Tampilkan postingan dengan label september 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label september 2013. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 September 2013

Quote Favorite Biografi "Oei Hui Lan"

0 komentar
...Kecepatan dalam mengambil keputusan adalah salah satu kepekaan yang baik dalam sebuah dimensi waktu yang tepat...


"Jangan mau jadi nomor dua, harus bisa jadi nomor satu !"

...Tidak ada pesta yang abadi...

"Tapi percayalah, bila kita tetap percaya bahwa hidup kita bahagia maka kita akan terus merasakan kebahagiaan itu"

"Bila kamu mencintai Tuhan, apapun yang hilang dalam hidup kamu, semuanya tidak akan pernah berpengaruh"

"Hui Lan, suatu saat kamu akan mengerti bila kamu sudah tua. Hidup yang sehat itu tidak pernah akan dapat dibayar dengan uang sebanyak apapun, makanya kamu yang masih muda rajin-rajinlah berolahraga"

...Seperti yang nyonya Kung katakan pada saya untuk menerima dengan ikhlas. Saya pun memaafkan segala apa yang pernah terjadi...


...Wellington memang bukan suami yang tepat buat saya tapi dia adalah takdir yang membawa saya memiliki anak-anak dan cucu-cucu yang sempurna...


...Bukankah ibu selalu berkata pada kita untuk selalu puas dengan apa yang kita miliki ?...

...Berkenalan dengan kaum ningrat dan orang-orang berduit tidaklah penting, otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan  tetapi kita bisa mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita harus menghargai orang-orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu saya, kita harus puas dengan apa yang kita miliki...



...Tidak ada pesta yang tidak berakhir...

No Feast Last Forever (Part 2)

0 komentar



Pada akhirnya sebuah pesta akan selalu usai. Tak peduli seberapa lama pun cinderella ingin tetap berada di sebuah peta, jika jam sudah berdentang, maka saat itulah ia harus segera pulang. Begitu juga dengan manusia, pada akhirnya setiap orang memiliki waktu sendiri-sendiri untuk meninggalkan pesta. Baik kita yang meninggalkan, baik kita yang ditinggalkan, ada sebuah kenangan yang tertinggal. Layaknya sebelah sepatu kaca milik cinderella yang tertinggal di pesta. Begitu juga dengan kenangan itu. Entah baik ataupun buruk kesan yang didapatkan selama di sana, pada akhirnya kenangan membuat kita menjadi netral_kembali seperti sedia kala. Layaknya pepatah lama cina yang saya kutip dari buku ini :

“Layang-layang akan terbang selama mungkin di langit, namun pada akhirnya ia akan jatuh ke bumi dan menjadi tak berdaya. Kita akan berpesta selama kita bisa tapi pada akhirnya pesta akan usai dan kita akan hanya ingat tentang kenangan”

Demikianlah pepatah lama yang Hui Lan dapat dalam ‘kehilangan’ pertamanya. Awal dari kehilangan-kehilangan yang sebenarnya. Dalam hidupnya, Oei Hui Lan harus menjadi saksi hidup ,pihak dari yang ditinggalkan dari sebuah ‘pesta’ bernama kehidupan.

Kehilangan pertama, namun tak benar-benar menjadi sebuah kehilangan utuh baginya adalah saat cinta pertamanya harus tamat karena ketidaksetujuan orang tua, serta status personal pihak laki-laki yang tak mungkin terlepas dari ikatan pernikahan yang sah dengan istrinya yang sah. Dari cinta pertamanya inilah, Hui Lan menyadari bahwa segala bentuk suka cita, gemerlap dan hingar bingar kehidupan duniawi yang telah dirasakannya sebagai buah kerja keras ayahnya, adalah hal semu, yang suatu waktu bisa ditinggalkannya. Dan meninggalkannya tanpa pernah bisa berkompromi. Ya, tak seorang manusia pun yang bisa berkompromi dengan akhir dari sebuah kehidupan.

Kehilangan yang kedua, sekaligus menjadi kehilangan terbesarnya adalah ketika sang ayah tercinta harus menjadi orang pertama terdekatnya yang meninggalkannya. Meninggalkannya bersama harta dan polemik yang menyertai sepeninggal ayahnya. Sebuah kisah ironis yang mendahului kepergian sang ayah, berawal dari isi ramalan yang diucapkan seorang peramal india yang tiba-tiba mendatanginya, dan mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi ke hidupnya. Hui Lan yang besar di lingkungan yang percaya akan hal-hal ‘klenik’ seperti itu menyanggupi permintaan peramal, dan membawanya ke hadapan ayahnya.

“Ayahmu sedang dalam bahaya. Orang-orang di tempat asalnya sedang mengejar-ngejar anda. Dan singapura bukanlah tempat yang aman, bawalah ia keluar menjauh dari negeri ini. Karena sesungguhnya orang-orang yang menjadi musuh ayahmu tak pernah benar-benar pergi dari kehidupannya, ia ada di sekitar”
Ayahnya hanya menganggap apa yang dikatakan peramal tersebut adalah lelucon belaka. Dan menganggap bahwa hidupnya akan baik-baik saja dengan penjagaan orang-orang kepercayaannya selama ini.

“Ambillah kain putih bersih, dan tuangkan bubuk teh ini ke atasnya” suruh peramal itu pada Hui Lan. Dan Hui Lan pun melaksanakan apa yng diperintahkan.

“Setelah itu bawa keluar dan letakkan di bawah sinar bulan, kau akan mendapatkan jawabannya”
Untuk kesekian kalinya, Hui Lan pun melakukannya. Dan betapa terkejutnya dia, begitu mengetahui apa yang jelas ada di hadapan mata yang kini berada di tangannya.

Serbuk-serbuk teh yang dituangkannya menunjukkan sebuah kalimat yang berbunyi

KEMATIAN AYAH

“Ayah, lihat ini, aku melihat jelas apa yang ada dalam ramalan teh ini” Hui Lan mencoba menunjukkan dan menjelaskan pada ayahnya. Namun ayahnya tak melihat sesuatu di atas kain putih yang telah dituangkan teh.
“Me..mengapa hanya aku yang bisa menyaksikannya ?” tanya Hui Lan pada peramal.

“Karena hanya kau lah satu-satunya orang yang benar-benar tulus mencintai ayahmu. Bawalah ayahmu menjauh dari sini sebelum bulan agustus. Jika sampai bulan itu kau tak mampu melakukannya, aku tak bisa menjamin bahwa kau tak akan kehilangan ia selamanya”

Ya, pada akhirnya ramalan itu benar-benar terjadi. Sampai akhir waktu sebelum bertolak ke Hongkong, Hui Lan tetap tak bisa melawan takdir yang harus terjadi pada ayahnya. Di suatu minggu setelahnya, Hui Lan mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal akibat serangan jantung mendadak. Dan kecurigaan Hui Lan menjadi-jadi, tertuju pada gundik terakhir ayahnya yang bernama Lucy Ho. Hubungan Lucy Ho dan Hui Lan tak pernah baik. Hal ini didasarkan atas ketidaksukaan sang ibu kepada Lucy Ho, yang dinilai tega ‘mengkhianati’ bibinya sendiri dengan menikah dengan suaminya. Kecurigaan Hui Lan pun berlanjut pada keinginannya untuk melakukan otopsi pada mayat ayahnya. Namun karena hukum singapura yang menganut hukum inggris dimana untuk melakukan otopsi diperlukan izin dari istri yang sah,bukan anak sah dari istri yang sah. Karena sudah terlanjur sakit hati pada ayahnya yang mendalam,  ibunya menyarankan untuk tidak melakukan otopsi, dan mengikhlaskan semua yang terjadi.



"Bila kamu mencintai Tuhan apapun yang hilang dalam hidup kamu, semuanya tidak akan pernah berpengaruh"
-Biografi Putri Orang Terkaya di Indonesia "Oei Hui Lan"-





Kamis, 12 September 2013

"No Feast Last Forever"

0 komentar



Banyak orang yang sudah melewatkan berbagai pengalaman hidup, pahit manis, suka-duka, dan kesemuaya berada dalam lingkar orang-orang yang secara luar kita anggap "bakal bahagia nan sejahtera tujuh turunan", ternyata dalam sisi sebenarnya, justru menampilkan sesuatu di luar yang duga.

"No Feast Last Forever"

Ya, tidak ada pesta yang abadi. Hidup ini adalah pesta, hanya sebuah pesta. Di mana kita menghabiskan kebahagiaan, kesenangan, bertemu dengan orang-orang baru, intim dalam sebuah pertemuan, dan pada akhirnya....Kita harus melambaikan tangan dan (mungkin) standing applause terhadap orang-orang yang kita jumpai di sana. Ada yang pulang terlebih dahulu meninggalkan pesta, atau bisa jadi_kita lah yang terlebih dahulu meninggalkan pesta. Semuanya diluar rencana besar. 

Sepenggal kalimat singkat di atas adalah petikan kalimat utama yang saya ambil selepas membaca buku biografi seorang wanita yang kisah hidupnya ada dalam sejarah, baik sejarah negeri kita maupun dunia. Adalah Oei Hui Lan , memang jika anda pembaca kisah-kisah abad 21, tentu tak begitu mengenal sosok wanita campuran cina-jawa ini. Termasuk saya pribadi. Awal mula saya membaca buku ini ketika seperti biasanya menghabiskan waktu "me time" saya di sebuah "taman bermain" favorite, Gramedia. Dari rak sejarah, saya mendapati sebuah buku biografi yang di depan sampulnya terdapat tanda bahwa buku ini telah mengalami cetak ulang dan menjadi best seller nasional. Karena embel-embel tadi, dan saya juga penikmat buku biografi, alhasil saya ambillah buku tersebut, lantas bergegas mengambil sudut pojok paling utara lantai 2 Gramedia Sudirman, Yogyakarta.

Oei Hul Lan adalah putri kedua dari orang terkaya di Indonesia. Dia hidup pada zaman sebelum perang dunia Ke 2, dan pastinya sebelum Indonesia merdeka. Ayahnya bernama Oei Tiong Ham , adalah pengusaha sukses di bidang kopra, gula, dan candu di wilayah Asia Tenggara. Karena kesuksesannya dalam bidang usaha tersebut, Oei Tiong Ham dijuluki "Raja Gula dari Asia". Usahanya tidak hanya berskala regional Hindia Belanda, tetapi juga berhasil membuka cabang di negara dan benua lainnya. Pada buku tersebut digambarkan bagaimana tingkat kesejahteraan keluarga ini, sehingga memiliki rumah seluas 9,2 Ha dengan arsitektur bergaya eropa dan cina,  dilengkapi 200 kamar, ratusan pelayan serta koki pribadi.Rumahnya tak lebih seperti sebuah istana dalam dongeng-dongen klasik.  

Namun karena kekayaan yang berlimpah dan akses untuk mendapatkan apa saja menjadi lebih mudah, kehidupan Hui Lan kecil dilalui tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Ayahnya sibuk dengan pekerjaan, dan..gundik-gundiknya (Hui Lan memiliki 42 saudara tiri !), ibu yang hanya sibuk dengan harta dan barang-barang mewah untuk mempercantik diri, serta sang kakak yang setali tiga uang dengan sang ibu. Oleh ayahnya, Hui Lan tidak dimasukkan dalam sekolah umum, meminjam istilah sekarang...Hui Lan menjalani kehidupan sekolah dengan sistem homeschooling, yang mendatangkan tenaga pengajar khusus dari luar Hindia Belanda untuk mengajari Hui Lan 4 (empat) bahasa. Karena hal inilah, ketika menginjak dewasa, Hui Lan memiliki kemampuan bahasa asing di atas rata-rata.

"Harta, Tahta, & Wanita adalah hal yang bisa membuat manusia menjadi lupa"

Ayah Hui Lan adalah tipikal pria yang tidak cukup puas dengan satu wanita (istri). Ketika suatu waktu, Hui Lan mengetahui dari sang kakak, bahwa bibi-bibi yang kerap ditemuinya bersama ayahnya tak lain adalah gundik-gundik sang ayah. Sebenarnya sang ibu telah lama mengetahui hal ini. Sebagai seorang istri yang sah, dan menganut paham cina lama , di mana proses perceraian harus melalui persetujuan kedua belah pihak keluarga, serta akses kemewahan dan kekayaan yang mungkin terlepas jika memilih bercerai dengan suaminya, membuat sang ibu memilih untuk menutup mata dan telinga terhadap hal ini. Kehidupan rumah tangga orang tua Hui Lan tidak lebih hanya sekedar formalitas. Sedangkan bagi ayahnya, bertahan dengan sang ibu adalah upaya untuk tetap mempertahankan kejayaan bisnisnya. Karena sang ibu dipercaya membawa hoki bagi kehidupa finansialnya.

Dalam buku ini, juga dijelaskan bagaimana paham kaum cina lama yang masih memegang teguh adat istiadat perjodohan. Hal tersebut telah lama turun temurun mengakar dalam keluarga tersebut. Kakak Hui Lan merupakan 'korban' pertama dalam misi perjodohan keluarga, bersama seorangg laki-laki satu etnis yang berprofesi sebagai dokter.Padahal, sebelumnya sang kakak terlibat dalam hubungan yang tidak direstui oleh orang tua.
Hal yang sama juga dialami Hui Lan. Cinta pertamanya dengan seorang pria hongkong, yang ditemuinya ketika berlatih pacuan kuda di Singapura, harus kandas. Karena sang ayah tidak menyukai latar belakang laki-laki tersebut. Berkat informasi dari orang kepercayaannya, Hui Lan tahu bahwa laki-laki tersebut masih terikat pernikahan yang sah dan memiliki seorang anak di negara asalnya. Pada awalnya, Hui Lan tetap bersikeras mempertahankan hubungan tersebut, namun lambat laun, laki-laki tersebut tak pernah datang memenuhi janjinya. Hui Lan sadar bahwa hal tersebut tentu ada hubungan dengan kekuasaan sang ayah untuk menggagalkan hubungan tersebut dengan segala cara.

Sampai ketika menginjak usia 18 tahun (di masa itu perempuan sudah dianggap cukup matang untuk menikah), Oei Hui Lan berhasil dijodohkan oleh kakak dan sang ibu dengan seorang diplomat cina untuk amerika yang berstatus duda dengan dua anak. Perjodohan ini merupakan misi dari sang ibu yang ingin mewujudkan impian bahwa sang anak harus bisa dikenal oleh dunia melalui pergaulan kalangan kelas atas.Ya, bagi Hui Lan, akses kalangan kelas atas terpandang, merupakan satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli oleh uang ayahnya.Informasi tambahan, selama menetap di kota-kota di eropa, Hui Lan, ibu dan kakaknya mengandalkan uang kiriman dari ayahnya. Apapun yang mereka minta akan selalu diberikan. Karena kemudahan itu pula lah, Hui Lan menjadi satu-satunya orang di Semarang, dan Hindia Belanda yang memiliki kendaraan roda empat, impor langsung dari benua eropa.

Misi sang ibu pun berhasil, meskipun pada awalnya Hui Lan tidak tertarik dengan sang calon yang bernama Wellington Koo, diplomat terkenal dalam sejarah cina yang berhasil mengembalikan sebuah pulau yang direbut oleh Jepang untuk kembali dalam kedaulatan china.

Tidak berbeda jauh dengan sang ayah, meskipun sang suami adalah kaum terpelajar dan disegani, namun kehidupan asmaranya tak pernah puas hanya dengan satu wanita. Beberapa kali, Hui Lan harus mendapat kabar tentang perselingkuhan suaminya dengan rekan kerja yang kerap menemani tugas kenegaraannya. Sekali lagi, pengalaman membuktikan bahwa ketertarikan harta, tahta, dan fisik tak cukup sebagai modal apakah dua manusia bisa menjalankan bahtera pernikahannya dengan mulus hingga berlabuh bersama.

Di sisi lain, sebagai putri orang terkaya di Asia Tenggara, gaya hidup glamour seorang Hui Lan ternyata tak mampu diterima oleh Wellington Koo.Gaya berpakaian dengan perhiasan mewah hasil jerih payah dan hadiah dari sang ayah, kerap menjadi bulanan-bulanan wartawan untuk memberitakan Hui Lan sebagai istri dari seorang diplomat cina yang dinilai "tak tau diri" di tengah situasi ekonomi rakyat china yang dirundung kemiskinan dan kelaparan. Meskipun sekali lagi, perhiasan tersebut tidak dibeli dari uang pemerintah china, ataupun dari gaji sang suami. Perbedaan inilah yang pada akhirnya membuat "pride" seorang Wellington sebagai suami terusik. Pada pernikahan mereka, Wellington menghadiahkan sebuah perhiasan dari uang gajinya, namun bagi Hui Lan perhiasan tersebut lebih murah dibandingkan perhiasan termurah yang pernah dibelinya.


(Edisi Mendatang : Hui Lan mendapat sebuah ramalan yang mengejutkan dari peramal india. Memiliki Anak dan Pertemuan Terakhir dengan sang ayah)


 

aku punya blog !!! Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez