Tampilkan postingan dengan label Discovery of Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Discovery of Me. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2009

BIG FAN !!!

0 komentar
Film Laskar Pelangi ternyata mampu menyedot penonton dalam jumlah yang sangat besar. Film beranggaran lebih dari Rp. 7 milyar ini memang sudah diprediksi akan sesukses novelnya. Menurut Mira Lesmana setelah rilis ini maka dalam rangka mengenalkan budaya Indonesia ke manca negara, film LP juga akan diikutsertakan dalam festival film internasional seperti Rotterdam International Film (Belanda) dan juga Cannes Film Festival (Perancis dan Korea). Keberhasilan film ini tidak lepas dari dukungan pemain muda belia penuh bakat anggota Laskar Pelangi. Siapa saja mereka dan apa komentar mereka terhadap film ini?

Trapani
Nama aslinya Suharyadi Syah Ramadhan, kelahiran Belitung 28 Februari 1995. Tokoh Trapani adalah sosok paling tampan dari seluruh anggota Laskar Pelangi. “Jujur, saya belum pernah baca novelnya. Cuma tahu dari cerita teman-teman,” kata siswa kelas 7 SMP Negeri III Tanjung Pandan ini. Ikut syuting pun, tak pernah terlintas di benaknya. Tetapi nasib berkata lain. Riri yang melihat potret Suharyadi, rupanya jatuh hati dan memintanya ikut casting di sekolahnya dan akhirnya dipilih untuk memerankan Trapani. Bukan cuma dia, ayah dan adiknya juga ketiban peran. Sang ayah berperan sebagai tukang pos, sementara adiknya sebagai Trapani kecil. Suharyadi dan keluarganya mengaku senang. “Selain banyak dapat teman baru, saya juga dapat uang,” katanya sambil senyum.

Syahdan
Di film LP, Muhamad Syukur Ramadan berperan sebagai Syahdan. Kelakuannya selama di lokasi syuting selalu mengundang gelak tawa. Siapa pun diajaknya bergurau. Hobinya yang lain adalah main bola dan membaca komik. “Saya suka sekali menggambar dan bercita-cita jadi arsitek.” Siswa SMP ini terkesan begitu menikmati pekerjaannya sebagai aktor. Wajahnya selalu gembira. Meski begitu, ia sempat kesulitan ketika harus beradegan menari bersama teman-temannya dalam acara karnaval di tengah kerumunan orang banyak. “Malu kalau jadi tontonan,” katanya. Tapi malunya hanya sesaat. Sejurus kemudian, ia sudah menari dengan asyiknya. ‘Saya sudah berniat akan main sebagusbagusnya untuk ibu saya yang belum lama ini meninggal.” Kali ini ia berkata dengan serius, tanpa canda.

Harun
Seperti dalam novel, pemeran Harun memang memiliki keterbelakangan mental. Yang memerankan adalah Jefry, siswa kelas 5 SLB Tanjung Pandan. Meski tak mudah mengajaknya berkomunikasi, begitu berhadapan dengan kamera, Jefry patut diacungi jempol. Ia mampu menuruti segala kemauan sang sutradara. Porsi dialog yang dibebankan padanya juga berbeda dengan pemeran lainnya. Ia lebih banyak dituntut bicara memakai bahasa tubuhnya. “Selama proses syuting, saya puas dengan aktingnya,” kata Riri.

Borek
Di antara anggota laskar, tubuh Borek digambarkan paling besar dan tinggi. Tak heran jika Febriansyah dipercaya memerankan tokoh yang disebutsebut sebagai Samson kecil oleh Ikal dan kawan-kawannya, seperti dalam novel. Meski masih berusia 13 tahun dan duduk di kelas 8 SMP Negeri II Tanjung Pandan, Febri terkesan lebih dewasa dibanding rekan-rekannya di film tersebut. Febri juga sangat terbuka dan mudah diajak bicara. Ia mengaku senang sekali bisa main di LP. “Sebelumnya, sih, tak pernah menyangka bakal jadi bintang film seperti sekarang. Apalagi, saya enggak punya bakat berakting. Pikiran saya cuma bersekolah supaya jadi orang sukses dan bisa cari duit sendiri”. Keinginannya itu datang lebih cepat dari dugaannya. Dari honornya sebagai pemeran Borek, “Saya bisa bayar uang sekolah dan mau beli komputer,” katanya dengan nada riang.

Kucai
Yogi Nugraha yang memerankan tokoh Kucai, termasuk tipe anak yang tak bisa diam. Ada saja ulahnya. Bahkan, satu ketika di sela istirahat syuting, ia berkelahi dengan pemeran lain gara-gara kejahilannya. Yogi yang lahir di Tanjung Pandan, 6 Juli 1994, mengaku menghapal mati semua dialognya. Apa kesannya main di LP? “Senang. Saya jadi bisa bantu orang tua membiayai sekolah,” kata bocah yang hobi main sepak bola itu. Tak takut pelajaran terganggu dan ketinggalan kelas? “Ah, naik atau tidak naik kelas, urusan belakangan,” jawabnya enteng.

Sahara
Di antara 10 anggota laskar, Sahara adalah satu-satunya perempuan dan diperankan oleh Dewi Ratih Ayu Safitri. Selama syuting, gadis pemalu ini senantiasa ditemani ibunya. Dewi lahir di Tanjung Pandan 7 Maret 1995 dan kini duduk di kelas 7 SMP Negeri 2 Tanjung Pandan. Hobinya menyanyi, menari, dan baca puisi. “Kalau besar nanti, saya mau jadi dokter,” katanya sambil tersipu. Ketika di awal-awal syuting, Dewi selalu diganggu teman-temannya. Bahkan sampai pernah menangis. Namun, suka-duka itulah yang membuat mereka jadi cepat akrab. Supaya tidak ketinggalan pelajaran, ibunya selalu mampir ke sekolah, meminta tugas ke guru Dewi untuk dipelajari saat jeda syuting. “Biasanya Ibu mencatat ulang mata pelajaran yang kutinggalkan, sehingga aku bisa ikut ujian tanpa kesulitan,” katanya.

Floriana
Floriana atau Flo, diperankan oleh Marchella El Jolla Kondo. Sehari-hari, gaya Marchella memang tomboy. Flo bukanlah bagian dari LP sehingga scene yang dimainkan tidak sebanyak teman-temannya. “Saat syuting dimulai, aku sudah kelar ujian. Sekarang lagi libur,” kata siswa kelas 6 SD Negeri IX Tanjung Pandan itu. Anak bungsu dari empat bersaudara ini lahir di Malaysia, 22 Mei 1996. Kedua orangtuanya berprofesi sebagai pendeta. “Sejak kecil saya selalu pindah tempat tinggal, ikut kemana orangtua bertugas,” kata gadis yang suka menyanyi dan bercita-cita jadi orang sukses. “Saya juga ingin jadi artis,” katanya malu-malu.

Akiong
Akiong adalah satu-satunya tokoh anak keturunan Hokian yang bersekolah di SD Muhammadiyah Gantung. Diperankan oleh Suhendri yang masih duduk di kelas 5 SD 44 Tanjung Pandan. Ia i terbilang paling muda di antara 10 pemeran LP lainnya. “Waktu awal-awal syuting, sata suka sakit perut,” katanya. Bahkan pernah, ia harus dilarikan ke klinik kesehatan terdekat karena kondisinya memburuk. Ternyata, Suhendri memang susah makan sehingga penyakit lambungnya kerap kumat. “Senang sekali ikut main film. Apalagi dapat uang,” kata Suhendri yang jago berakating dan menghapal dialog. Tak heran jika ia bercita-cita menjadi aktor profesional satu hari nanti.

A Ling
Aling adalah kekasih Ikal. Tokoh tersebut diperankan Levina yang mirip dengan Aling. Berambut panjang, berjari lentik, dan bermata sipit. Sama seperti Flo, adegan yang diperankannya tidak terlampau banyak. Bahkan, anak kedua dari tiga bersaudara kelahiran 26 Juni 1995 itu hanya menginap selama sehari dari 40 hari jadwal syuting. Levina yang duduk di kelas 7 SMP Regina Pacis, memiliki hobi menyanyi, baca, dan jalan-jalan. Kelak, ia ingin sekali seperti idolanya, Sandra Dewi, yang sukses menjadi bintang sinetron setelah merantau ke Jakarta.

Mahar
Mahar merupakan tokoh paling eksentrik dan digambarkan punya kecerdasan luar biasa dalam berkesenian. Apa saja yang disentuhnya, berubah jadi benda berestetika. Makanya, Bu Mus tidak segan-segan memercayakan setiap pagelaran kesenian kepadanya. Tokoh itu diperankan dengan apik oleh anak Gantung asli, Verrys Yamarno. Perilaku Verrys memang seperti Mahar. Tak pernah mau diam dan susah diatur. Ia juga kreatif membuat lelucon-lelucon yang mampu membuat orang terpingkal-pingkal. Verrys yang duduk di kelas 7 SMP Nasional Gantung, memiliki hobi berenang dan main bulutangkis. “Cita-citaku mau jadi ustaz, supaya bisa menyiarkan ajaran Islam ke banyak orang,” ujarnya.

Lintang
Pemeran tokoh Lintang ini cukup unik. Di novel, ia diceritakan sebagai teman sebangku ikal karena sama-sama berambut keriting. Namun di film, tokoh ini diperankan oleh anak berambut lurus bernama Ferdian. “Wah, saya malah enggak tahu kalau tokoh aslinya berambut keriting. Yang jelas, saya senang bisa ikut main di film ini. Tokohnya juga seru, menantang karena keberanian dan kecerdasannya.” Di kehidupan sehari-hari, kata Ferdia, dia tak seperti Lintang. “Prestasi saya biasa-biasa saja di sekolah.” Kendati begitu, produser Mira Lesmana punya alasan tersendiri. Ferdian dianggap bisa mewakili tokoh Lintang karena dinilai memiliki karakter yang sesuai. “Memang, faktor fisik sangat penting dalam film yang diadaptasi dari sebuah novel, tapi yang lebih penting lagi, bagaimana seseorang bisa menyelami karakter yang diperankannya,” kata Mira.

Ikal
Selama di lokasi syuting, dia dikenal paling pendiam. Zul Fanny, begitu nama aslinya, dianggap cocok memerankan Ikal. Sebelum ikut main film, Zul yang mengaku amat dekat dengan ayahnya, kerap membantu ayahnya berdagang di pasar. “Biasanya tiap hari Minggu,” cerita anak bermata cokelat itu. Kendati LP merupakan pengalaman pertamanya bermain film, Zul mengaku tak menemui kesulitan besar. Bahkan, dengan mudah, ia bisa menghapal setiap dialog yang panjang. Sayangnya, ia agak malas menggunakan waktu jeda untuk belajar. Alasannya selalu sakit kepala. Namun, ketika menghadapi ujian, ia mengaku bisa mengerjakannya. “Ujiannya gampang-gampang susah, sih,” kata Zul yang bercita-cita menjadi tentara.

Referensi : Nova (Sept 2008), Nyata ( Oct 2008 )

Sabtu, 28 Maret 2009

Boleh neh dibaca

0 komentar
Melawan Phobia Menulis*)
Oleh: Edy Firmansyah**)

Menulislah, apapun. Jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang,
yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna.
(Pramoedya Ananta Toer, dalam Novel Rumah Kaca)

Bukan rahasia umum lagi, bahwa sebagian besar skripsi yang dihasilkan mahasiswa kita di negeri ini hanyalah hasil jiplakan dari skripsi senior. Tinggal mengubah lokasi penelitian, subjudul, serta karakter tulisan, nama responden, maka jadilah skripsi “baru.” Padahal sang penjiplak sebenarnya seringkali tak sadar kalau skripsi yang dijiplak tadi kuliatas tulisannya sebenarnya sangat jauh dari baik.
Belum lagi fenomena pembuatan skripsi yang kini marak di daerah di sekitar kampus. Bahkan Ghost Writer itu tak hanya menggarap skripsi saja, melainkan juga menerima pesanan disertasi dan tesis. Makanya, ketika saya kuliah dulu saya sempat bertanya pada Dosen saya yang kebetulan bergelar Doktor, mengapa bapak tidak menulis di Koran? Jawabannya sungguh ironis; “Saya tidak bakat menulis, Mas!” Saya jadi pusing juga mendengar jawaban itu. Sebab kalau tidak bakat menulis, mengapa bisa lolos ujian Skripsi, Desertasi dan Tesis hingga mampu meraih gelar doktor? Atau Jangan-jangan karya tulisnya semua hasil jiplakan atau paling banter bukan buah karyanya sendiri alias pesanan.
Padahal tulisan ilmiah seperti Skripsi, Tesis, Disertasi maupun tulisan ilmiah-populer semisal artikel, esai serta resensi buku sebenarnya sama saja. Yang membedakan mungkin hanya dari segi kuantitas. Kalau artikel atau opini di koran dibuat maksimal 3 halaman folio. Tapi kalau skripsi bisa jadi lebih dari 50 lembar folio. Tapi mengenai kualitas jelas sama. Bahwa tulisan yang baik dan indah menurut Wahyu Wibowo (2002; 5-6) mengandung tiga unsur utama, yakni, mengandung kesatuan dan keutuhan, mengandung satu pikiran utama yang jelas dan mengandung prinsip perkembangan.
Redaktur Koran misalnya, tak akan meloloskan tulisan yang ‘amburadul’ untuk muncul di halaman OPINI media cetak. Sebab cara penyajian tulisan yang tidak sistematis dan meloncat-loncat akan menyulitkan pembaca dalam memahaminya serta akan memusingkan redaktur untuk mengeditnya (Lasa Hs, 2006). Tulisan yang jelek pasti masuk keranjang sampah, sebab taruhannya adalah Oplah Koran. Koran akan ditinggalkan banyak pembacanya jika tulisan yang muncul hanyalah tulisan jelek dan tidak sistematik. Karenanya redaktur akan menyeleksi ketat tiap tulisan yang masuk ke meja redaksi atau emailnya.
Seorang yang punya nama, terutama akademisi atau mereka yang bergelar tinggi kadang memiliki phobia berlebihan terhadap seleksi semacam itu. Artinya, mereka takut kalau naskahnya ditolak. Mereka mungkin merasa gengsi dan reputasinya akan turun bila tulisannya ditolak redaktur. Apalagi jika redakturnya bukan lulusan perguruan tinggi. Sebab hal itu akan dianggap pelecehan akademik. “Masak sih lulusan SLTA lebih pinter dari doktor,” begitu kira-kira komentar mereka. (Lasa HS, 2006;9)
Padahal kualitas tulisan tidak ada hubungannya dengan gelar yang disandang seseorang. Buktinya, (Sekedar menyebut nama) Emha Ainun Nadjib, Gus Dur, Ulil Abshar Abdalla, Pramoedya Ananta Toer, dll, bukanlah lulusan sarjana. Namun karya tulis mereka menjadi acuan para profesor. Bahkan Pramodya Ananta Toer berkali-kali menjadi satu-satunya kandidat peraih Nobel dari Indonesia. hal itu karena mereka menjadikan kegiatan menulis—meminjam istilah The Liang Gie—sebagai pengalaman estetis. Dimana panca inderanya dipusatkan secara sungguh-sungguh terhadap seluk beluk dunia menulis.
Dan sebenarnya keseriusan untuk menyelami dunia menulis bisa dilakukan kalangan mahasiswa, dosen, doktor maupun professor. Bukankah menulis merupakan bentuk pengabdian terhadap masyarakat? Lagipula sehari-hari mereka berkecimpung dengan dunia ilmiah yang berasal dari berbagai buku dan teori-teori. Sehingga tak terlalu sulit menuangkan teori dan bacaan untuk menganalisis fenomena social yang tengah terjadi di masyarakat.
Tapi nyatanya itu tak pernah terjadi. Karya ilmiah di lingkungan kampus tak lebih dari karya plagiasi dari generasi ke generasi. Mahasiswa lebih suka pacaran atau ngeceng di mall daripada membaca dan merangkum buku. Sementara dosen lebih suka menjadi ‘penguasa’ di kelas dibandingkan menuangkan idenya dalam bentuk tulisan di Koran.
Memang harus diakui membuat tulisan di Koran dalam bentuk artikel, opini atau esai cukup sulit. Sebab saingan bagi penulis pemula bisa dibilang berat. Para penulis kelas berat, seperti Shalahuddin Wahid, Goenawan Mohammad, Hudan Hidayat, Zawawi Imron, Ariel Heryanto, dan banyak lagi masih terus menulis di Koran hingga sekarang. Ibarat bermain tinju penulis pemula sedang berhadapan dengan Mike Tyson. Bahkan tanpa bertanding-pun kita tahu siapa yang akan jadi pemenang.
Tapi sulit bukan berarti tidak bisa, bukan? Selama kita berusaha, peluang untuk bisa menciptakan tulisan yang kualitasnya sama dengan karya penulis ternama tetap ada. Lagipula suatu saat nanti generasi tua bakal tutup usia. Nah, pada kondisi itu siapa yang akan menggantikannya kalau bukan generasi muda?
Adalah Marx yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan jalannya sejarah, bukan sebaliknya. (Ken Budha Kusumandharu, 2004). Bahkan sejarah bisa diciptakan asal syarat-syarat khusus bisa terpenuhi. Kaitannya dengan menulis adalah, bahwa siapapun bisa membuat tulisan yang bagus. Asalkan sanggup memenuhi syarat khusus berikut ini;
Pertama, perbanyak membaca. Membaca dan menulis mengikuti filsafat kendi. Sebuah kendi tidak akan bisa melepas rasa dahaga jika tidak diisi air. Begitu juga dengan menulis. Bahkan seorang wartawanpun jika tidak gemar membaca tak akan bisa menghasilkan tulisan yang baik. Kedua, cacatlah hal penting dari setiap buku yang pernah dibaca dalam buku catatan khusus. Hal itu sangat bermanfaat untuk membantu memori otak yang terbatas. Dan tidak menutup kemungkinan buku catatan itu nantinya bisa menjadi karya ilmiah. Bukankah catatan harian Soe Hok Gie, dan Ahmad Wahib yang terkenal itu berasal dari catatan harian mereka mengenai hasil bacaan dan hasil diskusinya secara intens.
Terakhir—dan ini yang paling penting—mulai menulis. Jujur saja, tak ada teori menulis yang ampuh yang mampu mencetak orang menjadi penulis. Satu-satunya jalan untuk menjadi penulis dan menghasilkan karya tulis yang bagus adalah terus berlatih menulis. Buku-buku mengenai teori, tehnik, kiat menulis baik itu tulisan fiksi maupun non fiksi (baca; ilmiah) sebenarnya hanyalah pintu gerbang mengenalkan kita pada dunia tulis-menulis. Sedangkan menulis yang sejatinya adalah praktek. Seperti adagium para aktivis; teori tanpa aksi, onani. Aksi tanpa teori anarki!

Senin, 23 Maret 2009

Hati Ibarat Rumah

0 komentar
Ada tiga macam rumah, Pertama Rumah raja, di dalamnya ada simpanannya, tabungannya serta perhiasannya. Kedua Rumah hamba, di dalamnya ada simpanan, tabungan dan perhiasan yang tidak seperti yang dimiliki seorang raja. Dan ketiga adalah Rumah kosong, tidak ada isinya.

Jika datang seorang pencuri, rumah mana yang akan dimasukinya?

Apabila anda menjawab, ia akan masuk rumah yang kosong, tentu suatu hal yang tidak masuk akal, karena rumah kosong tidak ada barang yang bisa dicurinya.

Karena itulah dikatakan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu, bahwa ada orang-orang Yahudi mengklaim bahwa di dalam shalat, mereka 'tidak pernah terganggu', Maka Ibnu Abbas berkata: "Apakah yang bisa dikerjakan oleh syetan dalam rumah yang sudah rusak?"

Bila jawaban anda adalah: "Pencuri itu akan masuk rumah raja." Hal tersebut bagaikan sesuatu yang hampir mustahil, karena tentunya rumah raja dijaga oleh penjaga dan tentara, sehingga pencuri tidak bisa mendekatinya.

Bagaimana mungkin pencuri tersebut mendekatinya sementara para penjaga dan tentara senantiasa siap siaga di sekitar raja?

Sekarang tinggal rumah ketiga, maka hendaklah orang-orang berakal memperhatikan permisalan ini sebaik-baiknya, dan menganalogikannya (rumah) dengan hati, karena inilah yang dimaksudkannya.

Hati yang kosong dari kebajikan, yaitu hati orang-orang kafir dan munafik, adalah rumah setan, yang telah menjadikannya sebagai benteng bagi dirinya dan sebagai tempat tinggalnya. Maka adakah rangsangan untuk mencuri dari rumah itu sementara yang ada didalamnya hanyalah peninggalan setan, simpanannya dan gangguannya? (rumah ketiga).

Hati yang telah dipenuhi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta'ala dan keagungan-Nya, penuh dengan kecintaanNya dan senantiasa dalam penjagaan-Nya dan selalu malu darinya, Syetan mana yang berani memasuki hati ini? Bila ada yang ingin mencuri sesuatu darinya, apa yang akan dicurinya? (rumah pertama).

Hati yang di dalamnya ada tauhid Allah, mengerti tentang Allah, mencintaiNya, dan beriman kepadaNya, serta membenarkan janjiNya, Namun di dalamnya ada pula syahwat, sifat-sifat buruk, hawa nafsu dan tabiat tidak baik. Hati ini ada diantara dua hal. Kadang hatinya cenderung kepada keimanan, ma'rifah dan kecintaan kepada Allah semata, dan kadang condong kepada panggilan syetan, hawa nafsu dan tabiat tercela.(rumah kedua)
Hati semacam inilah yang dicari oleh syetan dan diinginkannya. Dan Allah memberikan pertolongan-Nya kepada yang dikehendakiNya. "Dan kemenanganmu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi maha bijaksana." (Ali Imran:126)

Syetan tidak bisa mengganggunya kecuali dengan senjata yang dimilikinya, yang dengannya ia masuk dalam hati. Di dalam hati seperti ini syetan mendapati senjata-senjatanya yang berupa syahwat, syubhat, khayalan-khayalan dan angan-angan dusta yang berada di dalam hati.

Saat memasukinya, syetan mendapati senjata-senjata tersebut dan mengambilnya serta menjadikannya menetap di hati. Apabila seorang hamba mempunyai benteng keimanan yang mengimbangi serangan tersebut, dan kekuatannya melebihi kekuatan penyerangnya, maka ia akan mampu mengalahkan syetan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata.
 

aku punya blog !!! Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez