Kamis, 30 April 2009
Rabu, 29 April 2009
Minggu, 05 April 2009
Pendek banget...
“Aku pulang dulu ya,kei”
Windi berlalu dari hadapanku. Satu persatu sudah keluar dari ruang kelas. Tinggal beberapa gelintir orang yang masih berkutat dengan kegiatanya masing-masing, tanpa menghiraukan tlah berapa lama mereka berada di sana, setelah kelas usai. Dan aku termasuk di antara mereka. Papa belum datang menjemputku sama sekali. Entah dengan yang lainnya. Yang kutahu, hampir sebagian besar di antara mereka, melewatkannya dengan berpasang-pasangan. Terkecuali aku, dan…
“Hei, boleh aku duduk di sini ?”
Seseorang mendatangiku dan selanjutnya, semuanya pun bermula…
*-*-*
Tiga tahun telah berlalu semenjak hujan itu turun, mengiri pertemuan yang sampai saat ini akan terus kuingat. Andra ada di sana. Laki-laki hujan. Begitu aku menyebutnya. Satu sebutan yang kudapat dari sebuah novel yang pernah kubaca. Dialah lelaki hujanku.
“Aku menyukai hujan, sama halnya dengan aku menyukai takdir itu, takdir yang mempertemukan kita”
Ucapnya,setelah setahun berlalu, sekaligus menjadi tahun-tahun pertama penantianku dimulai. Andra telah meninggalkanku untuk menamatkan mimpinya di tanah kehidupan yang lain,terpisahkan beribu mill jauhnya di seberang sana.
“Aku akan kembali dalam hujan yang sama,beberapa tahun lagi” ucapnya di akhir senja itu, saat pesawat yang akan membawanya dan segenap kenangan-kenanganku akan andra lepas begitu saja.
“Bawalah mimpi-mimpimu jauh dari sini,kei.Lupakan aku jika, bertahun-tahun aku tak datang”
Menjadi kata-kata terakhir dalam perpisahan.
Selanjutnya, andra memelukku erat. Hujan pasti akan turun…aku yakin itu,
*-*-*
Dan hujan tak turun lagi selanjutnya.Kemarau seolah menggodaku untuk menghentikan penantian ini. Tak ada kabar, tak ada sedikitpun titik terang di mana aku harus mencari andra. Yang ada hanya aku, dan kenanganku bersama hujan.Pertemuanku di saat itu terasa begitu singkat, selama setahun itu pula, pencarianku terus berlanjut. Apakah andra telah melupakanku, atau malah melupakan sedari awal pertemuan ini memang terasa begitu sulit untuk kuterima. Berbulan-bulan, musinm ke musim, aku tak menemukannya lagi,lelaki hujan itu.
Dan aku yakin, hujan pun pasti akan turun….
*-*-*
Kupeluk erat bingkai photo dalam dekapanku. Andra ada di sana. Dalam sapaan yang sama. Dalam waktu yang sama. Dua masa telah kulalui, aku tak menemukannya. Dia terlalu jauh untuk kujangkau. Apakah saat itu, benar firasatku bahwa andar tak pernah menganggapku ada dalam setiap kenangan dalam hidupnya ? Bahwa apa yang telah kita lakukan, lewatkan, sampai sejauh manapun, tetap tak berbekas, layaknya hujan yang mampir sesaat, sekedar untuk menghapuskan kemarau panjang dalam hidupku ??
Nama itu seolah kini tak bisa lagi terjawab indah,..ANdra..
Berpuluh-puluh penantian tak kan pernah kunjung usai. Seusai kemarau dalam hidup ini, semuanya pasti akan berakhir, meskipun pelangi tak kan pernah ada di penghujung hari.
Dan hujan pun kini turun….
*selesai*
Yogyakarta,1927 050904
“Wkakakak,so mellow…”
Sabtu, 28 Maret 2009
Last Poem
Seorang anak kecil tediam dalam senyapnya
“Philosophia !”
Begitu ucapnya sesaat
Lantas, kembali ia terdiam
Jejak jekjak langkah yang terukir dalam peradaban
Kematian ;
Tangis kelahiran penciuman keduniawian ;
Seringai zaman ;
Dan
Blarrss !!!
Kabut gelap_pekat_hitam kelat
Hentikan lorong waktu yang menatap hampa
pada kata yang tak bermakna dalam ritme balada
hidup anak manusia
Apakah aku manusia ?
Manusia
Manu
Manus
Anu
Anusi
Siapa ???
Euphoria tergelak ;
Apa itu manusia ?
Yang tertinggal disanakah ia
Dalam ejaan alphabetis syair kehidupan
Alunan pujangga aristoteles nan Socrates ???
Atau
Ia yang terpatri dalam serenande bergulat hymne
Rindu syair mahabaratha cinta ???
Ah, manusia
Manusia
Manu
Manus
Anu
Anusi
Siapa ???
“Philosophia !”
Januari 08
_dan aku memulainya lagi_
Jumat, 27 Maret 2009
GaJee.....
.jpg)
“Aku kangen asrama, rey…”
Seutas kalimat ini keluar begitu saja dari mulutku dari akhir curhatku ke reyza sore hari ini. Berjam-jam di sini, di tepi kolam ikan taman rumah rey, ditemani secangkir teh cukup membuatku menemukan pada akhirnya apa yang ingin aku ungkapkan. Meskipun ini adalah cerita pertama dengan tema yang berbeda dari sebelumnya, aku tahu rey pasti memahami apa yang saat ini tengah kurasakan.
“Kalau itu yang memang membuatmu merasa sedikit lebih baik, akan kuatur semuanya”
Reyza memegang tanganku erat. Kusandarkan kepalaku ke bahunya. Aku menatap ke hamparan rumput hijau nila yang tertata rapi, semilir angin di sore ini setidaknya mampu membuat kepalaku sedikit merasa lebih ringan. Beban yang selama seminggu ini mendera, akhirnya kutemukan juga solusi dari semuanya. Aku ingin kembali kesana…Secepatnya,
*-*-*
Aku merapikan lipatan terakhir baju di dalm koperku. Siang ini juga, tepat pukul 2, pesawat yang akan membawaku ke bangka akan diberangkatkan. Semua jadwal yang dulu pernah tersusun di sini, akhirnya akan terwujud juga. Rey yang meyiapkan semuanya. Aku memeluk sahabatku erat. Betapa dia tahu, hal ini sangat begitu penting untukku. Pulang ke bangka, kampung halaman yang telah lama tak kukunjungi. Awalnya Rey akan berangkat bersamaku, namun begitu kukatakan bahwa aku akan baik-baik saja selama di sana, sekalipun dalam perjalanannya akan kulalui seorang diri, toh rey akhirnya lebih mengerti maksud dari alasanku yang sebenarnya. Bahwa aku memang ingin menghabiskan waktu dan menikmatinya dengan caraku tersendiri seperti biasanya, berkutat dengan kesendirianku.
“Kalau perlu apa-apa, kabari aku. Di bangka, kenalanku lumayan banyak.Dan bantuan akan siap kapanpun kau mau”
Aku tersenyum. Rey berdiri di ambang pintu.Memperhatikanku sedari tadi.
“Kau tak perlu bersusah payah. Aku masih cukup kuat kalau hanya untuk menelpon rumah sakit terdekat ataupun agen tiket pesawat agar memulangkanku ke Jakarta” candaku pelan. Jelas rey tak suka seperti biasanya. Bukanlah suatu hal yang patut diguyonkan, begitu pasti yang akan diucapkannya.
“Ransel ini harus kau bawa ke manapun kau pergi. Dan ini, ini alamat yang bisa kau tuju jika kau benar-benar memerlukan bantuan saat itu juga. Aku bisa datang dan menemuimu di sana”
Rey memberikan sebuah ransel biru dan selembar amplop putih kepadaku.
“Jangan sampai lupa kau bawa” lanjutnya.
Aku memasukkannya ke bagian dalam tas ranselku. Di bagian yang tanpa Rey tahu, bagian terdalam dari semua barang yang ada di dalmnya. Berharap tak akan pernah kusentuh untuk kedua kalinya. Bergegas kututup ransel, jangan sampai rey menyadarinya dan lantas kemudian menegurku.
Detik selanjutnya, kupilih untuk diam. Larut dalam pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Dan dari sudut mataku, aku tahu, bahwa rey terus saja memperhatikanku_lekat.
*-*-*
“Hati-hati di jalan. Jangan lupa menelponku setiap saat”
Rey menyerahkan sebuah ponsel ke dalam genggaman tanganku.Aku memperhatikannya lekat.
“Masuklah”
Ucapnya segera.sebelum sempat aku menanyakannya lebih lanjut.
Kumasukkan ponsel itu ke dalam sakuku. Pesawat yang akan membawaku ke bangka sebentar lagi akan berangkat.
Aku tersenyum ke arah rey, memberi isyarat bahwa sebentar lagi aku akan berangkat.
“Semoga liburanmu menyenangkan”
Aku tahu itu, Rey.Dan itu yang akan kukatakan padamu juga.
Detik selanjutnya kupeluk rey erat.
“Terimakasih untuk semua ini” bisikku pelan. Rey memelukku lebih erat lagi.
*-*-*
.jpg)
Perjalanan yang membawaku ke bangka akan menghambiskan waktu selama satu jam. Satu menit yang lalu, Jakarta telah kutinggalkan. Kurogoh saku sweaterku, ponsel yang diberikan rey ada di sana.Bergegas kupindahkan ke dalam tas sandangku, agar lebih aman. Toh, aku juga takkan menggunakannya selama di sana.
Hamparan biru laut telah membentang jauh berapa kaki di bawahku.
Kupilih untuk tak menghabiskan sisa perjalanan ini hanya dengan memejamkan mata. Terlalu berharga untuk melewatkan setiap detik perjalanan ini. Sekalipun jelas kurasakan lelah. Semalam, tanpa sepengetahuan rey, kuhabiskan setengah malam suntuk hanya untuk membuat daftar tempat apa saja yang ingin kukunjungi Selama di bangka. Semuanya terekam juga dalam memori otakku erat. Telah sekian lama kurencanakan perjalanan ini. Pulang ke bangka, merasakan debur ombak pantai tenang, semilir angin laut serta mencium bau khas air pantai sembari menanti sunset tiba merupakan ritual wajib yang tak boleh terlewatkan. Bangka memiliki banyak potret landscape panorama pantai yang tak kalah indahnya dibandingkan kuta ataupun senggigi. Ah, betapa sangat kurindukan semua itu. Aku pulang…
*-*-*
Rey menatap lurus kea rah jalanan kota Jakarta yang semakin padat. Terjebak dalam kemacetan seperti biasanya. Matanya tertuju kea rah bingkai photo yang berada di atas dashbor mobil yang dikendarainya. Ia dan sitta ada di sana. Photo terakhir yang diambil di depan siluet patung singa, ketika ia dan sitta menghabiskan malam tahun baru di singapura penghujung tahun lalu.
“Kita akan mengunjungi semua tempat indah di belahan dunia ini, rey” ucap sitta optimis saat itu, saat untuk pertama kalinya petualangan itu dimulai.Paris menjadi kota pertama yang mereka kunjungi. Dan tentu saja, kemegahan menara Eiffel menjadi bukti bahwa saat itu adalah titik awal dimana rey mulai memasukkan seorang sitta dalam kehidupannya.Meskipun posisinya hanya sebagai seorang sahabat. Sitta memiliki pandangan lain dalam menilai kehadiran dirinya, yang ia tahu.
“kita memiliki banyak waktu untuk hari ini dan seterusnya” sitta menggenggam erat tangan rey saat collozium roma menjadi tujuan kesekian yang mereka capai. Imperium, Spartan, Galadiator menjadi bahan cerita yang tak hentinya keluar dari mulut sitta.
Dan perjalanan kali ini, rey memilih untuk tidak ikut. Meskipun ia tahu, kepergian sitta kali ini menjadi ending tersendiri yang bisa ia tebak selanjutnya. Dan rey kembali tenggelam dalam pemikirannya sore hari ini.
*-*-*
“Akhirnya dia menikah juga rey,”
Rey memelukku erat…membenamkan kepalaku ke dalam pelukannya. Airmataku jatuh. Entah berusaha untuk tetap tersenyum atau malah memilih untuk larut dalam berita kesedihan ini.Arie adalah masa laluku. Dia adalah bagian hidup yang memang tak dapat terbuang, ataupun dibuang. Sampai saat inipun…
Reyza terdiam. Kali ini kebimbangan yang sama menyelimutinya. Di satu sisi, sebagai satu pihak yang sedikit banyak mengharapkan ini terjadi, hal ini menjadi berita gembira yang menunjukkan bahwa kesempatan itu semakin terbuka. Tapi di sisi lain, sebgai seorang sahabat tak mungkin begitu saja lantas rey menunjukkannya di moment-moment seperti ini di hadapan sitta.
“Aku gak pernah rela rey…”
Dan tangis sitta pecah, seperti halnya hati rey begitu mendengarnya.
*-*-*
Aku mencintaimu laksana angin yang ketika hujan mampu menggantikan panasmu di penghujung musim ini…-Rey-
Secarik kertas, lebih tepatnya potongan kertas jatuh di pangkuanku. Kulihat sekelilingku, tak ada siapapun. Kosong.
*-*-*
Pesawat yang membawaku ke bangka, mendarat dengan sempurna di bandara sepintu sedulang, pulau bangka. Bergegas kukemasi barang-barang dalam bagasi atas.Kali ini aku tidak ingin terlambat. Aku harus tiba di sana secepatnya, sebelum hal itu terjadi.
Baru saja kulangkahkan kaki menuju pintu pesawat.Sesuatu bergetar dari arah saku sweaterku.Ponsel yang diberikan rey.Kuindahkan saja, aku tidak ingin kali ini kembali kulakukan langkah yang salah. Aku tahu, rey pasti hendak menelponku. Maafkan aku rey,..tak bisa dengan begitu saja kutamatkan perasaan yang selama ini kujaga dengan lantas menggantikannya dengan sesuatu yang baru beberapa tahun ini mencoba untuk kurasakan.
Semua mimpiku, impianku, mengelilingi semua tempat terindah di dunia ini, adalah bagian sisa kenanganku dan masa laluku bersama arie, sekalipun yang ada pada saat itu adalah kau rey…Tapi, bukan berarti semuanya terganti begitu saja. Terlalu banyak yang telah kukorbankan bersamanya rey, tak semua cerita itu kau tahu, dan tak semua bagian itu harus kubagi apalagi kutukar denganmu…
Aku menghembuskan nafas pelan. Bau tanah bangka, menjadi hal tersendiri, bahwa aku sangat merindukan semua ini. ..Maafkan aku rey,
Kugigit bibirku pelan. Miris. Kupejamkan mataku, kumelangkah pasti, berharap apa yang kulakukan ini tak salah, yang kemudian harinya tak akan kusesali. Aku yakin itu,
*-*-*
Tuttt…tuttt…
Tak ada jawaban. Untuk kesekian kalinya.
Sitta tak mengangkat telponnya.
Semuanya akhirnya terjawab jelas. Kepulangan ini takkan terbalas seperti apa yang diharapkannya. Akhir yang indah..
Rey mencoba sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Ditekannya no tujuan panggilannya. Atas nama sitta.
Tutt…tutt…
Senja semakin beranjak turun. Ruang tunggu keberangkatan luar negeri sudah semakin ramai. Rey memeriksa semua yang telah disiapkannya. Tidak satu minggu yang lalu, beberapa bulan,bahkan 2 tahun yang lalu…saat disampingnya perempuan bernama sitta selalu ada. Perancis, London, amerika, menjadi tempat tersendiri. Dan kali ini, tujuan terakhirnya adalah belahan afrika. Rey telah memutuskan untuk menerima tawaran tugas sukarela praktik ke salah satu Negara di afrika. Sebagai bentuk pengabdiannya. Dan tentunya….terhadap janjinya pada diri sendiri, bahwa ketika mimpi satu tak kau capai, kejarlah mimpi lain yang Selama ini sempat kau tinggalkan..
Sitta telah mengejar mimpinya..Setidaknya dulu, beberapa waktu yang lalu, mereka pernah mengejar mimpinya bersama-sama…
Dan kali ini, sebuah pilihan telah diputuskan.
Tutt…Tuttt…
Tak ada suara.
Terima kasih sitta untuk dua tahun terakhir ini.
Atas mimpi yang selama ini pernah kita raih bersama.
Rey menatap ke depan. Sebentar lagi pesawat yang akan membawanya meninggalkan Jakarta akan segera berangkat. Entah kapan lagi, akan dijejakkan kakiknya ke sini. Nun jauh di sana, di pulau seberang, terpisahkan laut, rey yakin, sitta pun telah mengejar mimpinya.
Rey menatap selembar kertas yang didapatinya, dimalam sebelum keberangkatan sitta ke bangka. Saat sitta tertidur, dan didapatinya lembaran kertas ini tanpa disengaja, entah apakah menjadi takdir atas jawabannya selama ini bahwa sekian tahun posisi arie tak pernah bisa mampu digantikannya. Dan daftar itu…daftar tempat-tempat yang akan dikunjunginya di sana…tempat yang dulu dan sekarang menjadi kenangan sitta…bersama arie.
Rey menatap pelan.
Dingin ruangan ini benar benar dirasakannya.
Tuttt….
Tak ada jawaban.
*-*-*
Aku tidak jadi menikah.Kita akan pergi meninggalkan semua ini.
Kutunggu kau di ruang tunggu keberangkatan, 5 menit setelah pesawatmu datang. Aku telah menyiapkan tiket menuju padang. Disana kita akan memulai segalanya dari awal kembali
-Arie-
*-*-*
SELESAI
Yogyakarta, 22:00 Maret 2709
“The impossible happening story…”
Kamis, 12 Maret 2009
jingga
Siang ini cuaca tak seperti biasanya.Masih terlihat begitu cerah. Padahal beberapa hari belakangan ini awan mendung masih menaungi kota Yogyakarta. Hal ini yang terkadang membuat Vei malas untuk keluar ke manapun. Tidak juga untuk beranjak menengok ke luar begitu hujan telah reda. Semuanya terasa berat.
“Lalu, bagaimana dengan rencanamu berlibur ke Lombok,vei ?” mama bertanya sore hari ini. Saat semua anggota keluarga sedang tidak ada di rumah. Papa pergi ke luar kota, sementara mas Diaz, gak tahu ke mana.Palingan nongkrong seharian di laboraturium kampus, berkutat dengan eksperimen kimia, yang saban hari telah menjadi rutinitas abangnya itu.
“Gak jadi ma. Di sana juga sama, musim hujan. Gak lucu aja, diguyur hujan gini liburan ke pantai”
Vei memperhatikan sesuatu di luar jendela sana. Taman bunga mawarnya makin berbunga indah. Merekah.
“Trus, liburan kali ini bakal kamu habisin di rumah aja ?”mama berjalan kea rah dapur. Namun, karena hunian keluarga Vei memkai konsep minimalis, suara mama terdengar masih begitu jelas, sekalipun sedang berada di dapur. Jarak ruang tengah dan dapur tidak begitu jauh.
Vei menoleh ke belakang, kea rah mama yang ternyata tengah sibuk menyiapkan teh, pertanda kalau bentar lagi papa pulang kerja.
“ya, apa boleh buat. Vei milih gak ke mana-mana aja” vei merengut. Menekuk wajahnya.Dan kembali mengarahkan pandnagannya ke depan, ke arah luar jendela. Sinar matahari sore semakin membuat warna merah mawar menjadi semakin merona.Tapi tetap tak berniat sama sekalii untuk keluar.
“Apa kita mengunjungi mbak kikan saja ?” mama telah selesai menyiapkan secangkir teh, dan kini mengalihkannya lagi ke acara menata biscuit satu-persatu ke piringan. Jamuan minum teh ala keluarga Vei, seperti biasa, akan segera digelar. Papa, mama, dan Vei sendiri adalah tamunya.
Vei menggeleng. Mengunjungi mbak kikan adalah salah satu hal yang paling tidak diinginkannya. Mengunjungi mbak kikan sama asrtinya mengunjungi sepupu ‘tercinta’nya_diandra, dan itu sama halnya juga,membangkitkan kembali kenangan-kenangan buruknya dengan saudara pihak ibu yang tak pernah bisa ia ajak kompromi itu.
“Lagi gak mood berantem ma dian” jawab Vei.
Mama tersenyum. Vei…vei..masih saja gak bisa akur ma sepupu sendiri..
“Abisnya c, dian terus yang ngajak berantem. Deket dia, bawaanya gak pernah damai mulu..” Vei cemberut. Kalau sudah ngomongin dian aja, gak ada bagus-bagusnya d…
“lho kok jadi ngomongin dian c…kan mama Cuma nawarin mw ngunjungin mbak kikan atau gak..Sydney-Yogya kan gak terlalu jauh”
Vei tetap menggeleng. Terkesan terlalu jauh jika harus menghabiskan masa liburannya untuk bepergian ke luar negeri. Selain melelahkan dan menghabiskan waktu dengan segala persiapan tetek bengeknya, liburan ke luar negeri baginya merupakan sebuah pemborosan uang jajannya. Karena dengan begitu, mama pasti akan memotong sebagian uang jajannya jika Vei lebih memilih untuk berlibur tidak di dalam kota, apalahi Negara.
“Vei di sini aja deh ma..” Vei memeluk bantal kursi yang sedari tadi didudukinya.
Mama menyudahi kegiatannya dengan menutup lemari penyimpan makanan, dan lantas menaruh kaleng biscuit ke dalamnya.
Ting.Tong.
Bel berbunyi dari luar.
“Biar mama aja yang bukain”
Palingan mas Diaz yang lagi iseng,sok-sokan pencet bel buat dibukain pintu..batin Vei
“Vei…Tebak siapa yang datang, sayang”
Suara mama makin mendekat. Terdengar lain dari biasanya.
“Tarraa…Here I come !!!” vei kelimpungan ketika sesosok tubuh merangkulnya dengan cepat.
“Ih…apaan c ?!” Vei mencoba melepaskan rangkulan itu. Dan ketika Vei menoleh..
“Dian ?! Oh, my Goodness, ngapain kamu di sini ??”
Dian cengengesan. Dia tahu meskpun penyambutan tak bakal semeriah, seperti biasa..Vei pasti akan menyakan mengapa ia harus berada di sini.
“Hello, ya liburan lha…Kamu c ditungguin liburan ke sana gak pernah nampakkin batang hidung.How are you, dear ?”
Mama tersenyum sembari berjalan menuju pintu. Sebuah suara sepertinya tengah berada di sana.
“Buat apa coba aku maen ke Sydney ?? Mendingan dalam negeri aja deh, atau minimal…”
“Dian, how can you forget this, honey…” mama setengah memekik. Dan..
“Robert !!! I’m so sorry…” dian melepas rangkulan tangannya di Vei, dan lantas berdiri menghampiri sesosok yang begitu terlihat kelimpungan dengan segenap barang bawaannya.
“Its okay…Never mind..”
Yang di hampiri terlihat begitu kikuk denga perlakuan ‘berlebihan’ dian.
“Beneran kamu gak apa-apa ??Oh No…really-really make me so guilty…”
Vei bengong. Nih orang salah masuk kali ?atau jangan-jangan di lagi bermimpi ??
“Hi..” sesosok itu menyunggingkan senyumnya.Dan dia terlihat begitu familiar di mata Vei…
Saat Hidupku Harus Memilih..
Untuk beberapa detik ini, kemarin berlalu dengan begitu saja…semuanya seaakan berjalan tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan.Tapi semua ini salahku.tak ada yang salah dengan kanan, hidup ini, apalagi Tuhan. Tuhan tak mungkin salah menempatkanku. Apapun itu, kuharap akan berujung bahagia. Kutahu ini tak mudah, tapi tak mungkin dan tak akan ini berharir di saat yang tak seharusnya semua ini berakhir. Semua hal yang terindah dalam hidupku akan kujalani di sini. Tak akan ada lagi cacat noda di sini, tak akan ada lagi sebuah kisah yang salah, yang seharusnya tak hadir saat ini. Maafkan aku atas kesalahan ini, Tuhan…janjiku tak akan ada dan terulang lagi…
Bukankah hidup itu indah pada akhirnya ? tak ingin kujalani semua ini dengan ketergesa-gesaan…kisah yang salah, aku tak kan menyapamu lagi, untuk itu….maafkan aku,
Well, semuanya terasa abstrak, sangat abstrak….itulah hatiku, saat kisah yang salah itu bermula…
Desember Itu...
Uluran tangan itu, tangan yang sama seperti beberapa bulan yang lalu.
“Nasya…”
Kubalas, seperti beberapa saat yang lalu itu juga.
Dan selanjutnya, obrolan pun berjalan seperti seharusnya. Obrolan ter-kosong yang selama ini pernah kulakukan. Dengan seseorang yang bagiku tak seharusnya hadir dan menampakkan diri di hadapanku, bersikap seolah-olah antara aku, dia dan beberapa orang itu tidak pernah terjadi hal-hal spesial atau setidaknya mengesankan. Mungkin bagi dia…tidak untukku pastinya !.
“Kau masih mengingatnya, sya ?”
Helaan nafas sejenak. Bulan lalu semuanya berjalan ibarat cerita yang kerap kutulis, atau mimpi yang senantiasa kubayangkan. Indah…sangat indah…sampai akhirnya…
“Aku tak bermaksud untuk menghadirkan vei…”
Helaan nafas lagi. Nama yang sama yang kau sebut beberapa bulan lalu juga.Apapun itu, saat ini kau uturakan dan coba perjelas ke padaku, semuanya jelas tak kan pernah berjalan seperti beberapa bulan lalu…Bukan dia yang kusalahkan, tapi semua hal ketidakberdayaanmu menahan utuk tak membiarkan dia masuk lah justru yang selalu kusalahkan. Bukan seorang dia, tapi sosoknya lah yang ku kecewakan kenapa justru yang mengisi hari-harimu beserta segenap ruang perasaanmu.
”Aku sudah melupakannya asal kau tahu…”
Ya, dan melupakanku juga,pastinya !.
Berhentilah berharap kalau aku akan melupakan semuanya dan lantas bersikap normal seolah-olah antara aku dan kau, selalu akan mengigat hal-hal terindah yang pernah kita lewati, sebelum ikatan itu muncul.Persahabatan…
“Kita bisa jadi teman lagi kan ?”
Ya, dan mungkin akan terjadi sampai aku benar-benar mampu memaafkan kealpaanku mengenalmu !
Tak segampang itu. Seperti halnya kita kau kujadikan lebih dari sekedar teman.Dan saat ini, begitulah caraku memaafkan kesalahanku
“Semuanya akan baik-baik saja sebenarnya”
Ya…akan terjadi ketika ku tahu kau benar-benar tak menampakkan diri dihaddapanku lagi untuk selamanya !
Dan obrolanpun berjalan_kosong.
….
Senja yang kulihat terasa sangat tak biasa dari seharusnya. Senja yang kutanyakan pada bunda_biasa saja, namun entah angin apa dan datang dari mana, semuanya tergambar begitu indah. Dan kuhabiskan penghujung siang ini di sini, di ujung daratan yang terkadang menjadi saksi dingin betapa aku sangat menikmati kesendirian serta kesepian ini. Kesepian yang di sisi lain mampu memberiku pemahaman bahwa di dunia yang hiruk pikuk ini, setiap pribadi selalu membutuhkan ruang-ruang hidup kosong sejenak untuk mengerti arti dari hidup itu sendiri. Kita datang ke dunia memang ditakdirkan untuk menetralisir kesunyian dunia.
Sebentar lagi matahari terbenam. Angin lautpun sudah berhembus pelan. Musim dingin tahun ini, benar-benar terasa dingin. Tapi itulah letak seninya. Yang jarang didapatkan oleh siapapun di belahan dunia manapun yang kesehariannya senatiasa bergulat dengan gemerlap dan hedonisme dunia. Dingin seperti inilah yang mampu membuat jiwa menghangatkan setiap hati yang kosong…
Penghujung bulan inipun masih sama, apakah aku akan tetap berada di situasi seperti ini. Tahun lalu saja, bunda menyuruhku untuk pulang…Pulang ke pelukannya. Jelas, aku merindukan kehangatan itu. Tapi tidak untuk sekarang…Saat ini aku ingin menikmati kebekuan ini. Sampai diriku benar-benar merasa jenuh dan lantas memilih untuk beralih dan berharap takkan kutemui lagi aku yang seperti ini.
“Bulan depan aku akan kembali ke sini lagi, sya…menemuimu”
Nun jauh di sana, camar laut telah beranjak kembali ke sarangnya.
Kapanpun dan sesering apapun kau menjenguk hati ini, semuanya takkan kembali lagi.Telah kubuang jauh-jauh rasa itu, telah kukubur dalam-dalam kenangan itu, sekalipun suatu saat nanti kau ingin membukanya kembali…kau takkan menemukan hal yang persis sama seperti apa yang belakangan ini kau harapkan. Jangan pernah bermimpi denganku…
Dan hujan pun mulai turun…
….
“Bunda, besok nasya berangkat…”
Kubisikkan kata-kata itu perlahan di telinga bunda. Ia sedang tertidur dan terlelap di sana, entah sampai kapan. Sudah sebulan ia berada di pembaringan ini. Dokter memvonis bunda koma selama waktu yang tak bisa diperkirakan lagi.Sejak kejadian itu…
“Kamu yang kuat ya nak…Beginilah hidup. Selalu ada yang datang, begitu juga dengan kepergian. Bunda tak menyalahkan siapapun dalam hal ini. Mungkin, yang di atas tak mengizinkan pernikahan ini terjadi. Seseorang telah dipersiapkan untukmu, tanpa kau sadari_meskipun tak sekarang”
Kugenggam erat jemari bunda. Bukan diriku yang mesti kukuatkan, tapi pribadi jemari ini. Aku tahu…dalam hati yang sebenarnya, bunda pasti kecewa, begitu tahu, semuanya dibatalkan begitu saja.
Kutatap mata bunda. Ada kekosongan di sana, meskipun seulas senyum itu masih tetap ada. Seperti biasanya…
Kutatap lagi disekelilingku. Gordin putih, rangkaian bunga, deretan kursi, tetap saja semuanya terasa hambar. Dan lebih-lebih, saat kutatap selembar kertas bertuliskan ada namaku di sana, dan nama seseorang yang mulai saat ini, detik ini, tak kan pernah lagi kusebut namanya…sampai kapapnpun…
Nathan..
Untuk yang terakhir kalinya…
…
“Aku akan menunggumu”
hening
“Akan kubuktikan kalau aku mampu memperbaiki semua kesalahanku”
Diam
“Kamu cukup memberikan kesempatan itu padaku”
Sunyi
“Terserah bagaimanapun sikapmu padaku”
Kosong…
Ya, yang terakhir itu juga yang sebenarnya ingin kusampaikan padamu sedari awal pertemuan kita di bulan ini
Terserah…
Dan obrolanpun berjalan_Hambar.
Yogyakarta, Des 2508
“Untuk seseorang yang maaf…aku tak kan pernah menjadi seperti sediakala lagi. Terimakasih atas semuanya..Spirit 4 the better life !”
…SElesai…
In d Crime
“Bagaimana ? Seharusnya kau mengetahui semuanya. Mengapa harus aku ?”
Kuap itu tak tergantikan sejenak. Malam kian larut, derai hujan masih meningkahi bunyi kodok sawah yang tak henti bernyaynyi, bersahut-sahutan, sekalipun rembulan telah beranjak dari peraduannya.
“Apa kau masih percaya pada keajaiban ?”
Tanya itu masih sama. Aku mengangguk. Jelas saja, bagaimana aku tak
“Tuhan tak pernah salah waktu saat mendatangkan pertolongannya.Sekalipun otakmu hanya mengatakan hal tersebut sebagai keberuntungan hidupmu semata.Dan aku sampai kapanpun tak akan pernah percaya pada apa yang namanya keberuntungan”
Ya, berkali-kali selalu kau katakan itu. Dan berkali-kali pula aku selalu meyakininya sebagai keyakinanku juga bahwa hukum sebab akibat selalu berlaku pada situasi apapun. Tuhan akan memberikan apapun yang pernah kau minta dengan pertimbangan bahwa kau telah melakukan sesuatu yang memang patut untuk dipertimbangkanNya. Kau melewati uji kualifikasi itu !. Tanpa kau sadari sama sekali !
“Tapi aku tidak pernah melakukan sesuatu hal yang menurutku terbaik dalam hidupku”
Aku mencoba membela diri. Setengah logikaku belum terlalu mau untuk kuajak berdamai dalam hal ini.
“Hawa nafsu masih menguasaimu, kawan”
Ah, shit !. Aku membenci kata-kata itu. Seolah apapun yang kucoba jadikan argument_kau selalu menganggapnya tak lebih dari luapan kepekaan perasaanku yang terlalu berlebihan.
“Terserah_”
Kau tertawa sejenak. Tawa yang lebih kudengar tepatnya seperti seringai.
“Aura positif belum mampu untuk kau hadirkan dalam sebagian pemikiranmu. Kau terlalu apatis dalam menyikapi semua yang terjadi dalam batinmu. Meskipun_aku tahu_bersikap jujur pada diri sendiri memang tidak akan pernah semudah ketika kau menghabiskan separuh isi kartu kreditmu”
Lagi-lagi kau tertawa_yang menurutku_lagi-lagi pula_bukan sesuatu yang patut untuk ditertawakan
“Cobalah untuk lebih mengakui semuanya_aku yakin_orang sepertimu tak mungkin tak begitu tahu jelasnya apa yang menjadi inti permasalahanmu”
Dan lagi-lagi kau tertawa.
….
Mata itu kini menusukku dari kedalaman. Hawa panas melingkari otakku. Entah apa yang kurasakan sekarang. Berawal dari sebuah tawa antara dua anak manusia yang kini berada tepat beberapa radius meter dari keberadaanku. Come on,They just act like normally !
Tak ada yang salah.Oh…tapi apa yang terjadi pada diriku ?
Benarkah tawa itu ? Aku membencinya.Tak lebih seperti yang kudengar dari mulut sam beberapa jam yang lalu.Semalam.
Benarkah apa yang dikatakannya bahwa aku terlalu angkuh untuk tak mengakui apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Bahkan terlalu pengecut untuk sekedar mengatakannya.
“Hawa nafsu masih menguasaimu, kawan”
“Cobalah kau lebih jujur dan mengakui semuanya”
Shit !
Kulemparkan gelas plastik yang berada di genggamanku ke arah yang sedari tadi kemana pandanganku bermuara.
“Shit ! Suck U !”
Make me sure,God !
…Selesai…
too much i know
Cerita Akhir Sekolah
Letih menghampiri diri mei. Bulan april adalah bulan-bulan yang menegangkan baginya. Menjadi titik akhir dari hasil kerja kerasnya selama 3 tahun di bangku esema.Tidak mampu melewatinya sama saja kegagalan akan mimpi-mimpi yang selama ini dia rajut. Papa sudah berencana menyekolahkan mei ke australi begitu lulus SMA.Begitupun mama, sudah beberapa bulan ini mama telah bersibuk-sibuk ria mencarikan, mengatur lebih tepatnya_semua hal-hal yang nantinya berkaitan dengan yang diperlukan mei selama tinggal di australi. Tapi, sebenarnya bukan itu yang menjadi pemikiran mei akhir-akhir ini.
“Masa-masa SMA sebentar lagi usai. Masa sih gak ada something special yang bakal terjadi pada kita di penghujungnya ?” Dieara mencomot potongan besar popcorn ke dalam mulutnya. Bertanya pada diri sendiri lebih tepatnya.
Mei terbangun dari pikirannya. Dieara, sahabatnya sejak masih duduk di bangku esde ini pun ternyata berpikiran sama seperti dirinya. Catatan Akhir Sekolah Syndrome_begitu mereka menyebutnya, dan seperti yang siapapun tahu, hal ini terjadi setelah menonton film yang diperankan si ganteng marchel_yang membuat siapapun_anak EsEma tepatnya_ untuk membayangkan hal apa saja yang akan mereka lakukan di detik-detik menjelang akhir masa tugas mereka di sekolah. Happy Ending lah minimal,
“Hei, kok malah bengong sih Mei, aku tuh lagi ngomong ma kamu kali”
Dieara manyun.
“Iya, aku tahu kok..” Kali ini mei mencomot potongan besar popcorn di tangan diera, membuat dieara lebih tambah manyun lagi.
“Yang lebih parahnya lagi, kok di akhir-akhir gini, kita lewatin jadi jomblo sih ?! Prom Night-nya jadi kelabu banget…”
Mei mengangguk. Iya juga ya, mendingan pas awal masuk jadi jomblo, tapi pas akhirnya justru punya charming prince, duh so sweet…
“Apa kita balikan lagi ma mereka ?”
Mei terbatuk-batuk, bukan karena popcorn yang ditelannya terlalu kebesaran, melainkan begitu mendengar diera mengatakan hal barusan.
“Maksudmu aku minta balik ma Junot gitu ?! Ogah” Mei menolak mentah-mentah usulan diera. Balikan lagi sama mantan-mantannya, merupakan hal yang jelas tidak akan dilakukan seorang Mei. Apalagi ma junot, pacar terakhirnya mpe saat ini, yang ninggalin mei hanya karena seorang Ericha, teman sekelasnya_cewek tercantik di seantero sekolahan, tapi childishnya minta ampun.
“Kalau kamu mah enak..yang mutusin kan kamu duluan. Pa lagi mpe sekarang, yang aku tahu, si jojo masih asyik-asyik aja tuh ngejomblo”
“Iya sih…tapi kan kamu tahu sendiri, alasan aku mutusin dia itu karena ap coba ?! Cuma karena pengen serius ma ujian akhir aja”
Ooo… Kayaknya itu bukan alasan yang terbilang tepat dan sebenarnya deh, mengingat beberapa hari yang lalu,seingat mei, dieara pernah curhat kalau dia baru ja kagum_dieara menyebutnya sih, dengan istilah simpati, ma salah satu dari sekian hitungan jari cowok pinter di kelasnya, so….??? Mei menoleh kea rah dieara dengan tajam. Dieara Cuma cengengesan, begitu tahu arti dari sebenarnya tatapan mei, yang dirasa_atau lebih tepatnya_tatapan meminta penjelasan maksud dari yang diucapkannya barusan.
“hehehe…I mean, ya…lebih karena semakin hari tingkah jo terasa menyebalkan. Dan itu jelas bisa mengganggu konsentrasi belajarku”
Mei menimpuk bantal pooh-nya kea rah wajah sahabatnya itu.
“Huuu,Bilang aja dah bosen ma yang lama, trus cari yang baru…gitu kan maksudmu ?”
Dieara mengangguk dan lantas tersenyum.
“Ya hitung-hitung recharge semangat…Pa lagi, gebetanku yang baru lumayan wat diajak belajar bareng jelang ujian,he…”
“Yang ada kalian berdua pacaran”
Kali ini dieara membalas melemparkan balik pooh kea rah pemiliknya.Keduanya tergelak.
“Kalau ingat sisa waktu kita di sini, aku jadi pengen nangis. Emang benar yak, kalau masa-masa EseMa adalah masa yang paling berkesan. At least, kita jadi tahu gimana ngerasain senengnya berbagi ma sahabat ketika kita masih punya waktu ma mereka. Coba, kalau dah lepas dari sini, pa lagi kalau ntar kita kerja, berkeluarga, gak bakal bisa lagi ngerasain yang kayak gini. Ngerasain pacaran yang santai-santai aja, tanpa perlu terikat ma pikiran kapan kita mw married”
Mei mengangguk.
“Mas kiko juga ngeluh tuh, kalau pacaran pas kuliah bawaannya mau serius melulu. Padahal kan tahu sendiri, masih banyak hal yang mesti kita pikirkan.Belum pertanggung jawaban ke orang tua, masalah kuliah, masalah pekerjaan.Lagian mencari jodoh kan gak langsung nemuin Cuma dalam sekali pencarian doang”
“Berarti kalau gitu_waktu wat kita ngerasain pacaran yang fun n easy going dah mau habis dong ??’ dieara bertanya_mimik mukanya kelihatan serius.
“Gak semuanya gitu c…Tapi kebanyakan yang kudengar kejadiaannya kayak gitu. Bisa aja sih, tergantung ma kitanya. Tapi kalau dipikirin ya juga, pa lagi kalau ntar kita milih kuliah gak disini, jauh dari orang tua, behhh…males banget deh”
“Trus, kita nya mesti gimana dong ??”
Dieara manyun lagi.
“Baru pacaran nunggu habis dapet kerja gitu ??”
“Ya gak lha, keburu ubanan tau..hahaha…”
“So ??”
Mei mikir.
“Tunangan dari sekarang _ Trus ngelaba deh ke mana-mana. Kayak tren-tren anak muda jaman sekarang…”
Mei nyengir. Dieara langsung membalasnya dengan nyengir kuda polos, dan lantas menimpuk lagi pooh kea rah mei.
“Males banget…Ogah, mendingan jomblo ja kallee…Daripada harus udah punya ikatan di saat yang belum seharusnya punya ikatan. Kan_sesuatu itu bakal terasa indah saat datang tepat pada waktunya”
“ciee..tumben, bisa mikir”
Dieara manyun.
“Betewe, kok kita jadi mikirin ginian sih. Ujian aja belum lulus. Yang ada, mendingan kita pikirin yang pasti-pasti aja”
“Misalnya…?’
Mei tersenyum penuh arti.
“Mikirin…siapa yang nantinya bakal kita ajak ke prom !!!”Mei tergelak.
“Huuu…sama aja !”
Dieara dan mei tertawa. Masa-masa esEmA memang benar-benar menjadi masa yang paling berkesan, di mana kita bisa menjadi siapa sebenarnya kita, just go with the flow…tanpa harus mikirin hal-hal yang seharusnya belum saatnya wat kita pikirin. So, mumpung masa itu belum berakhir, mei dan dieara memilih untuk menikmatinya seindah mungkin, dengan cara dan pada waktu yang indah juga tentunya.
well u..
Luv U, My (Nice)Mellow !
“Yank, kamu nangis ?”
Bimo mengangkat wajah kiara pelan. Tuh kan, pasti lagi-lagi gara-gara habis baca novel yang saat ini ada di tangannya, batin Bimo. Exactly, kiara mengangguk.
Bimo Cuma geleng-geleng kepala. Belakangan hari ini, tepat sebulan mereka jadian, Bimo jadi lebih tahu karakter asli ceweknya ini, yang mellow abiz. Apapun itu, baik lagu, cerita,lebih-lebih film, membuat kiara jadi gampang touching_begitu istilah yang disebutkan kiara untuk mengatakan mengapa dengan segitu cepatnya matanya berkaca-kaca. Ok, secara kepribadian, sedari awal_bimo tahu kalau ceweknya ini tergolong tipikal yang mudah tersentuh, peka istilahnya. Tapi, but please…semakin hari, kepekaan itu justru berubah menjadi sifat yang bisa dibilang terlalu melankolis_well, dengan kata lain,sensitive banget seh !.
Ok, satu dua kali kejadian, Bimo bisa memakluminya, tapi kalau kasusnya udah sering terjadi, bahkan hal sekecil apapun itu_sebagai contoh_saat Donta, kucing keluarga Bimo mati, yang histeris banget justru bukan siapa-siapa, malah kiara_yang kalau mas Ditya bilang,_mengalahkan kesedihan hati anak-anaknya donta yang masih kecil-kecil (anak kucing maksudnya, he…). Alhasil, selama seminggu, kiara gak henti-hentinya, membahas topik mengapa Donta bisa mpe pergi secepat itu (padahal kan, emang udah waktunya).
“kamu cowok sih yank, jelas beda. Kalian terkadang gak bisa ngeliat hal sekecil mungkin, yang pada dasarnya terlalu manusiawi banget wat dirasain. Kalian gak peka”
Well, masalah gender lagi…Emang apa bedanya sih cowok ma cewek, selain perihal fisik_ataupun antara logika dan maen perasaan, yang seolah selama ini jadi dinding pembatas jelas, why man different with woman ??.Oh, jelas semuanya tergolong abstrak bagi Bimo. Toh, kalau cowok terlalu berlebihan ngenggunain logikanya pun, kesannya malah bisa jadi apatis ma sekitar, cuek tingkat akut.Dan itupun udah gak wajar jadinya,
“Ok ok…Trus, yang mesti kita lakuin apa donk, begitu udah tahu kayak gini ? Gak mungkin kita ke sana saat ini juga kan, yank ?”Bimo bertanya pada kiara pada suatu saat ketika mereka lagi sama-sama nyaksiin berita busung lapar yang lagi terjadi di belahan benua afrika. Dan kiara, sudah bisa ditebak, telah menghabiskan sekian banyak tissue yang kemudian bertebaran di meja sofa, di mana mereka lagi nonton.
Kiara bukannya melanjutkan nangisnya, malah sontak mencubit lengannya Bimo.
“Kamu tega banget sih yank, ngeliat mereka kelaperan gitu, kamu malah enak-enaknya becanda. Gak peka banget sih ??”
Well, dan lagi-lagi…Ok yank, aku mesti nangis gittu ?? Kiara kiara….
*-*-*
Suatu sore di food court mall, saat Bimo lagi lunch bareng kiara
“Yank, kamu udah baca novel yang aku kasih ke kamu tempo hari dulu itu gak ?”
Bimo tersedak. Bukan karena potongan nugget yang dimasukkan ke mulutnya terlalu kebesaran, tapi mendengar pertanyaan yang barusan kiara ajukan. Selesain baca novel yang bagi Bimo jalan ceritanya gak banget itu ?? Oh jelas, jawabannya TIDAK. Bimo pun sudah lupa, di mana dia meletakkan novel itu, terakhir setelah kiara memasukkannya ke dalam tas Bimo, selepas pulang sekolah.Ataw, jangan-jangan_tak sengaja ketinggalan di laci meja belajarnya. Owh, jangan sampai deh, mama ataupun mbak nadia menemukannya. Bisa-bisa, berabeh tuh, Bimo jelas bakal diledekkin habis-habisan.
“Mm…”
Bimo berusaha mengulur waktu, berharap dia menemukan jawaban yang pas, atau minimal kiara mengalihkan topic ini selanjutnya. Tapi ternyata dugaan Bimo salah,
“Pasti gak kamu baca, kan ?? Jujur deh”
Upz, kok ketebak sih !.
“Err…gak gitu kok yank, kan kamu tahu kalau…kalau…”
Bimo gelagapan. Dia tahu, siang ini_lebih tepatnya sepanjang hari ini, adalah hari special bagi mereka, tepat ke2 bulan jadian Bimo dan Kiara, dan ini jelas, gak lucu banget kalau auranya jadi rusak gara-gara Bimo ngaku apa yang sebenarnya terjadi.
“Kalau apa ? Kalau Bimo gak suka semua hal yang kiara sukain ? “
Suara kiara menaik. Duh, kok jadi kayak gini sih,
“Mm…bukan gitu,.Maksud Bimo,…err…kan kiara tahu sendiri, kalau…kalau akhir-akhir ini, Bimo…Bimo lagi sibuk bantuin mama nyiapin pesta nikahnya mbak nadia !. Mama lagi butuh Bimo banget, kan kiara tahu sendiri kalau mas Ditya bener-benar gak bisa diharepin “
Dan oupz, ketauan ngelesnya,
Kiara diam. Mengamati setiap ekspresi yang ditimbulkan Bimo. Merasa dirinya diperhatikan begitu seperti layaknya seorang terdakwa yang lagi berharap gak bakal ketauan kalau baru saja melakukan sebuah kebohngan besar_BImopun hanya memilih untuk memasang tampang sok lugunya, seperti biasanya. Dan selanjutnya, Cuma nyengir kuda.
“Yaudah deh. Tapi jangan sampai gak dibaca ya. Awas lho, ntar kiara kasih yang lebih banyak lagi, biar Bimo bisa lebih ngertiin kiara”
Dan, yeah ! Berhasil!. Bimo menghembuskan nafas pelan. Kali ini, dia bisa melewatinya. Meskipun jelas sekali, hal yang kayak gini, bukan Cuma sekali dua kali terjadi di kehidupan Bimo selanjutnya. Selama dia masih milih bersama kiara.
-*-*-*-
Jam dinding berdetak sebelas kali. Sudah terlalu malam. Tidak ada lagi suara riuh dari arah ruang tengah, tempat di mana mama, papa sama mas Joe_calon kakak iparnya, ngobrol sambil nonton tv. Terasa hening. Hanya tinggal, sedikit suara dari arah kamar sebelah, kamar kakaknya_mas Ditya, yang lagi nelpon ceweknya malam-malam gini, saat semua penghuni rumah sudah tertidur lelap dalam mimpi masing-masing.
Bimo baru saja menyelesaikan paper bahasa inggrisnya, sebagai prasyarat untuk program beasiswa sekolah ke luar negerinya. Dan ini, telah menjadi mimpi Bimo selama ini. Kuliah keluar negeri tanpa gunain uang ortunya sepeser pun. Dan sebentar lagi, mimpi itu bakal terwujud_sepanjang Bimo berusaha keras kea rah situ.
Kelelahan menyelimutinya. Sudah hampir 5 jam, Bimo berada di meja belajarnya. Matanya pun sudah terasa berat menghadapi layar monitor komputer belajarnya.Dilepaskannya kacamata minusnya, dan detik berikutnya mencoba untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Matanya terpaku pada foto yang terbingkai dalam frame hijau, yang sengaja diletakkannya di atas meja belajar, disamping tumpukan buku pelajarannya. Fotonya bersama kiara, saat ulang tahunnya 3 bulan yang lalu, dan saat itu, adalah dimana untuk pertama kalinya Bimo menyatakan perasaannya pada kiara, yang notabene, teman sekelasnya dari kelas satu.
Kiara tampak begitu manis dengan dress polkadot pink yang dikenakannya malam itu. Menambah nilai cantiknya di mata Bimo. Tersenyum, merapatkan wajahnya, mendekat ke wajah Bimo. Dan malam itu, menjadi malam terindah dan bersejarah baginya, diiringi denting lagu Because of You-nya Keith Martin_yang mengalun dari alunan piano yang Bimo mainkan.
Tapi, kemanisan itu kini malah terkikis seiring waktu. Hal ini memang terlalu dini untuk Bimo rasakan, mengingat baru beberapa bulan ia menjalani kisahnya bersama Kiara. Tapi , semuanya terpampang jelas, bahwa_sosok Kiara yang sebenarnya jelas berbeda dari apa yang dipikirkannya. Bisa dikatakan_Kiara tidak sebegitu dewasa dari tipikal wanita yang diinginkannya selama ini.Tapi di sisi lain, dirinya masih menginginkan kebersamaan ini terus terjalin, tertutupi dengan sifat polos serta cerianya seorang Kiara. Dan hal itulah yang membuat Bimo semakin bersemangat mengejar mimpi-mimpinya bersama seorang sosok seperti Kiara.
Dan Bimo pun tersenyum, lantas mengambil bingkai foto itu, dan membawanya ke tempat tidur.
*-*-*
Ujian tes seleksi beasiswa tinggal hitungan hari. Semakin hari pula, bimo makin giat menyiapkan semuanya, termasuk persiapan materinya. Hal ini menjadi penentu, apakah nantinya, dia bisa mewujudkan apa yang selama ini dia pertaruhkan. Melawan arus, dari kedua kakak-kakaknya, bahwa dia akan hidup mandiri, selepas SMU, dengan tidak mengandalkan nama besar kedua orang tuanya, yang notabene sebenarnya mampu memuluskan langkahnya kapanpun ia mau. Tapi, tentu saja, bukan hal itu yang diinginkan seorang Bimo. Kesuksesan kedua orang tuanya bukan jadi jaminan kesuksesannya nanti.
Dan sudah beberapa hari ini pula, kiara tak menerima kabar apapun dari cowoknya itu. Terakhir, yang kiara tahu_selama seminggu ini, Bimo ingin memfokuskan semua hal pada tes seleksi scholarship ke Jepang itu.
“Aku khawatir Bimo kenapa-kenapa Dhik. Kamu tahu sendiri,kesehatan Bimo itu gampang drop kalau tubuh dan pikirannya terlalu diporsir”
Cerita kiara siang itu di kantin sekolah pada dhika, sahabat Bimo dari kecil. Dhika tersenyum.
“Tenang saja,Ki. Aku yakin, bimo gak bakal kenapa-kenapa. Kamu berdo’a saja biar dia bisa dapet beasiswanya, key”
Kiara mencoba untuk tersenyum. Bagaimanapun,batinnya mengatakan, sesuatu harus diingatkannya pada Bimo. Ah entahlah, apa ini hanya merupakan bias dari sifat melankolisnya yang terlalu peka, hingga ujung-ujungnya mampu merubahnya menjadi sosok paranoid,seperti yang kerap Bimo nfusea padanya ?
-*-*-*
Jam menunjukkan pukul 11 teng. Matahari sudah beranjak naik, terlihat sinarnya menyusup melalui jendela kamarnya yang berhadapan langsung dengan di mana matahari terbit. Tapi, mengapa sudah sesiang ini, bimo merasakan dingin yang sangat, seperti halnya udara ketika jam 2 dia bangun untuk memulai belajar paginya.
Bimo mencoba membetulkan posisi tidurnya, dan selanjutnya bersender di ujung tempat tidurnya. Kepalanya tiba-tiba terasa berat. Apa karena dia lupa menggunakan kacamata selama 15 menit menjelang belajarnya disudahi semalam ?.Ah Entahlah
Bimo melongok kea rah jam beker yang terletak di atas meja di samping tempat tidurnya, nfuse-samar terlihat jarum jam berputar-putar di peredarannya. Rusakkah ?
Semuanya terasa berat, dan…
Bergegas bimo melepaskan selimut dan lantas mencari-cari sandal di kolong bawah tempat tidurnya. Dan Hup,didapatinya,. Bimo bangkit, namun beberpa langkahnya menuju pintu, tiba-tiba_kepalanya benar-benar terasa berat,layaknya sebuah godam baru saja mengenai kepalanya. Tubuhnya oleng, dan detik selanjutnya_bimo tidak mampu merasakan apa-apa lagi. Gelap.
*-*-*
“Telpon Rumah Sakit segera, pa”
Ma, jangan…lima belas menit lagi, bimo ujian
“Bila perlu panggilkan ambulance. Nad, kamu segera hubungi pak Darmawan, beritahu kalau hari ini Bimo gak masuk sekolah. Dia mesti opname”
Pa, bukan Cuma itu…Bimo perlu ujian itu
“Bik, tolong beresi semua yang diperlukan nantinya. Jangan lupa, beritahu_siapa itu namanya_”
“Siapa nyonya ?”
“Teman ceweknya Bimo yang sering ke rumah”
“Oh_mbak kiara”
“Ya, dia.kasih tahu dia jangan lupa”
Ya, hanya kiara yang mungkin bisa memberitahukan betapa pentingnya ujian itu buatku, batin Bimo. Detik selanjutnya, semuanya kembali gelap.
*-*-*
Ruangan bernuansa putih. Bau nfuse, obat, dan semuanya seolah menjadi jawaban di mana saat ini Bimo berada. Rumah Sakit. Persis seperti apa yang didengarnya beberapa jam yang lalu. Masih dalam keadaan terkulai, Bimo mencoba membuka matanya. Dilihatnya, disampingya_di atas meja, kacamatanya tergeletak. Digunakannya, untuk melihat lebih jelas lagi.
Semuanya memang benar, bukanlah kamar tidurnya. Sepi.Tak ada siapapun, mana kedua orang tuanya, mbak nadia, mas ditya ? Apa mereka lupa kalau saat ini dia sedang terbaring di sini ?
“Kamu udah sadar , yank ??”
Kiara tiba-tiba masuk dari luar. Senyum manisnya terkembang.
“Kamu tahu aku di sini ? Dari siapa ?”tanya Bimo sembari mencoba bangkit, dan bersender di ujung tempat tidur.Tali infusnya bergerak, terasa sakit.
Bergegas kiara membantunya membetulkan posisi bersandarnya. Dirapikannya selimut, dan selanjutnya, bergabung duduk di tepi tempat tidur, disamping Bimo.
“Mamamu yang ngasih tahu aku lho”
Kiara bercerita dengan gembiranya, seolah-olah baru saja sesuatu yang menyenangkan terjadi. Dan ini jelas terdengar janggal, mengingat_selama ini, yang Bimo tahu, hubungannya dengan kiara berjalan backstreet, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, kecuali mbak Nadia dan Mas Ditya tentunya.Bimo memasang tampang bingung, meminta penjelasan atas semuanya.
“Oh ya ? Kok bisa ?”
“hehe…gara-gara, aku sering mampir ke rumahmu. Waktu itu aku mau ngajak kamu nonton film Twilight, eh kamunya lagi gak ada, yang ada justru mamamu. Jadi ya udah, gak tahu gimana bisa, kita berdua selanjutnya_nonton bareng, eh habis itu, jadi deket deh. Tahu gak yank, ternyata mamamu suka juga lho baca novel,bla..bla…”
Dan selanjutnya cerita pun mengalir. Bimo tidak habis pikir, kok bisa semua ini terjadi. Kedua orang tuanya yang terlampau sibuk, mementingkan akademis yang berlebihan sehingga melarangnya untuk berkomitmen sekecil apapun dan pada siapapun saat ini, justru bisa berubah dengan kehadiran seorang kiara. Cewek mungil nan melankolis, begitu dia menyebutnya. Dan hal ini jelas membuyarkan semua pemikiran salah dan keliru Bimo pada kiara. Bahwa tak selamanya_sesuatu yang kita anggap buruk itu, akan terus menjadi buruk. Bahkan mampu menjadi suatu hal yang indah, jika kita bersabar menanti kapan waktu itu tiba. Dan saat ini, waktu itu telah tiba bagi Bimo_untuk mengetahui bahwa kiara tidaklah seperti yang dipikirkannya. Apalagi begitu mengetahui apa yang ternyata telah ceweknya itu lakukan, tanpa sepengetahuannya.
“Aku sudah meminta papaku untuk melobby rekannya yang kebetulan tergabung dalm panitia tes beasiswa, kalau calon mahasiswa yang bernama_Banyu Bimo Wardhana, boleh mengikuti ujian susulan, mengingat kondisinya tidak memungkinkan untuk mengikuti ujian pada hari H tersebut,he…”
Dan kiara pun nyengir dengan polosnya.Hati bimo benar-benar luber. Betapa selama ini dia telah menyia-nyiakan kehadiran kiara di dekatnya.
“Kok,kamu bisa tahu sih yank kapan aku sakit ?” tanya Bimo ketika kiara menyudahi ceritanya.
Kiara tidak langsung menjawab. Terlebih dahulu, mengupas jeruk yang diambilnya dari keranjang buah, dan kemudian memasukkannya ke dalam mulut Bimo. Membuat Bimo tersedak. Kiara tertawa puas, dengan gayanya yang menurut bimo menggemaskan_sekaligus ngangenin.
“Ada deh…”
“Ih, pake rahasia-rahasian segala. Sejak kapan kamu punya bakat sebagai paranormal ?”
Bimo mendekatkan wajahnya kea rah kiara. Kiara menatapnya lekat.Keduanya terdiam.Ada rasa yang berbeda dirasakan baik kiara ataupun bimo. Rasa yang selama beberapa minggu-minggu terakhir ini tak pernah mereka rasakan lagi, selain di bulan pertama mereka jadian, kalau saat ini waktu itu memang telah datang, waktu buat mereka menyadari untuk saling mengerti satu sama lain. Saling menyelami pribadi masing-masing. Dan Bimo bahagia telah mampu mencapai waktu ini, sebelum dia mengucapkan kata menyerah, dengan lantas menyudahi semuanya. Dan itu gak akan terjadi lagi,janji Bimo.
“Mm…sejak kapan ya ??Sejak…”
Bimo menunggu jawaban kiara.
“Sejak kamu bilang kalau aku terlalu perasa untuk hal-hal sekecil apapun yang menurutmu gak terlalu penting. Tapi justru hal-hal yang gak penting itu, semakin buat aku ngerti dan paham kalau sebenarnya kamu itu jauh terlalu penting dibandingkan hal-hal kecil itu. Dengan kata lain….”
“Aku janji gak bakal terlalu mellow kayak dulu lagi, yank”
Dan Bimo pun tersenyum. Ya, ketulusan hati seorang kiara memang terlalu penting bagi dirinya untuk sekedar memikirkan sedikit kekurangan kiara di mata Bimo. Dan Bimo juga janji untuk gak bakal berpikir seperti kemaren-kemaren lagi.
Bimo memeluk erat kiara.Seerat yang dia bisa. Berharap kiara gak akan pernah pergi ninggalinnya.
Dan Ruangan rumah sakit pun terasa lapang bagi mereka berdua sore itu. Ada seulas senyum dari mama, papa, dan kedua kakak Bimo menyaksikan mereka berdua dari balik jendela kamar pavilliun nomor 14A itu.
-Selesai-

.jpg)
