Tampilkan postingan dengan label south korea trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label south korea trip. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

Suddenly Love at Namsan

0 komentar





Ada cinta di namsan. Beginilah yang saya rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di pelataran halaman puncak bukit namsan. 


Bukit namsan adalah bukit kebanggan masyarakat kota seoul. Bukit yang begitu terkenal dan menjadi landmark seoul, merupakan bukit yang sering kita lihat di drama-drama maupun video klip idol kpop. Kalau anda mengikuti kpop, anda pasti tau opening scene music video S.E.O.UL miliknya super junior dan girls generation. Video yang ditujukan untuk promosi kota seoul ke dunia internasional ini sukses menjadi “kitab” video saya selama di korea. Hampir semua tempat di mv tersebut berhasil saya kunjungi, kecuali satu...The cursed night banpo. (akan saya ulas di cerita berikutnya).


Untuk mencapai namsan, saya menempuh subway dan berhenti di dekat pemberhentian bus yang memang menuju ke bukit namsan. Meskipun secara topografinya, kota seoul merupakan wilayah yang berbukit-bukit, tapi tetap saja, sensasi naik bus di sepanjang perjalanan menuju namsan tetaplah yang paling indah menurut saya. Terdapat satu komplek universitas swasta yang populer di seoul yang terdapat di dekat kawasan namsan. Berbeda sekali dengan indonesia, kawasan menuju bukit namsan tidaklah sepi , sunyi dan menyeramkan. Semuanya hijau, asri, bersih dan tertara rapi. Meskipun di dalam bus, kami harus umpek-umpekan, karena banyaknya penumpang yang hendak menuju namsan, tapi tetap saja perjalanan ini tak terasa membosankan sama sekali. 


Ketika tiba di pemberhentian terakhir_bus kemudian akan turun kembali ke bawah lewat jalan yang berbeda_ kita tidak lantas tiba di areal namsan towernya. Ada dua pilihan untuk mencapai sana, naik cable car atau berjalan mendaki. Pilihan kedua adalah yang saya pilih. Selain hemat biaya, hampir kebanyakan pengunjung_karena memang orang korea doyan trekking_jadilah saya ikut juga mendaki jalanan menanjak. Selain panjang, dan makin menanjak, alhasil begitu nyampe dia atas, saya merasakan kelelahan yang amat sangat. Butuh waktu leha-leha dulu sebelum benar-benar mengitari namsan tower.


Awal mulanya saya kira, cable car berfungsi membawa penumpang hingga sampai atas puncak namsan tower. Ternyata tidak. Penumpang diturunkan ditempat saya beristirahat.


Namsan tower sendiri adalah menara yang terletak di bukit namsan.di menaranya, terdapat dua pilihan kunjungan, menara observatorium atau museum teddy bear namsan. Karena budget yang (lagi-lagi) terbatas, saya hanya mampu membeli tiket masuk museum teddy bear seharga 8000 won.


Dan ternyata, tanpa perlu naik ke puncak menara, saya sudah bisa menemukan pohon gembok cinta namsan. Ikon khusus namsan yang sering kita temukan di drama-drama korea. Rasanya gag afdhol ke korea, kalau gag ke bukit namsan, dan...gag ke gembok cintanya. Itu juga kenapa, saya sedikit menyesal tidak membeli dulu gembok sebelum pergi ke namsan, karena begitu liat harga gembok yang dijual di namsan.....mahal banget ! untuk ukuran dompet saya. Saya lebih baik beli souvenir saja daripada “hanya” beli gembok di sini. Tapi saya gag ketinggalan akal, karena tradisi gembok-menggembok ini udah lama..jadilah saya cari gembok yang ada karet berwana-warni berbentuk love yang sisi belakangnya gag ditulisi. Jadinya saya “numpang” nulis di gembok yang gag lain dimiliki oleh wisatawan thailand (saya tau dari tulisannya). Dan mau tau apa harapan saya ? saya pengen balik lagi ke tempat ini dengan pasangan hidup saya. (waktu ke sana, status saya masih jomblo dan sampai saat ini pun tetap jomblo..wkwkwk).
Mengacu ke kalimat awal saya di atas, memang ada banyak cinta yang saya temukan di namsan. Cinta yang universal. Cinta yang mengandung harapan, cita-cita dan impian. Cinta yang nunjukkin_dari negara manapun kita berasal, apapun warna kulit kita, bagaimana kita berbahasa, kita semua berkumpul di tempat ini dengan satu kesamaan ....kita semua punya tujuan hidup untuk saling bahagia.


Di namsan pula, saya juga mendoakan kerabat,teman dan kenalan saya di indonesia agar suatu hari nanti mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan saat itu.

Berobat di Korea

0 komentar





Bagi sebagian orang, ansuransi perjalanan sangat penting, dan masuk ke dalam sebuah syarat yang dilampirkan pada pengajuan visa. Tapi berkas lampiran ini bukanlah item wajib, jadi jikapun anda tak menyertakannya ke dalam dokumen-dokumen persyaratan pengajuan visa , tidak masalah. Ini berlaku pada visa korea, kalau negara-negara lain, saya sendiri belum tahu. 


Karena keterbatasan budget perjalanan, jadilah saya yang awalnya dilemma_akan membeli atau tidak_pada akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil saja. Dengan asumsi bahwa, moga-moga selama sebulan di sana kami tidak jatuh sakit sama sekali. Dan anggapan non logis ala kami adalah, dengan membeli ansurasi perjalanan sama halnya dengan mengharapkan kemungkinan terburuk yang bakal terjadi selama perjalanan nanti. Dan ini, jelas-jelas pemikiran yang keliru sodara-sodara...


Berapa sih harga sebuah paket ansurasi perjalanan ? saya pribadi kurang begitu tau nominal pastinya. Karena toh tak mengambil , jadinya informasi yang saya dapat berkisar 300rb-an rupiah. Dan angka ini tentu berbeda tiap tahunnya.


Pra keberangkatan, sebenarnya dari pihak universitas inha sudah menawarkan paket tambahan ansurasi perjalanan, tapi lagi-lagi karena mesti mutar otak dengan dana minim yang ada, alhasil tawaran tersebut gag jadi diambil. Dan imbasnya.....benar saja kami membutuhkan ansuransi itu pada akhirnya !
Cuaca summer yang jelas berbeda dengan iklim tropis tanah air, serta tingginya mobiltas selama di sana, yang kalau di indonesia_kemana-mana jarang banget jalan kaki_ alhasil selama minggu pertama kondisi ini membuat kami jatuh sakit. Untung alya banyak bawa obat-obatan indonesia, jadinya saya yang udah jatuh sakit di hari pertama menginjakkan kaki di korea, terbantu dengan keberadaan obat-obatan itu. Jujur saja, kondisi tubuh saya sebenarnya sedikit menyesuaikan dengan kondisi setempat. Maksudnya begini, saya baru benar-benar bisa sembuh setelah meminum obat-obatan yang saya beli di korea. Bukan obat-obatan yang dibawa di indonesia. Mungkin faktor iklim tersebut memberi pengaruh pada reaksi antibodi terhadap virus flu di tubuh saya. Sementara alya, mesikpun sedikit telat dibanding saya, alya justru dapat sakit yang lumayan “parah”. Dan ini membuatnya sempat melewatkan satu kelas kuliah. (kami berdua berada di dua jurusan yang berbeda). Istilah sistem titip absen tentu gag bisa diterapkan di sini.


Dan jadilah di awal minggu kedua_karena liat kondisi alya yang gag sembuh-sembuh, suara yang nyaris “gag terdengar”, kemana-mana mesti pake masker...jadilah pada akhirnya diputuskan bahwa alya harus berobat ke dokter !.


Permasalahannya adalah, kami belum dapat bayangan sama sekali bagaimana sistem berobat di klinik ataupun rumah sakit. Karena lagi-lagi masih mikir budget yang tersedia-secara kami tetap menyebut dan tergolong budget traveller, jadilah diputuskan bahwa kami akan berobat ke klinik saja, bukan rumah sakit.
Kendala kedua adalah bagaimana menemukan klinik kesehatan yang bisa melayani kami yang tergolong minim bisa bahasa korea untuk dunia medis. Kebayang gimana susahnya menjelaskan indikasi-indikasi kesehatan yang dialami alya pada dokter setempat, jika tenaga medis di klinik tersebut tidak memiliki kemampuan berbahasa inggris yang memadai.


“ni gw dapat info kalau di supermarket dekat asrama ada klinik kesehatan dilantai satunya” ucap alya. Info tersebut didapat dari kenalan alya yang kami temui ketika berjalan-jalan di daerah backgate inha.
“bukan klinik oplas kan ?’ tanya gw dalam hati_ngaco,


Akhirnya diputuskanlah, pagi-pagi banget saya dan alya langsung berangkat menuju klinik yang dimaksud. Dan benar saja, meskipun supermarket yang besarnya seperti carefour kalau di indonesia_belum sepenuhnya beroperasi, tapi klinik kesehatan yang terdapat di pojok kiri dari pintu masuk itu udah rame dengan pengunjung.


(dalam bahasa indonesia)


‘Permisi..saya mau berobat. Kira-kira bagaimana ya prosedur dan biayanya ? kami adalah mahasiswa asing yang sedang study di inha university ?” tanya alya. Dari suaranya, petugas medis yang semuanya adalah perempuan dapat bisa langsung mengerti keluhan kesehatan yang sedang dialami oleh alya.

Informasi : supermarket ini terletak satu komplek dengan inha university. Ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari asrama mahasiswa.

“mm..mengenai biayanya, bisakah kami tahu untuk penyakit batuk dan flu, kami akan menghabiskan biaya berapa ?” tanya gw gantian.

Karena keterbatasan bahasa inggris, petugas medis itu tampak kesulitan menerjemahkan apa yang kami sampaikan. Dan thanks god, ternyata gag jauh dari kami ada seorang ibu-ibu muda yang tiba-tiba menghampiri kami. Dan menjelaskan apa yang kami katakan pada petugas medis tersebut. Untuk ukuran orang korea, inggrisnya mbak-mbak itu lumayanlah...

“apakah kalian memiliki asuransi kesehatan ?” tanya ibu muda itu kepada kami, setelah sebelumnya perawat tersebut berkata sesuatu pada ibu muda itu.

Kami kompak menggeleng. 

“mohon maaf, karena kalian bukan orang lokal sini, jadi tanpa ansuransi kesehatan, kalian akan dikenai biaya yang lumayan mahal” ucap ibu-ibu yang sedang menggendong balitanya.

Saya dan alya saling lihat-lihatan. Bayangan nominal won yang akan kami keluarkan memang sudah sedikit kami antsipasi dengan saling membawa uang lebih di dompet masing-masing.

“kira-kira untuk sakit seperti ini, berapa biaya yang akan kami keluarkan tanpa asuransi kesehatan ?” tanyaku lagi.

Ibu muda itu kembali bertanya pada petugas medis.

“apa keluhan kalian ?”

“batuk, flu, dan sedikit demam” jawab alya.

Ibu muda itu kembali bertanya pada perawat itu.

“kurang lebih hampir 20000 won. Tapi tidak pernah lebih dari itu”

Saya dan alya bernafas lega. Perkiraan biaya dari informasi-informasi yang kami kumpulkan ternyata tidak melesat jauh. Sehari sebelumnya saya bertanya pada kenalan saya orang indonesia yang sudah lama bekerja di korea, mengatakan bahwa untuk sekali berobat biayanya tergantung jenis penyakitnya. Dan tentu, untuk turis, adanya asuransi kesehatan sangat membantu keringanan biaya berobat. Dan dari dia, saya dapat info kalau biayanya sekali berobat untuk keluhan sakitnya alya sekitar 18000 won. Dua ribu won lebih rendah.
“oke,baiklah” ucap alya sumringah.

“silahkan diisi formulir ini terlebih dahulu. Yang akan berobat dua dari kalian ?” tanya ibu muda itu.
Saya menggeleng, meskipun suara masih serak..tapi pertimbangan bahwa saya masih bisa menghandle sakit ini, dan kondisi alya lebih membutuhkan...saya pun mengatakan bahwa saya hanya mengantar saja.
Dan selanjutnya alya pun melengkapi prosedur yang diminta. Kami menunggu di ruang tunggu klinik. Meskipun tergolong kecil, tapi kebersihan dan pelayanannya jangan ditanya. Saya rasa, meskipun sakit, rasanya seperti sudah mau sembuh saja. Saking hommynya.

Pagi itu, kebanyakan pasien merupakan anak-anak balita. Sekitar tiga orang balita. Yang kesemuanya diantar oleh kedua orang tuanya. Lengkap. Tidak salah satunya, ibunya saja, atau ayahnya saja. Bahkan balita yang digendong oleh ibu muda yang membantu kami tadi, diantar oleh kedua kakek dan neneknya. Pemandangan yang sangat langka yang saya temukan di indonesia. Bahkan saya sempat bermain-main dengan balita tersebut. Kesamaannya adalah balita-balita di sana suka diajarkan bahasa-bahasa awal layaknya balita di indonesia. Semisal contoh, “panggil kakek,panggil kakek” dan dia akan menunjuk kakeknya sambil ngomong “harabojiiiiiiii....” dengan lucunya. Kalau menjulurkan lidah, di korea disebut “merong,merong, merong”. Dan dengan lucunya dia memanggil saya dan alya berdua dengan panggilan “onnieee...”.wah,saya berasa sudah berbaur dengan orang-orang lokal pada saat itu. Bayangan bahwa suatu hari nanti saya ingin menetap lebih lama di sana terlintas di pikiran saya. Orang-orang korea lagi-lagi menunjukkan keramahannya. Benar-benar sebuah sambutan hangat, yang bahkan jarang saya temukan di kota saya. Mereka memang individualis ketika ditempat umum, tapi bukan berarti mereka tak segan mengulurkan bantuannya ketika orang lain butuh bantuan.


Kunjungan pagi itu ditutup dengan segelas cokelat panas yang kami terima dari kakek balita dari ibu muda yang menolong kami itu. Cokelat yang disediakan for free di klinik kesehatan, dan diulurkan pada kami.
Saya jadi ingin kembali lagi ke klinik itu....:)

Selasa, 04 Desember 2012

Tersesat di Guro

0 komentar




Sebaik-baiknya tupai melompat, pasti bakalan jatuh juga. Secara positifnya saya terjemahkan peribahasa ini adalah, sepaham-pahamnya kita terhadap sesuatu pasti bakal ada kita ngalami kekeliruan ini juga (versi terjemahan sendiri).


Ini saya alami ketika menggunakan moda transportasi umum subway di korea. Bagi saya pribadi, sistem transportasi subway di seoul dan incheon (untuk subwaynya) lebih mudah saya pahami. Ketimbanng petas subway negara tetangganya (jepang) yang pernah saya lihat di sebuah buku perjalanan. Kaktor bahasa jadi penentunya. Pengetahuan bahasa dan aksara korea sangat membantu terhadap hal ini. Bisa jadi karena saya gag tahu blas dengan bahasa dan aksara jepang, jadinya peta sistem dengan garis-garis meliuk berbagai warna itu terasa rumit banget untuk saya. Selain karena saya pribadi belum pernah ke sana.,:P
Kata teman saya yang pernah ke singapore dan korea, peta subway korea lebih rumit dibanding singapore. Dan benar saja, pas saya liat, jalur-jalur MRT yang ada di singapore gag sebanyak dan secomplicated dengan peta subway korea. Bersyukur negara pertama yang saya datangi adalah korea, jadinya kalaupun nanti saya trip ke singapore atau malaysia, saya gag perlu parnoan lagi dengan “kerumitan” transportasi negaranya. 


Kekeliruan yang saya alami adalah ketika hendak pulang dari seoul ke incheon. Sekedar informasi, subway di seoul melakukan operasi terakhir tepat pukul 10 (sepuluh) malam. Karena hal inilah, yang membuat petualangan kekeliruan ini semakin mendebar-debarkan kami. (saya,alya dan satu teman kami_rika).
Malam itu, demi mengejar subway yang akan selesai pada pukul 22.00 waktu setempat, jam 21.00 sudah kami pastikan bahwa kami telah duduk dengan tenang di dalam subway jalur 1 yang biasanya membawa kami dari seoul ke incheon dan sebaliknya. Kekhawatiran ini bahkan mengalahkan kekhawatiran ditutupnya gerbang asrama pada pukul 24.00. Yang kami pikirkan saat itu adalah bagaiman caranya tiba di juan station maksimal pukul 22.00 malam. Perjalanan itu dilakukan setelah kami menghadiri acara buka bersama mahasiswa-mahasiswa indonesia di KBRI korea selatan.


“ni kita naik jalur 1 kan ?” tanya rika. Tangannya dan tanganku memegang buku petunjuk perjalanan yang selalu kami bawa ketika bepergian ke seoul. Sementara alya_dia memilih untuk mengikuti saja kemana kami berjalan, dikarenakan malam itu energinya sudah keburu habis karena kami mencari-cari kantor KBRI yang susah banget buat ditemukan (maklum,kunjungan pertama).


Aku hanya mengangguk. Sembari memperhatikan papan penunjuk dengan simbol angka 1 yang berada pada lingkaran berwarna biru. Gag sampai satu detik kemudian, kereta ekspress yang kami tunggu pun tiba.
“tumben ya lapang kayak gini. Biasanya jam-jam segini kita desak-desakan sama orang kantoran” ucapku ,mengambil tempat di kursi berwarna biru. (sekedar informasi tambahan, kursi berwarna merah maroon yang biasanya terletak di ujung gerbong, itu hanya diperuntukkan bagi manula).


Perjalanan pun ditempuh dengan lega, karena sekarang yang kami lakukan hanya dengan menghabiskan waktu selama kurang lebih satu jam ke depa. Alya memilih untuk terlelap di posisinya, sementara aku dan rika tetap terjaga, Sembari mengamati tiap pemberhentian stasiun. Hampir tiga puluh menit, kami lalui tanpa ngobrol sedikitpun. Sampai akhirnya...


“mbak, kok kita lewat stasiun xxx (saya lupa namanya). Coba d perhatiin” ucap rika sembari menunjuk papan arah digital dan mencocokkannya dengan jalur biru di dalam buku.


“eh ia..kok ada percabangannya ya ? biasanya kalau naek line 1 udah pasti langsung nyampe ke juan” ucapku. “ya ampunn.... kita salah jalur” 


“ia nih. Kita udah kelewatan tiga stasiun neh” ucap rika. “kita keliru pas di percabangan ini” tunjuknya pada bulatan bertuliskan “GURO”.


Menyadari kekeliruan urgent ini, kami pun membangunakan (paksa) alya dan memutuskan untuk berhenti di stasiun berikutnya. Kekhwatiran mulai dirasakan lagi. Mengingat hampir 30 menit lagi jam bergeser ke angka 22.00. Sementara kami harus kembali ke titik dimana kami berbelok arah berseberangan dengan arah menuju incheon.


Dan tibalah kami di stasiun guro. Sedikit sulit menetralkan pemikiran di tengah kekeliruan dan sisa waktu yang ada. Apalagi pada saat itu hujan turun dengan derasnya. Kami tidak membawa mantel ataupun payung sebelumnya. Bayangan tidur ngemper di stasiun rasanya sulit untuk dideny.
“kita tanya aja sama penjual yang di sana” kata alya menunjuk pada sebuah gerai sepatu yang kami temui tepat begitu tiba di stasiun guro.


(dalam bahasa indonesia)


“permisi pak. Kami barus saja salah jalur, dan sekarang kami hendak menuju incheon. Kami harus jalur mana lagi ya ?” tanyaku kepada bapak-bapak kurus, bermata sipit, dan berambut gondrong keriting belah tengah. Bapak itu adalah penjual sepatu-sepatu yang disale, secondhand. Mungkin karena logat saya yang gag lokal, jadinya rada butuh waktu yang gag cepat untuknya menangkap maksd pertanyaanku. 


“ke incheon, lewat mana pak ?” jawabku mempersingkat.


“aaa.....saya paham. Lewat sini” tunjuknya ke sebuah papan penunjuk arah. Dan benar saja ada tulisan incheon di sana.


“ke incheon? Saya juga mau ke arah sana. Sama saya saja” tiba-tiba seorang ibu-ibu muda bersama anak laki-lakinya yang kira2 baru berumur 5 tahun berbicara kepada bapak pejual sepatu itu.


Ahjossi itu kemudian berbicara kami, dan mengatakan bahwa kami bisa mengikuti ibu itu agar tidak tersesat lagi. Karena tujuan kami sama. Thanks God akhirnya kami baru benar-benar bisa bernakas dnegan sangat lega. Bayangan ketinggalan subway, menginap di subway hilang dari pikiran.


Dan bonus lainnya lagi..gara-gara “tersesat” di GURO ini , kami jadi menemukan banyak boots2 lucu yang dijual dengan harga hanya 10000 won (all item). Dan karena ini juga, saya dan alya bolak-balik ke GURO hanya untuk menemui toko ini, membeli sepatu hingga 3 buah, dan berkenalan dan berfoto bersama anak dan ibunya ahjossi ini. Benar-benar sebuah kenangan akan keramahan orang-orang korea...

Tips gag “tersesat” di subway :
  1. Beli buku panduan perjalanan di indonesia yang ada peta subwaynya. Lebih bagus lagi kalau peta subwaynya yang paling update. Pas saya bawa buku perjalanan yang ada peta subwaynya, ternyata di seoul telah ada satu penambahan jalur baru,line 9. Meskipun kami hanya sekali menggunakan line ini selama di korea. Tapi keupdate-an peta, amat sangat membantu sekali.

  2. Kalaupun gag bisa bahasa korea, at least pelajarilah cara baca aksara hangul (aksara korea)/ Karena hal ini sangat mempermudah sekali dalam mencari subway, exit keluar, dan nama jalan. Karena saya pernah menemukan di salah satu subway, dimana aksara hangul ditulis berbarengan dengan aksara latin “exit”. Padahal aksara hangul itu bukan merupakan versi hangul dari kata yang berarti sama dengan “exit”. Tapi merupakan nama dari subway tersebut. Tenang saja, bagi saya pribadi aksara hangul lebih mudah dipelajari dibandingkan katakana hiragana ,terlebih aksara cina mandarin. Saya pernah mempelajari bahasa jepang dan korea secara otodidak (belajar lewat buku). Dan saya kesulitan sekali dengan bahasa jepang (untuk penulisannya), dibanding hangul.

  3. Bisa karena biasa. Semakin sering naik subway, akan semakin sering anda menghapal dan memilih jakur-jalur cepat ke tempat yang anda tuju.
    1. Jika ingin ke suatu tempat, selain jalurnya anda juga WAJIB harus tau jalur exit (keluar) nya. Karena tiap-tiap exit akan mengarahkan anda ke tempat dan lokasi yang jauh berbeda. Hal ini pernah saya alami ketika mencari gedung SM Entertainmnet, yang membuat saya menempuh jalan yang jauh hanya karena keliru memilih jalur keluar. 

  4. Selalu re-load “T-money” card anda sebelum bepergian. Pengisian ulang kartu ini bisa dilakukan di minimarket manapun. Kalaupun lupa, jangan khwatir di setiap stasiun pemberhentian terdapat mesin-mesin pengisi kartu. Dengan menggunakan instruksi dalam bahasa korea dan inggris yang sangat mudah dijalankan. Saya sendiri belum pernah ngalamin di mana kehabisan pulsa di tengah jalan. Karena setiap menempelkan kartu di mesin palang masuk subway, makan dengan sendirinya saya jadi aware sama saldo T-money card saya.

Wajib Militer

1 komentar




Kalau anda yang suka banget sama semua hal yang berbau “korea” tentu gag asing lagi dengan hal yang wajib satu ini. Sebenarnya penggunaan kata “korea” untuk menyebut negara ginseng ini secara resminya kurang begitu pas. Karena semenanjung korea, secara geografis dan administratif, terbagi atas dua wilayah dengan dua kekuasaan, yakni korea utara dan korea selatan. Tapi karena kebiasaan umum orang-orang kita yang menyebut “korea selatan” dengan “korea” saja, jadilah selama di cerita-cerita yang saya tulis ini saya akan menyingkatnya dengan kata “korea”. Tanpa ada bermaksud apapun.


Secara kemajuan teknologinya, saya akui korea selatan jauh lebih pesat dibanding korea utara. Hal ini secara pemahaman politik simple saya disebabkan karena pengaruh ideologi bangsa yang dianut oleh korea utara, membuat negara ini cukup tertinggal di banding tetangganya_korea selatan. Saya pernah browsing di mbah google,kalau di korea utara, banyak ke”kaku”an yang terjadi, salah satunya masyarafat di korea utara dilarang sama pemerintahnya memajang foto diri di setiap rumahnya. Bahkan saya pernah lihat video di youtube tentang pertunjukkan seni anak-anak korea utara. Apa yang saya lihat ? anak-anak kecil itu talented, piawai memainkan harpa mungil sementara parner satunya asyik menari di sebelahnya mengikuti irama. Tapi bedanya, gag ada ekspresi riang yang saya tangkap di sana, wajah mereka datar. Bahkan saya sempat merasa “ngeri” sedikit, bertanya-tanya sendiri, jangan-jangan anak kecil ini adalah orang dewasa berpostur anak kecil.hehhe...


Karena saya gag gitu paham sejarahnya, jadi saya gag gitu tahu kenapa dan sejak kapan pastinya dua bangsa dari satu rumpun yang sama ini gag akur. Yang saya tahu, karena kondisi ini pula, makanya korea selatan memberlakukan wajib militer bagi setiap pria dewasa berumur 20an ke atas. Tak jarang kita temukan artis idola korea yang cowoknya vakum selama kurang lebih 2 (dua) tahun untuk menjalani prosesi wajib ini.Dari obrolan saya dengan young jun, yang berumur 21 tahun (dalam penanggalan korea yang lebih satu tahun dibanding penanggalan umum), wajib militer di tahun ini sedikit urgent. Kenapa ? sejak kabar meninggalnya presiden korea utara diumumkan, masayrafat korea selatan menjadi resah. Khawatir jika suatu saat kebijakan dari pemimpin pengganti yang baru di korea utara berdampak pada sesuatu yang gag diinginkan oleh masyarafat korea selatan. Alhasil, buat jaga-jaga, korea selatan menganjurkan agar pria-pria yang belum wajib militer untuk menyegerafan mendaftar di tahun ini. Hal ini juga yang dialami oleh young jun, dua bulan sebelum saya berangkat ke korea (selatan), young jun mengabarkan bahwa dia akan memasuki pelatihan wajib militer di tahun ini, tepat sebulan sebelum keberangkatan saya. Saya yang awalnya ingin bertemu dengan sahabat korea pertama yang saya kenal lewat kacebook, dan belum pernah saya temui di kehidupan nyata ini, batal saya temui, bahkan hingga kurun waktu dua tahun ke depan. Sampai menulis cerita ini pun, saya sangat yakin bahwa suatu saat nanti, saya bisa kembali ke korea dan bertemu dengannya.
Informasi lain yang saya dapatkan dari kenalan saya di incheon, wajib militer ini sikatnya amat sangat wajib. Jika tidak dilakukan, maka yang bersangkutan harus siap untuk menjalani hukuman kurungan selama kurun waktu dua tahun. Pengecualian untuk kondisi-kondisi tertentu, dimana yang bersangkutan mengalami cidera parah, seperti yang terjadi pada aktor terkenal _won bin.


Saya kadang berpikir, bagaimana jadinya jika hal ini diterapkan di negara kita. Bisa jadi kualitas mental juang dan pembelaan laki-laki indonesia akan (jadi) bagus. Karena jujur saya akui, laki-laki korea yang saya kenal kebanyakan adalah tipe pekerja keras, dan berkomitmen sama pekerjaannya. Mungkin karena mereka udah pernah “ditempa” selama dua tahun itu juga kali ya, jadinya kualitas juang mereka patut diacungin jempol. Kebanyakan teman-teman laki-laki yang mayoritas umurnya di bawah saya, menjalani kuliahnya sambil bekerja. Karena dalam prinsip mereka, masa depan kehidupan keluarga mereka nanti harus dipikirkan dan disiapkan sedini mungkin.Dan jarang juga saya temukan, mahasiswa-mahasiswa yang malas kuliah dan kerjaannya titip absen selama saya kuliah di sana. Mereka bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan dan dipilih mereka. Jadi jangan salah, meskipun secara tampilan fisik dan luar cowok-cowok korea terkesan “unyu” di mata kita, tapi mental cowok mereka bisa jadi lebih unggul dibanding cowok-cowok kita. Sekali lagi gag bermaksd men-generalisasikan lhoooo...:P

Masissoyo !!!

0 komentar




kebiasaan orang korea kebanyakan yang sudah menjadi tradisi umum adalah mentraktir atau menghadiahi seseorang dengan makanan. Saya pernah ngobrol dengan teman saya, young jun, dia bilang kalau lagi ada berita gembira atau perayaan apapun (semisal perayaan pelepasan wajib militer ), yang akan dilakukan oleh orang korea adalah makan-makan. Hampir sama sih kayak tradisi kita. Hanya saja tradisi “traktir mentraktir” ini lebih sering dilakukan. Bahkan sejatinya hal pertama yang dilakukan ketika bertemu dengan kenalan yang udah lama gag ketemu adalah dengan ngajak dan mentraktir maka. Saya pernah mengalaminya ketika untuk pertama kalinya saya “kopi darat” dengan oppa bruce yang merupakan kenalan couchsurfing di dunia maya. Bersama alya dan satu orang teman kita lainnya, kita dijamu oleh oppa bruce di sebuah restauran kecil gag jauh dari juan station, incheon. Makanan yang dipesan pun hampir semuanya makanan ringan yang sering kita coba. Mungkin karena saya dan alya “tau diri” kali ya, jadinya kita gag pesan yang mahal-mahal dan aneh-aneh. Tapi bisa saya pastikan, meskipun saya udah sering makan ttoebokki (kue beras saus merah) di jogja maupun di negara asalnya, tapi rasa ttoebokki yang kami pesan ini, merupakan tteobokki yang paling enak yang pernah kami rasakan di korea. Entah karena bawaan “gratisan” atau gimana, rasanya bikin kami bisa menghabiskan dalam porsi yang extra large bagi standarnya orang indonesia.


Sekedar informasi, rata-rata makanan basah ataupun produk-produk kering yang dijual di pasaran korea, kebanyakan berada dalam porsi yang sangat besar. Jadi meskpun dijual dalam harga yang “lumayan” jika dikalkulasikan ke dalam rupiah, tapi harga-harga ini worth it dengan jumlahnya yang banyak banget. Saya pernah beli produk komestik gel multifungsi yang bisa digunain buat rambut dan kulit keluaran brand ternama yang lagi summer sale, dengan harga 5500 won (kurang lebih50rb rupiah), tapi jika dilihat dari ukurannya yang gede, dan gag pernah saya temukan di kemasan produk kecantikan di manapun di indonesia, rasanya harganya memang pantas, apalagi dengan ukuran segitu, bisa lebih sebulan diperlukan hanya untuk menghabiskan isinya. Produsen-produsen produk di korea gag pelit-pelit ngasih barang ke konsumennya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena begitu banyaknya produsen-produsen di sana. Jadi persaingan, gag Cuma di harga,kualitas, tapi juga kuantitas.


Berbicara porsi yang gede, hal ini gag beda jauh sama porsi makanan-makanan basah di restauran maupun warung-warung makan di korea. Alya pernah beli ramen yang dijual di depan asrama, begitu ngelihat jumlahnya, yang awalnya laper banget pas awal pesan, pas pulangnya jadi begah banget karena saking kekenyangannya.


Yang bikin surprisenya, penjual makanan di korea hobby banget ngasih bonus tambahan makanan untuk orang asing, semisal saya dan alya yang kulit dan wajahnya indonesia banget. Awalnya hanya karena kita beli bilang makanannya enak (untuk beberapa makanan yang sebenarnya gag gitu cocok ma lidah indonesia kita, tapi demi manner, pas ditanya gimana makanannya, kita bilang “nomu massissoyo” sambil ngacungin jempol tangan kanan), dan alhasil penjualnya tiba-tiba ngasih tambahan makanan dalam porsi yang gag kalah banyak ke kita yang udah gag bisa nakas saking kekenyangan dan gag sanggup lagi buat memasukkan makanan apapun lagi.


Hal ini terjadi pas kita ditraktir makan sama oppa bruce. Belum habis mie yang ada dipanci (orang korea hobby makan mie langsung dari panci, kadang pake tutup pancinya juga), kita dikasih tambahan ttoebokki yang jumlahny setengah dari porsi sebelumnya. Kita bertiga saling liat-liatan, dan karena sadar sama ekspresi yang natural kita tunjukkan, oppa bruce ngenjelasin kalau memang begitulah tradisi di korea. Dan sebagai bentuk apreasiasi dari kita betiga yang udah disambut dengan “sebegitunya”, mau gag mau kita menghabiskan semua makanan, meskipun dengan susah payah.
Hari pertama di korea, saya juga sudah “dijamu” dengan hal seperti ini. Pengalaman pertama kali makan makanan korea di korea (sebelumnya saya sudah hobby makan makanan korea di indonesia) memberi saya beberapa informasi baru yang penting.
  1. Jangan duga bahwa makanan berkuah yang warnanya menggoda selera, akan secocok dengan rasa yang anda bayangkan. Saya pribadi, sejauh saya makan makanan berkuah di sana, hampir kebanyakan kuahnya gag sebegitu gurih dengan kuah-kuah kita ataupun kuah ramyeon yang kita makan di restauran-restaiuran korea di indonesia.Malah cenderung terasa hambar di lidah saya. Hal ini disebabkan karena orang korea gag suka pake tambahan MSG di masakannya. Selain itu bumbu-bumbu dapurnya pun kebanyakan lebih “irit” dibanding makanan indonesia yang bumbunya lebih “heboh”.

  2. Kimchi di negara asalnya jauh lebih enak dibanding kimchi yang ada di indonesia. Pengaruh tangan yang ngolah kali ya. Bagi saya kimchi yang selama ini saya makan di korea, gag seasem dengan yang ada di indonesia. Tapi bisa jadi karena mungkin kebetulan kimchi yang saya makan merupakan jenis kimchi yang gag gitu asem. Secara jumlah dan jenis kimchi itu banyak banget. Bahkan ratusan ! Ratusan jenis kimchi ini bisa ditemukan di museum of kimchi.

  3. Jajanan yang paling enak menurut saya adalah ttoebokki. Sausnya enak banget. Hanya saja, buat yang muslim, kalau mau beli ttoebokki di jalanan, trus nge -liat di dalam kuahnya banyak terdapat tambahan yang menyerupai potongan daging, sebaiknya ditanya dulu ke penjualnya “igoneun dwejineun issoyo ?” (ini ada daging babi ya ?).

  4. Kalau terbatas budget, saya saranin untuk gag pesan menu-menu daging sapi. Karena harga makanan menu daging, kayak bulgogi (daging sapi asap), amat sangat mahal banget. Saya pernah ngbrol sama teman saya yang lagi travelling ke korea, dia bilang pernah menghabiskan makan menu sapi seharga hampir 1 juta untuk dua orang !. Lebih baik makan daging sapinya di tanah air aja deh..apalagi rendang kita masih tetap juara sedunia kok !

  5. Kalau travelling korea, saya bisa pastikan anda pasti bakal kangen sama makanan indonesia. Kalau satu dua tiga hari sih, mungkin gag ya. Tapi begitu udah seminggu di sana, rasa kangennya mulai kerasa. Saya sendiri selama di sana “ngidam” banget sama indomie, sambel, sama rendang. Makan rendang yang dibawa salah satu teman saya yang notabene berdarah minang, bikin saya ngerasain “surga yang nyata” ketika di korea. Ketika sebulan di sana, nyokap memang kasih bekal abon cukup buat sebulan lebih. Saya sempat parno dengan bayangan kondisi pemerikasaan penerbangan luar negeri. Tapi ternyata penerbangan ke korea, gag sestrict seperti penerbangan dari indonesia ke amerika (yang pernah saya baca di sebuah buku perjalanan). Saya yang awalnya takut kalau jangan-jangan ketika pengecakan x-ray, tiba-tiba saya ditangguh sebentar terkait olahan daging yang saya bawa masuk dari indonesia. Memang dasarnya saya parnoan,informasi-informasi seadanya yang saya dapat cukup sukses bikin saya gag bawa persediaan makanan indonesia selama di sana. Saya sedikit menyesal ketika saya gag sempat bawa sambel sachet dan indomie ke korea. Positifnya sih, bagasi ketika berangkat gag heboh banget. Secara pas moving dari asrama tumpangan sebelum masuk ke asrama universitas, saya dan alya mesti gotong-gotongan ngangkutin koper pindah dan naik turun tangga subway yang jumlah anak tangganya “heboh” banget. Saran saya, kalau anda travelling ke korea, dan bakal nomaden dari hostel satu ke hostel lainnya,saya saranin untuk gag bawa barang-barang banyak di koper kalau anda enggan buat travelling pake backpack. Fyi, gag semua subway di seoul ada eskalatornya. 

  6. Untuk yang muslim (taat), bisa dipastikan bahwa sedikit kesulitan menemukan makanan halal di korea. Makanan (benar2) halal hanya dapat ditemukan di area sekitar seoul centre mosque yang berlokasi di itaewon. Di kawasan ini banyak banget ditemukan toko-toko yang menjual barang-barang yang dibutuhkan oleh muslim. Karena sebagaian besar, penjual-penjualnya adalah muslim dari timur tengah. Saya gag menemukan wajah-wajah melayu ketika berkunjung ke kawasan ini.

  7. Tips saya untuk yang muslim : kalau mau beli makanan basah, lebih baik rajin tanya ada babinya gag. Kalau untuk makanan kemasan, pastikan bahwa bahan-bahan yang terkandung di dalamnya gag mengandung babi (meskipun kalau dipikir2 gag benar2 100% bebas unsur babi sih..). Saya sendiri muslim, tapi untuk urusan makanan jujur saya akui saya gag strict-strict banget,hehhe.. Jadi selama itu gag benar-benar ada daging (potongan) utuh, saya memilih untuk makan-makan saja. Hal yang kayak gini, pilihan sih... saya pernah “ngerepotin” seorang petugas minimarket di incheon, karena saya ngutak-ngatik mie instan segala jenis yang gag ada babi (daging)nya. Untungnyam pelayan-pelayan di sana ramah-ramah banget, jadinya saya gag merasa gag enakan sama sekali. Dan finally, saya bisa menemukan mie instan yang bebas babi (daging). Dan rasanya enak banget..hampir sama kayak ramyeon yang sering saya makan di indonesia. Alhasil begitu tau produk ini, saya jadi ketagihan makannya. Apalagi pas seminggu terakhir di korea, waktu lagi dingin-dinginnya saban hari hujan peralihan musim panas ke musim gugur.

  8. Mentok-mentoknya gag cocok dengan makanan di negara orang, kita masih bisa menemukan makanan yang cocok di gerai sebuah restauran cepat saji yang populer banget hampir di setiap di negara. Sekedar informasi, di KFC korea gag ada menu nasi yang tersedia. Saya cukup sekali makan kfc pas lagi transit 12 jam di bandara incheon pas mau pulang ke tanah air. Dan karena udah kebiasaan yang mendarah daging, makan daging ayam di kfc rasanya gag afdol kalau gag pake nasi. Alhasil saya cari nasi instant yang dijual di mini market, dan bisa di”masak” hanya dalam waktu beberapa menit dari sebuah mesin otomatis. Lumayan lah, mengobati kerinduan suasa makanan ala indonesia. Meskipun saya akui, bumbu dagingnya beda banget dengan yang ada di indonesia.

  9. Kalau anda mau makan mie instant ketika sedang menunggu pesawat dalam waktu yang lama dan mengharuskan anda untuk stay bermalam di bandara,pilihan ini rasanya jadi pilihan terakhir yang sebaiknya anda pilih. Kenapa ? entah karena memang peraturan general setiap bandara internasional, atau mungkin hanya di incheon IA saja, makan makanan mie instant di dalam area bandara tidak diperbolehkan. Saya sendiri, karena kepalang tanggung udah beli dan kepengen banget makan-makanan yang berkuah, bela-belain buat cari air panas ke restauran-restauran lain yang ada di dalam bandara. Dan thanks God, untuk kesekian kalinya orang korea ramah banget, saya jadi bisa dapat air panas gratis untuk mie instan saya. Dan itu saya dapatkan sampai harus mengetuk pintu dapur belakang restaurantnya.:D

Rabu, 28 November 2012

Kado itu bernama mimpi

0 komentar





Semua punya mimpi. Saya juga. Hanya saja tidak semua orang memiliki “keberanian” untuk mengejarnya. Saya rasa Tuhan cukup adil terhadap waiting list mimpi siapa saja yang akan di-acc Nya. Dan Thanks God untuk Tuhan yang selalu sayang sama saya hingga saat ini saya berani untuk bermimpi dan Dia mengabulkannya tepat di bulan kelahiran saya di tahun 2012. Benar-benar sebuah kado yang paling indah yang saya terima sepanjang 23 tahun saya menjalani hidup.


Mengapa korea ? jawabannya simple. Karena korea adalah “naik haji”nya para Kpop Lover seperti saya. Actually, saya tidak terlalu addicted sekali dengan semua hal yang berbau korea. Terbukti saya tidak cukup hapal dan mengikuti dengan cepat perkembangan setiap drama-drama yang baru keluar. Dan saya juga tidak terdaftar di fansite artis atau group korea manapun. Hanya saja, selera saya memang semua hal yang berbau dengan asia timur. 


Banyak hal yang menjadi alasan mengapa korea menjadi negeri impian yang sangat ingin saya kunjungi.
Satu, karena korea merupakan negara 4 musim yang terdekat dengan indonesia (selain australia pastinya). Kalau mau melihat salju, tidak perlu jauh-jauh ke eropa atau amerika. Dengan jarak yang bisa ditempuh dalam waktu 12 jam perjalanan, korea menjadi pilihan tepat untuk destinasi luar negeri pertama anda (termasuk saya). Jangan takut dengan tingkat keamanan, karena bisa saya pastikan bahwa negara ini sangat amat nyaman dan aman bagi traveller pemula. Saya sudah membuktikannya. Saya pernah pulang berdua sama teman saya, alya _partner perjalanan saya kali ini_ jam 10 malam dari seoul ke incheon yang berjarak kurang lebih satu jam,demi mengejar gerbang asrama yang tutup pada jam 12 malam. Sejauh saya menjalani itu, tidak pernah sekalipun saya mengalami tindak kriminalitas ringan sekalipun di dalam subway atau bus yang saya tumpangi.


Kedua, biaya perjalanan yang relatif terjangkau. Karena harga tukar rupiah atas won (mata uang korea),_pada pertengahan 2012_ masih berkisar 8 rupiah. Hanya saja untuk harga makanan di sana_jika dikonversikan ke dalam rupiah, jumlahnya melebihi harga jual makanan di tanah air. Saya pernah membeli waffle satu potong yang cukup membuat perut kenyang dan sedikit terasa eneg_seharaga 1000 wom (sekitar 8000 rupiah), tetapi harga ini berbeda drastis dengan minuman yang saya pesan_ satu kantong lemon squash_seharga 3000 won ! . Untuk satu minuman yang bagi saya hampir sama seperti es-es jeruk yang saya pesan di penyetan_dengan uang 24000 rupiah. Jangan terkejut jika anda menemui mie instant seharga 1200 won, atau susu kotak seharga sama. Karena begitulah, tips saya..jika berbelanja di sana, jangan sekali-kali mengkalkulasikannnya ke dalam mata uang kita, karena bakal bikin “sakit hati” dan bisa-bisa gag jadi beli !.


Ketiga, meskipun ketika ke sana anda tidak menguasai bahasa korea sama sekali. Tapi jangan khwatir, karena hampir di semua sudut tempat-tempat penting di kota seoul_terdapat tourist information. Pelayanannya sangat memuaskan, dan ramah. Tidak masalah jika anda menanyakan banyak pertanyaan, karena petugasnya akan melayani dengan sabar. Dan di tiap-tiap tourist information tersebut terdapat banyak brosur,peta, buku katalog dalam berbagai bahasa_inggris, korea, jepang dan cina. Barang-barang gratis ini saya jadikan oleh-oleh dari korea, dan saya bagikan kepada teman-teman ketika saya tidak punya barang lagi yang saya bisa bagikan ke mereka. Lumayan, ngirit biaya :P


Note dari saya, meskipun kebanyakan masyarakat korea kurang lancar berbahasa inggris_tidak seperti jumlah orang indonesia yang bisa berbahasa inggris di indonesia_jika kita ingin menanyakan letak suatu tempat, maka mereka tidak segan-segan akan mengantarkan anda ke tempat yang anda tuju. Selama di sana, saya sering kali mengalami kejadian_di mana saya diantrkan oleh orang-orang lokal yang saya temui.saya pribadi adalah orang yang tidak terlalu bisa membaca arah untuk tempat yang baru saya datangi untuk pertama kali. Sering merasa “lost in direction”. Jadilah saya banyak kenalan “dadakan” selama di sana. Contohnya ketika saya dan alya hendak mencari kafe hello kitty di area hongdae, seoul. Karena setelah berjalan cukup jauh, dan memang informasi yang diberikan tidak begitu cukup di buku perjalanan yang saya baca_ saya pun bertanya kepada seorang mbak-mbak yang tengah lewat di depan kami. Padahal pada saat itu cuaca sudah memasuki musim gugur, dimana hujan selalu turun menjelang siang. Jadilah kami ngobrol sambil hujan-hujanan dari titik awal bertemu sampai mendapai kafe hello kitty yang begitu terkenal di seoul. Setelah ngborol2, ternyata mbak-mbak yang saya lupa namanya_itu tengah hendak bertemu dengan pacarnya. Tapi demi kami, dia bela-belain setengah basah mengantarkan kami hingga ke tempat yang dituju.Di akhir pertemuan, sebelum berpisah, kami pun juga bertemu dan berkenalan dengan pacarnya. Benar-benar pasangan yang ramah dan baik hati.


Begitulah korea,,,selalu menimbulkan kesan yang baik selama hampir satu bulan saya berada di sana. Dan nantinya akan saya ceritakan di postingan-postingan saya berikutnya.^^

CInta di mana-mana

0 komentar





Apa  yang bisa dilihat di drama korea, bisa juga anda temukan secara langsung di negara asalnya. Adegan-adegan romantis ala lakon-lakon di Kdrama memang benar saya jumpai ketika berada di sini.jangan heran jika sedang menunggu subway, anda akan menemui banyak pasangan-pasangan yang menggunakan kaos atau aksesoris couple.  Saya kerap mendapati pasangan-pasangan di korea yang tidak segan memperlihatkan “adegan drama korea” ketika berada di tempat umum. Paling lucunya, ketika saya menemukan pasangan,di mana si cowoknya ngipas-ngipasin si cewek.kebalik banget dengan kaum muda kita.Yang ada si cewek yang multi fungsi jadi “babu” pasangannya.hehe..


Pasangan yang saling ngasih “face massage” ke pasangannya, pelukan dan saling “gombalin” di depan khayalak umum merupakan hal lumrah yang saya temui di sini. Budaya “sibuk gadget-an” di dalam subway atau transportasi umum lainnya membuat satu sama lain memilih untuk tidak saling peduli dengan apa yang sedang terjadi di kiri kanan mereka duduk. Saya pernah mendapati sepasang muda-mudi yang “nyaris” ciuman(!) di dalam subway di seoul, padahal di sampingnya ada bapak-bapak paruh baya yang sedang sibuk sama gadgetnya. Beda sekali dengan kita di sini. Ketika sedang berada dalam sebuah perjalanan yang memakan waktu yang lama, tentu kita tidak segan untuk ngajak ngobrol orang di samping kita. Meskipun gag saling kenal. Makanya, selama di subway dari seoul ke incheon atau sebaliknya, saya dan alya dengan iseng sering berbicara dalam bahasa indonesia mengomentari orang-orang yang terasa “unik” di mata kami berdua.Sekedar untuk menghabiskan waktu satu jam di dalam subway yang penuh orang-orang di jam pulang kerja.


Bisa jadi, drama korea telah begitu banyak “mendikte” kebiasaan mayarakat kaum muda korea. Atau malah sebaliknya, apa yang diperlihatkan di drama-drama romatis tersebut diangkat dari realitas keseharian orang-orang korea. Hanya saja, sejauh saya di sana, saya belum menemukan pasangan yang melakukan “piggiback” seprti yang sering saya lihat di drama- drama korea manapun. Entah bisa jadi saya kurang malam berada di luar, atau memang hal tersebut tidak cukup populer di kalangan anak muda korea. Tidak terbayang jika hal-hal ini saya terapkan di indonesia. Yang ada saya bakal kena “hujat” teman-teman sekampung.


Well,Pasangan-pasangan korea memang relatif terlihat “setia” di mata saya. Jarang tuh saya lihat cowok-cowok yang jelalatan matanya ketika ada cewek cantik lewat, sementara pasangannya lagi berada di sampingnya. Beda banget dengan di indonesia. Saya pernah ngobrol dengan teman saya orang korea asli. Ternyata di budaya mereka, dalam sebuah hubungan, yang paling sedih kalau putus cinta itu ternyata pihak cowok. Mungkin ada juga korelasinya kenapa di lagu-lagu ballad, sangat sering saya temui lagu dengan lirik dimana si cowok ngarep banget buat balikan lagi ma ceweknya. Jujur saja, populasi cewek cantik di korea, lebih banyak dibanding cowok cakepnya. Karena berdasarkan hasil ngobrol2, konsumen terbanyak operasi plastik di korea berasal dari kaum hawa. Apalagi di seoul, banyak replika idol2 korea yang saya temukan di jalanan. Selera fashion orang-orang korea, tidak yang muda maupun yang tua, semuanya sama stylishnya. Seoul bagi saya pribadi merupakan “paris”nya asia.


Ada kejadian ketika saya dan alya pergi ke kawasan ngumpul di cheongyecheon stream. Entah karena itu weekend dan malam minggu,entah bagaimana bisa saya banyak mendapati pasangan-pasangan dari berbagai pola di sana. Dari mulai yang lagi pedekate, udah jadian, berantem, lengket-lengketnya, sampai pasangan yang pura-pura biasa tapi aslinya ngarep. Dan pastinya hal-hal seperti ini jadi “santapan empuk” mulut kita bedua. Kita pernah ngomentari pasangan yang lagi asik rangkul-rangkulan mesra di samping kita. Yaelahhhh...drama korea banget. Bagi yang jomblo seperti kami, datang ke kawasan cheonggyecheon stream di saat weekend, meskipun niat awal mau refreshing berendam kaki, pulang-pulang yang ada malah “gerah”.hehehe... Tapi toh, mereka tetap tidak risih dengan pandangan siapapun, termasuk kami yang memang gag biasa dengan apa yang kami lihat.


Sekedar info Bagi para kaum hawa, ngecengin cowok-cowok korea yang udah gag available merupakan sebuah kesia-siaan. Karena apa ? kata teman saya nih, cowok korea kalau udah punya pacar, susah buat pindah ke lain hati. Teman saya sendiri awet-awet aja tuh sama ceweknya padahal udah dari tahun awal kuliah mereka pacaran. Dan psstttt...cowok korea biasanya “manut” sama ceweknya.
Kecenderungan cowok korea suka sama wanita yang lebih tua memang benar adanya. Itu juga kenapa ada lagu “replay”-nya SHINee., nunna nomu yeppo..(kakak sangat cantik), karena memang realitas kaum muda korea seperti itu. Saya sendiri tidak pernah menanyakan alasannya kepada teman2 saya. Bisa jadi karena cowok korea beranggapan bahwa dengan menjalin hubungan ke wanita yang lebih tua secara umur, dapat meningkatkan tingkat pemahaman hidup dan kedewasaan mereka. Secara cowok korea rata-rata workaholic, gila bekerja keras, jadilah mereka membutuhkan orang yang dewasa buat bisa mengerti mereka, yang gag bertingkah kekanak-kanakan.


Selain tontonan yang beredar, spot-spot penting juga ikut mempengaruhi budaya pacaran romantis orang korea. Ketika pergi ke namsan tower, yang ada gembok-gembok cintanya, saya menemukan banyak sekali gembok-gembok warna unyu bertuliskan nama-nama pasangan dengan harapan bisa hidup sama-sama selamanya. Selain gembok, ada juga “love message” yang ditempel rapi di sebuah dinding gerai cinderamata namsan tower. Orang-orang korea memang sangat suka sekali ngekspresikan ungkapan sayang mereka ke pasangan secara terang-terangan.


Dan uniknya, hal ini malah mampu dijadikan “daya tarik” wisatawan luar untuk datang ke korea. Saya pribadi akui, awal ketertarikan saya pada korea _tidak lain dan tidak bukan karena sering ngelihat drama korea yang full adegan romantis mengharu biru. Sayangnya, sampai hari terakhir saya di sana, saya belum sempat ke pulau romantis lokasi syuting drama korea terkenal “winter sonata”_nami island. Saya berharap, suatu saat saya akan bisa pergi ke sana bersama pasangan hidup saya. Karena dengar2 dari teman saya nih, pergi ke nami island dalam keadaan masih jomblo itu sangat gag enak banget. Siap-siap iri sama suasana romantisnya pulau itu, apalagi kalau datang pas lagi winter. Beuhhh...berasa jadi beruang kutub deh kayaknya :P
 

aku punya blog !!! Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez