleh.Menatap fathur yang tampak semakin bengkak dan lebam.

“dua-duanya..”

Keduanya tergelak.Smilling eyes tersirat di wajah oriental Tiffany.Sama sipitnya dengan mata Fathur yang mengecil akibat pipinya yang membengkak kena pukulan.

“Mission Completed” ujar mereka berbarengan.Untuk kemudian saling berangkulan.

...

“nan jeongmal mianhae,tiff.Aku sekarang sadar bahwa Hyuna gag sebaik yang aku kira.Aku tau busuk-busuknya dia.Mungkin kalau aku jadian sama dia, nasibku gag jauh beda dari manusia vampire fathur itu pada akhirnya”-Willy

“No odiaa...fanny ? aku lagi butuh pundak kamu banget sekarang. Aku ngerasa bersalah banget sama fathur.Segitunya sampe dia pengen belain aku dari serangan mengerikan.Aku baru tau kalau Willy gag secool yang aku puja-puja selama ini”-Hyuna

...The End..

OST For "Banpo Bridge"



 

aku punya blog !!! Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez