Kamis, 12 Mei 2016

Peduli Anak,Peduli Masa Depan

0 komentar



Akhir-akhir ini publik sedang diramaikan dengan sederetan berita tentang kekerasan seksual, dimana yang jadi korbannya adalah anak perempuan. Bahkan mirisnya di satu kasus,si korban adalah batita yang baru berumur 2,5 tahun. Setiap mendengar berita seperti ini, entah mengapa selalu miris, mengurut dada, takut dan khawatir tiap mengingat betapa besarnya tantangan orang tua di zaman ini dan di zaman saya nanti sebagai orang tua. Bahaya ini tidak hanya bagi orang tua yang memiliki anak perempuan, anak laki-laki pun tidak lepas dari ancaman terkena kejahatan seksual. Pedofil, Sodomi, menjadi ancaman mengerikan. Apalagi jika mengingat pelaku ada orang di lingkaran terdekat dengan korban. Entah itu teman, tetangga, saudara dan bahkan bisa juga orangtua korban sendiri. Lalu siapa lagi yang bisa dipercaya sebagai penjaga anak ?

Tentu jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah IBU dari anak tersebut. Sangat kecil kemungkinan jika ibu menjadi pelaku. Kalau pun ada, tentu jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan kelompok pelaku lainnya. Ibu yang menjadi pelaku biasanya berperan tidak langsung, dan tentu kasusnya lebih ke arah human traffiking.

Mengapa di sini saya menyebutkan IBU menjadi penjaga terbaik untuk seorang anak, the best guardian angel? Karena faktor tumbuh dan menyatu bersama selama 9 bulan menjadi penguat mengapa naluri seorang ibu lebih besar ke anak. Signal atau alarm bahaya seorang ibu lebih aktif, Sudah berproses secara alamiah. 

Lantas apa yang bisa dilakukan seorang ibu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan pada anak :

1. Lebih Peduli dan Lebih Peka

Entah itu ibu bekerja atau ibu bekerja, rasa peduli dan peka tidak ditentukan oleh label tersebut. Hanya saja mungkin jam kebersamaan seorang ibu rumah tangga lebih banyak dibandingkan ibu bekerja. Tapi tidak sedikit juga ada ibu rumah tangga yang kepedulian dan kepekaannya kurang dibandingkan dengan ibu bekerja. Saya selalu miris jika ada ibu rumah tangga yang malah tidur siang dengan enak-enaknya, tidak tahu kalau anaknya keluyuran ke mana-mana. Okelah anak lagi bermain di rumah tetangga. Tapi jangan salah, kasus kekerasan seksual yang menimpa batita 2.5 tahun terjadi dan dilakukan oleh tetangga korban. Korban adalah teman sepermainan dari keponakan si pelaku. Terlepas dari faktor X yang bernama takdir meninggal, tapi setidaknya satu hal yang bisa kita pelajari adalah bahwa setidaknya kejadian tersebut bisa dicegah jika kita sebagai orangtua (saya belum jadi orang tua sih) peka dan paham lingkungan permainan atau pergaulan anak. Di mana biasanya dia bermain, di mana rute atau lokasi yang sering ditemui anak. Semua hal. Akan lebih bagus lagi jika kita memiliki anak yang apa-apa cerita. Hanya saja kan kalau ada kejadian mendadak, seorang anak tidak tau apa yang mesti mereka lakukan. Kita sebagai orang tua hanya mampu membentengi anak secara tepat tanpa berkesan overprotektif. Saya pribadi (karena memang belum terjun langsung sebagai orang tua, karena saya pribadi belum menikah) masih mencari-cari berbagai informasi dan ilmu bagaimana menjadi orang tua yang menjaga tapi tidak menjadi pribadi yang overprotektif. 

2. Waspada terhadap Bahaya Internet

Kasus pemerkosaan terhadap siswi SMP di surabaya yang dilakukan oleh 8 (delapan) anak di bawah umur, yang tiga di antaranya bahkan adalah siswa sekolah dasar dipicu oleh video porno yang merke tonton dari warnet. 

Pelajarannya adalah :

a. Jika rumah anda memiliki akses wifi, batasi penggunaan wifi di area-area tertentu, misal cukup dibatasi di area keluarga saja. wifi sebaiknya tidak menjangkau hingga kamar tidur anak. Sehingga ketika anak hendak browsing atau mengakses internet, hal tersebut dilakukan di ruang keluarga saja yang bisa anda pantau diam-diam.

b. Jika anda memilii kenalan programmer, minta bantuan pada ahli IT terkait rekomendasi aplikasi atau software yang dapa memblok konten-konten dewasa pada perangkat gadget anak anda. Saya sendiri sudah sempat browsing, dan memang menemukan beberapa pilihan aplikasi blocker tersebut, hanya saja saya tidak bisa menjamin keakuratan aplikasi tersebut dalam memblock konten-konten negatif teruji dan efektif atau tidak.

c. Untuk pemilik usaha warnet sebaiknya menerapkan kebijakan bahwa yang bisa mengakses internet di warnet hanya mereka yang sudah berusia di atas 17 tahun. Saya termasuk pengguna warnet aktif. Agak mempertanyakan juga setiap melihat ada anak-anak yang browsing di warnet. Karena sangat tidak aman sekali. Ketik saja kata kunci yang sangat amat general di google, yang keluar sekian ratus images-images terselubung yang absurd.


-BERSAMBUNG-

Jumat, 08 April 2016

Resign

0 komentar



Hujan turun deras. Sejak satu jam lalu, belum juga berhenti. Angin terasa berhembus kencang, menerbangkan helaian rambut pelan. Beberapa kendaraan masih lalu lalang di jam yang menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Sementara itu, suara musik penyanyi berkulit hitam masih mengiringi pengunjung kafe yang berkutat dengan kegiatannya masing-masing. Di pojok ruangan, tampak sepasang muda-mudi yang meskipun duduk di satu meja, namun tampak sama sekali tidak menyatu. Sesekali mengobrol, menyeruput air minum dingin yang gelasnya sudah berembun_dianggurkan sekian lama oleh sang empunya yang larut dengan smartphonenya. Tak jauh dari mereka, sekelompok orang_yang sepertinya adalah mahasiswa yang tengah berdiskusi_mengerjakan tugas bersama. Sementara itu, meja yang berada di antara mereka dan aku_ada sepasang_yang mungkin kekasih_entah bisa jadi sedang berada di tahap penjajakan_pendekatan, tengah seru mengobrol. Wajah sumringah si perempuan cukup memperjelas karena ini semacam kencan akhir pekan. 

Akhir pekan_ ya akhir pekan, yang tidak berlaku bagiku. Jum'at bukan akhir pekan selayaknya kebanyakan orang. Bagiku jum'at sama seperti empat hari sebelumnya. Hanya saja, aku tetap bersyukur, setidaknya besok tak perlu masuk selama 8 jam di kantor. Meskipun terkadang, tak jarang sabtu sama seperti hari-hari lainnya. Tapi malam ini, dan sama seperti jum'at malam sebelum dan akan datang, akan tidak sama. Bekerja di kota ini tentu tak bisa berharap banyak akan mendapatkan hari libur dua kali dalam satu pekan. Kecuali jika kau adalah karyawan BUMN atau pegawai negeri sipil. Pilihan menjadi wirausaha bahkan terkadang menjadi pilihan yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan bekerja di kantor swasta_di kota ini. Ah.. besok sudah sabtu. Dan lusa adalah minggu. Tapi sepertinya kali ini aku tidak akan benar-benar mendapatkan "hari minggu" ku. Hari ini dan kemarin, samar-samar bahwa pindahan studio baru akan dilakukan di hari minggu. Tapi tetap saja aku berharap itu tidak akan terealisasi. Setidaknya tidak dilaksanakan di hari minggu ini.

Sebenarnya bekerja bukanlah menjadi pilihan primadonaku. Aku tidak terlalu suka dengan waktu yang terlalu terjadwal. Aku lebih suka menjalani pekerjaan tanpa harus terpaku pada aturan "8-4". Toh pada akhirnya, goalsku hanyalah kemandirian finansial. Entah itu dengan cara bagaimana. Sekalipun dengan cara yang bagi kebanyakan orang umumnya tidak bernilai pasti. Berwirausaha masih menjadi hal yang berkesan "idealis" bagi orang-orang mainstream. Tapi bagi kami_aku dan komunitasku, berwirausaha adalah pilihan terbaik. Terbaik secara waktu. Karena bisa membagi waktu antara kegiatan finansial dan kegiatan sosial sudah menjadi komitmen. Komitmen yang tidak tertulis, namun telah terbukti dan teruji "empiris". Namun kembali lagi, pilihan yang bisa kupilih saat ini adalah menjalani dua-duanya. Setidaknya ada satu hal yang bisa menjamin bahwa di saat sesuatu bersifat ketidakpastian, (untuk tipikal diriku yang terkadang masih tidak fokus pada usaha yang kujalani), bekerja menjadi pilihan yang paling realistis. Meskipun efeknya_di setiap pagi datang, kata "resign" selalu keluar dari mulutku. Entah mengapa lagi-lagi, bekerja adalah pilihan "setengah hati"ku. Pada akhirnya aku tetap ingin berwirausaha. Cepat atau lambat. Menunggu dikeluarkan atau aku yang mengeluarkan diri.

Bunyi rintik hujan sudah tidak terdengar lagi. Hujan hanya sekedar datang menghampiri. Terbayang beberapa episode drama korea yang belum tertunaikan untuk dihabiskan. Entah mengapa, akhir-akhir ini kamar hanya cukup sebagai tempat istirahat. Tuntutan mengerjakan usahaku saat sudah tiba di kos sudah cukup menyita energiku. Selebihnya, tidak banyak tersisa waktu menuju angka 12 untuk menghabiskan bahkan satu episode drama pun. 

Dan lagi-lagi..kata "resign" itu kembali hinggap dalam pikiranku. 

Setidaknya selama satu jam ke depan.

Jumat, 20 November 2015

Aku, Kau dan Roti Maryam

0 komentar
Pict by Puuung


Jam di pojok layar laptop menunjukkan pukul 12.52. Biasanya jam segini udah tidur. Tapi karena habis mantengin acara D’Academia Asia (Semenjak di kamar kos dikasih TV sama Po), alhasil setiap malam selalu nyari acara dangdut. Untuk music, kalau nonton TV, selera musikku gag jauh-jauh dari dangdut. Soalnya bisa ngerasain atmhospere rumah. (Di rumah, kita sekeluarga paling hobi nonton acara dangdut). Jadi sekarang kalau Po nanya lagi apa, 

Me : Biasaa…lagi nonton acara favorite. 
Po :Pasti dangdut..


Well, kali ini tiba-tiba kepengen buka words, and then nulis..
Kali ini pengen bercerita tentang “Roti Maryam”.
Roti Maryam itu semacam roti canai, Cuma lebih tebal. Dan favoriteku adalah rasa cokelat. Sebelum sama Po pun, udah doyan. Hanya saja, gag tau kenapa, pasti gag pernah habis satu. Berasa cepat banget kenyangnya. Mungkin karena manis dan itu karbo banget, jadinya cepat banget bikin kenyang.

Pertama kali makan roti Maryam bareng Po itu pas hujan-hujan. Beli roti Maryam depan kantor pos seturan yang sekarang gerobaknya udah gag ada lagi (entah pindah, atau karena emang udah tutup). Waktu itu kita beli roti Maryam, bungkus buat cemilan pas saat nonton bareng di Amplas. Masih ingat banget, film yang kita tonton itu filmnya The Raid 2. Kayaknya itu nobar pertama kita di bioskop. Sambil nunggu filmnya mulai, aku dan Po maen tebak-tebakan “serba favorite”. Dari mulai warna favorite, makanan favorite, angka favorite, semuanya deh. Pasti ada banyak hal seru yang bisa dilakukan kalau lagi sama Po. Po itu orangnya Audio banget, suka denger cerita, dan welcome terhadap segala ide apapun yang pengen aku lakukan.


Berikut beberapa (dari sekian banyak) hal seru yang pernah kita lakukan :


1.       Keliling kota pake bus transjogja trus makan soto
2.       Wisata ke daerah belakang bandara buat lihat pesawat landing dan take off sore-sore
3.       Nulis wishing list di perahu kertas, dialirin di kali dekat Adisucipto
4.       Ngerasain sensasi naek motor di jalan samping rel barengan sebelahnya ada kereta lagi lewat
5.       Nonton pesta kembang api dari fly over janti pas malam tahun baru
6.       Nonton pertunjukan seni budaya belitong di Taman Budaya (Gratis)
7.       Makan malam di lesehan terbuka di lapangan karang Kota Gede sambil dengerin pengamen yang nyanyinya bagus banget. 
8.       Berburu kuliner sampai utara Sleman (Cangkringan kalau gag salah)
9.       Dan masih banyak lagiiiiiiiii lainnyaaa


Dan kita selalu punya kebiasaan :


1.       Makan ice cream cone di McD
2.       Makan roti Maryam di motor pas habis pulang makan malam bareng. Kita sampai hapal lokasi-lokasi mana saja yang jualan roti Maryam
3.       Kita wajib ngucapin “Happy Anniversary” (perayaan bulanan lebih tepatnya) di setiap tanggal 22 tiap bulannya
4.       Setiap tanggal 22 kita selalu beli kado kembaran, gag mesti mahal, yang kita kumpulin buat anak-anak kita nanti dan kita simpan di kotak khusus
5.       Mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan harian kita
6.       Kalau ebay dan bona masing-masing kita laku, kita biasanya laporan via wa dulu, sebelum aku update status di fb : Alhamdulillah rejeki si (eb/bona) di (hari) (waktu) ini
7.       Setiap nyampe kos, masing-masing dari kita pasti bakal wa duluan bilang “Sayank, Alhamdulillah udah nyampe kos. Makasih yaa buat hari ini”. Selalu kata-katanya seperti itu :D
8.       Kalau aku mau beli baju baru, pasti nanya Po dulu bagus atau gag. Secara dia lebih ngerti apa yang cocok dan terlihat bagus di aku
9.       Setiap Po jemput aku dikostan, pasti kebiasannya Po gag langsung jalan, tapi lihat ke belakangan ke arahku bentar sambil bilang “xxxxxxxxxxxx”
10.   Tiap minggu Po bakal nemenin aku ngajar les Ryan (Anak sepupunya Po di Godean), dan kita be3 (Aku, Ryan dan Po) bakal maen kuis-kuisan yang soalnya dari pelajaran Ryan
11.   Kalau aku lagi PMS, po pasti udah tau mesti ngapain. Karena udah pasti aku bakal uring-uringan. Dan dia superrrrr sabaaaaar ngadepin aku yang PMS. (Maaf ya Po…)
12.   Kalau lagi haus habis pulang makan malam, pasti kita ngacir ke Alfamart atau kalau gag Indomaret. Aku minum teh botol dingin, dan Po sudah pasti “Susu Bantal Kedelai”
13.   Tempat favorite nongkrong kita Alfamart/Indomaret dekat kostan yang punya tempat buat duduk. Sambil bikin perencanaan keuangan, atau kalau gag ngajarin Po bahasa inggris.
14.   Kita paling rese’ banget kalau ada mahasiswa yang jualan bunga di lampu merah. Bukan karena aktivitas jualannya, tapi item yang dijual. Bagi kita ‘adek-adek mahasiswa’ tersebut kurang ‘entreprenur’ buat nyari donasi lewat jualan. Daripada jualan bunga, kenapa gag jualan makanan/minuman di keramaian aja yang udah pasti bakal ada yang beli ?
15.   Di motor kita gag pernah berhenti ngobrol. Mungkin karena Po audio, dan aku suka ngobrol. Makanya kalau di motor aku diem, pasti Po nanya langsung “Sayank kok tumben diem?”. Dan biasanya itu pasti pas lagi masa-masa PMS. Hahaha. Pernah saking moodku hari itu gag keruan, jadi mellow banget, eh tauknya Po langsung menuju samping pagar GSP, dan engingeeeeeng…dia beliin Roti Maryam!
16.   Kita juga punya kebiasan maen “Tanya angka” kalau lagi di motor, misalnya , “7 atau 8?”, “2 atau 3?”
17.   Kita punya tempat makan malam favorite. Apalagi kalau pas lagi berhemat. Tempat makan favorite kita : Lesehan pertigaan peternakan UGM, geprek nologaten depan kuburan, sama lesehan bapak ibu bawah jembatan janti yang punya sambal bawang paling enak menurut kita se-Kota Yogyakarta!
18.   Daaaaan masih banyak kebiasaan kita yang lainnya yang gag cukup sampai pagi buat ditulis di sini…


Intinya sama Po itu aku bisa jadi diriku apa adanya, I mean aku gag jaim buat nunjukkin kekurangan aku ke dia, apa yang aku suka, apa yang aku gag suka. Apapun itu. Keuangan pun kita udah kelola bareng. Dan gitu juga sebaliknya. Dia itu audio, kalau aku verbal banget. Dia Sensing Introvert, aku Feeling Ekstrovert. Sama-sama punya golongan darah B, jadinya aslinya kita suka melakukan hal-hal yang beda dari kebanyakan orang/pasangan.



Omooooo… baru sadar kalau besok tanggal 22…:D

Sabtu, 05 September 2015

“Kapan Married ?”

0 komentar






Kayaknya judul postingan kali ini menjadi pertanyaan yang paling banyak ditanyakan pada wanita usia 25-an. Sebenarnya kapan pertanyaan itu dilayangkan_berbeda bagi tiap-tiap kondisi. Kalau di kota-kota besar, mungkin pertanyaan tersebut memang kerap ditanyakan di usia seperempat abad tersebut. Tetapi di daerah-daerah, terkadang begitu seseorang selesai menamatkan pendidikannya (biasanya selepas SMA) dengan kondisi sudah bekerja, pasti akan dilayangkan oleh pertanyaan yang bagi sebagian wanita_sama annoyingnya dengan pernyataan “kok kamu gendutan yaa”, “kok kamu iteman yaa”.

Entah mungkin budaya kita (di Indonesia) yang cenderung ‘kepo’ terhadap personal life seseorang. Meskipun dapat dipastikan almost 90% orang yang bertanya Cuma sekadar “pengen tau aja”, atau malah “pengen nanya aja”. Tapi kadang tanpa kita sadari, tak semua pertanyaan tersebut dijawab dengan dasar “yaa pengen jawab aja” juga. Bagi sebagian orang, pertanyaan seperti “Kapan Married?”, “Kapan punya mantu?”, “Kapan ngundang?” bagi mereka adalah pertanyaan yang sensitive, kalau bisa jangan pernah sekalipun diutarakan ,terlebih di momen-momen tertentu. Semisal acara nikahan, syawalan, reuni. Karena terkadang ada beberapa perempuan yang menghindari datang acara-acara silaturahmi hanya karena ingin menghindari terpaan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bagi yang plegmatis, mungkin pertanyaan tersebut gag gitu susah buat dijawab, cukup bilang “belum ada calon” dkk, bagi yang sanguinis justru dijawab dengan jenaka “Makanya cariin aku calonnya dong”, si korelis justru dengan lantangnya menantang balik si penanya dengan “nah situ sendiri kapan ??” (kalau memang kebetulan yang nanya juga belum menikah),atau kalau lebih berani lagi nanya “Emang Situ kapan punya baby ??” (kalau pas si penanya sudah menikah tapi belum punya anak). Well, bagaimana dengan si sensitive melankolis ?


Saya pribadi yang memang berkepribadian melankolis plegmatis, pertanyaan “Kapan Nikah?” adalah pertanyaan “jackpot”. Artinya, apes-apesan seseorang aja bakal saya jutekin atau gag. Kalau memang sikonnya pas, mood saya lagi bagus, atau si penanya adalah orang yang memang tulus nanya (beneran berempati, bukan sekedar nanya), pasti cukup saya jawab “ditunggu yaa”, atau “do’ain ya”. Tapi kalau sebaliknya, hmm…siap-siap saya blackist. Karena bagi saya, pertanyaan “Kapan Nikah?” itu pertanyaan yang kadang super duper annoying. Karena kenapa ?

Pertama, menikah itu bukan perkara cepet-cepetan. Everything need time.. Semuanya punya waktunya sendiri-sendiri. Daripada kepo nanya, mending focus nyari solusi buat yang ditanya. Thanks God nya saya gag jomblo. Kalau pertanyaan tersebut ditanyakan ke perempuan yang masih single kan kayaknya gag fair aja. Toh kalau dia mau, besok nikah ke KUA juga bisa. Jadi daripada kita nanya kayak gitu, mending take the real action aja, “eh aku punya kenalan nih, insyaAllah orangnya baik dan bertanggung jawab, mau tak kenalin gag ?”. Tuh, kan lebih focus ke solusi, bukan Cuma “focus” ke masalah.

Kalau di Korea, orang-orang terdekat akan berlomba-lomba melakukan “blind date” alias mengadakan pertemuan yang bertujuan untuk mengenalkan entah anak/saudara/sahabat/rekan kerja/adik-kakak ke orang-orang yang mereka rasa pantas dan layak untuk dijadiin pasangan hidup bagi orang terdekatnya itu (ketika sama-sama sreg). Bedanya hampir kebanyakan, pihak yang akan dikenalkan/atau mau dikenalkan, sudah diminta izin terlebih dahulu. Dan punya hak untuk menolak jika dirasa masih kurang pas. Berbeda dengan di Indonesia, ajang jodoh-jodohan cenderung bersifat mengikat. Artinya, ketika sudah ditahap dikenalkan (apalagi jika yang mengenalkan adalah orang tua/orang yang lebih tua), maka kemungkinan besar adalah “lanjut atau terus” :P. Kalau menolak, pihak yang telah mengenalkan cenderung akan merasa tidak enak hati. Padahal kan kembali ke niat ya, mesti legowo kalau ada penolakan.

Yaa..begitulah hidup. Punya fase sendiri-sendiri yang harus dilewati dengan tahan hati. Setelah pertanyaan “kapan nikah?”, pertanyaan-pertanyaan lanjutan akan menyusul , semisal “kapan punya anak?”, “Anaknya sekolah di mana ?”, “Kapan punya mantu?” dll. Dan kita sebagai pasangan, harus saling menguatkan. Bahwa just take it slow setiap pertanyaan itu datang. Toh kita yang menjalani, orang lain hanya berhak “nanya”.

Tapi kalau saya pribadi, pilihanku adalah gag terlalu mau untuk nanyain pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya personal seperti itu ke orang-orang yang ditemui. Menghargai dan Toleransi aja. Toh saya cukup smart buat mikir atau nebak tuh orang udah nikah atau udah punya anak apa belum, gag perlu susah-susah nanya. Kalaupun nanti mereka mau nikah, pasti dikabarin. Kalaupun mereka udah hamil, pasti perutnya buncit. Sesimpel itu aja. J

Hello September!

0 komentar


Merantau lah selagi muda, tapi jangan sangka merantau itu mudah..

Ya, kali ini pengen cerita tentang suka dukanya merantau. Merantau yang paling sederhana itu adalah kuliah di luar pulau (jawa bagi yang asal sumatra seperti saya). Hampir setengah lebih dari putra-putri daerah pasti sudah mengalami yang namanya merantau. Tapi semakin ke sini, saya sadar bahwa kata "Merantau" itu berlaku secara sah_justru bukan di kondisi masih menjadi mahasiswa. Merantau paling sah itu justru ketika anda berani untuk menetap di pulau/kota lain dengan kondisi segala biaya ditanggung sendiri. Makan, akomodasi, dan biaya-biaya operasional lainnya. kalau masih berstatus mahasiswa, tentu gag bakal kepikiran tiap uang bulanan. Karena orang tua masih dengan legowo mengirimi tiap bulan. Jadi "rasa aman" di tempat orang masih tinggi. Gag bakal kepikiran tar makan pake apa, gimana bayar uang kostan kalau udah ditagih, gimana kalau bensin habis berbarengan dengan uang habis, dan sebagainya. Gag bakal anda rasakan. Kecuali kalau anda kuliah dengan biaya yang dicari dengan hasil keringat anda sendiri (bukan dari suntikan dana orang tua). Hal ini akan sangat jauh berbeda ketika anda merantau setelah kuliah. Dan inilah yang ingin saya bagi di sini..

Begitu lulus kuliah pada tahun 2014, akhirnya karena keinginan pribadi dan didukung oleh suatu kondisi, akhirnya saya memutuskan untuk stay di Jogja. Bekal 7 (tahun) sebelumnya di Jogja, cukup membuat saya pun makin tidak ingin meninggalkan kota ini, dan mencoba peruntungan di kota besar lainnya, semacam Jakarta (yang notabene lebih dekat dari Belitung). Jogja memang cukup primadona hanya sebagai kota tujuan menimba ilmu, bukan mencari uang. Terlebih bagi beberapa jurusan di mana di Jogja sangat minim sekali perusahaan/industri, jadilah mencari pekerjaan di Jogja tentu tak bisa dengan begitu mudah. Belum lagi mesti bersaing dengan putra-putri daerah dengan kemampuan bahasa lokal yang sangat mendukung sekali untuk mendapatkan pekerjaan di sektor-sektor tertentu. Apalagi bagi saya yang meskipun sudah sedemikian lama tinggal di Kota gudeg ini, keterbatasan bahasa Jawa membuat saya terkendala untuk mendapatkan pekerjaan yang menuntut komunikasi dengan klien yang kebanyakan adalah mereka yang menggunakan bahasa Jawa secara dominan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi kendala dan tantangan besar selain ada persyaratan mutlak di mana mengharuskan si pelamar (pekerjaan) memiliki KTP Jogja. Jadilah beberapa kali saya harus merelakan pekerjaan yang sebenarnya sangat relates sekali dengan background pendidikan sarjana saya yang memang erat berkaitan dengan pemerintah daerah.

Setelah kurang lebih hampir satu tahun bekerja di pekerjaan kontrak, jadilah tepat setelah kontrak kerja berakhir saya kembali jobless, beralih status menjadi jobseeker di usia saya yang jelas bukan tergolong fresh graduate lagi. Hampir 5 bulan saya lalui pekerjaan ala kadarnya. Dari mulai menjadi tenaga entry data kontrak selama satu bulan (dan karena kinerja dan hasil kerja saya dinilai bagus sama atasan, alhasil kontrak saya diperpanjang satu bulan) dengan gaji kurang lebih setengah dari upah UMR Jogja. Setelah itu saya pernah bekerja sebagai juru ketik dengan upah 30.000/hari, membantu seorang mahasiswa magister yang tengah recovery pasca kecelakaan dan membutuhkan tenaga untuk mengetik (karena tangan kanannya dipasang gips). Upahnya ? kontrak saya hanya satu bulan. Dan saya hanya bertahan dengan penghasilan yang harus saya alokasikan menjadi beberapa pos (kostan, makan, operasional, serta angsuran bulanan). Jumlah yang terkadang membuat saya miris, nangis sendirian, mutar otak gimana buat bertahan hidup di kota ini. Alhasil makan pun kadang seadanya, kalau gag di burjo, di angkringan.

Beruntung saya tidak melaluinya sendiri. Ada Po yang selalu ada, yang selalu berbagi dengan prinsipnya "Kalau aku makan A, kamu pun juga harus makan A", bisa dibilang, separuh biaya hidupku ketika di posisi aku gag punya uang lagi, dia yang tanggung. Dan sampai di tahap di mana kita pernah sama-sama udah gag punya uang lagi. Uang yang kita dapatkan hanya dari hasil upah akhir jualan pisang ijo (bareng teamnya pas bulan ramadhan).Dan itupun baru dikasih pas akhir masa jualana. Yang artinya selama menuju ke arah sana, berarti kita harus benar-benar berhemat. Syukur-syukur dapat sumber penghasilan lain.

Dan Allah menjawabnya..sampai akhirnya kita nemuin sumber penghasilan dari online marketing, yang alhamdulillah penghasilannya kalau dibagi 2 _ masing-masing akan dapat gaji maksimum ketika aku masih bekerja sebagai asisten peneliti di pusat studi. Sekarang sedikit demi sedikit, kita udah mulai bisa mandiri. Membiayai hidup kita sendiri, sebelum benar-benar lepas dari bantuan siapapun, termasuk orangtua. Kalau sekarang, karena Po masih berstatus sebagai mahasiswa yang tengah merampungkan tugas akhirnya, kadang-kadang orangtuanya masih mengiriminya uang bulanan. Uang bulanan yang dulu kerap digunakannya untuk membiayai hidupku, ketika semua tabungan bersama kita keluarkan untuk suatu kepentingan yang lebih penting. Tapi sejak bulan Agustus kemaren, Po mulai perlahan mengikuti jejakku, mandiri secara finansial, semua serba ditanggung sendiri. Ya, itulah arti belajar hidup, sebelum waktu datang di mana kami harus benar-benar mengarungi kehidupan sendiri (baca : berkeluarga).

Lagi-lagi, merantau itu bukan pekerjaan yang mudah.. Jauh dari keluarga menahan kangen ketika lagi ada masalah/sakit, bertahan untuk tidak membebani orang tua , dan berpikir bagaimana agar tidak menjadi beban pikiran orangtua karena kondisi yang bagi mereka "belum mapan" ini.

Semoga Allah selalu menguatkan kami di sini...
Alhamdulillah Aamiin

Yogyakarta, Kamar Kos Papringan
12.50 AM (kepikiran pengen nulis sebelum tidur)

Minggu, 31 Mei 2015

Letter #1 To My Husband-to-be

0 komentar






Sudah lama tidak “ngobrol” di blog ini.. aktvitas blogging menjadi aktivitas yang tidak akan pernah saya tinggalkan, kalau di “pause”kan iya.
Kali ini saya akan bercerita tentang seseorang yang sudah “xx” bulan (haha silahkan diisi sendiri) hadir dalam kehidupan saya. Seseorang yang mungkiiiiinn…bagi kebanyakan orang “too good to be true” buat saya (karena saking sayanya yang gag banget ini,:D), seseorang yang jadi partner karib saya (teramat karib) sampai dia hapal kapan happynya saya, kapan mikirnya saya, kapan sedihnya saya, dia bisa menebak dengan tepat!. Dan seseorang yang saat saya menulis ini tengah memperjuangkan “kami” di kampung halamannya. Dan seseorang itu yang layak saya tulis di blog ini. Karena jujur saya jarang nulis tentang “seseorang” di sini (kecuali bias saya yaa, Oppa Onew,wkwkw)
Dia memang bukan yang pertama untuk saya, tapi dia pantas untuk menjadi yang terakhir. Saya mengenalnya bukan sehari dua hari sejak kami “resmi” sama-sama ya. Dia partner team terawet saya. Kalau dipindah team, pasti ada beliau. Jadi kalau berbicara tentang pola kerjanya, kurang lebih sama. Tapi tetap, dia yang di team berbeda dengan dia yang selalu ada “dekat” saya. Begitu juga sebaliknya. Selalu ada kejutan-kejutan yang saya rasakan “xx” bulan (lagi-lagi silahkan isi sendiri :D) sejak saya mengenalnya lebih dekat.

Tapi yang sangat saya respeki dari dia adalah dua hal. Pertama, bagaimana dia “membawa” saya ke keluarganya dan bagaimana dia “masuk” ke keluarga saya. Saya masih ingat satu hal ketika satu hari sebelum untuk pertama kalinya saya dipertemukan dengan kedua orang tuanya, dia mengatakan satu hal pada saya :

“laki-laki (espcecially o.k.a) jika sudah memperkenalkan seorang wanita kepada kedua orang tuanya,berarti dia sudah sangat yakin dan akan meyakinkan kepada kedua orangtuanya bahwa inilah yang akan diajaknya untuk hidup sama-sama”

Ya, dia selalu meyakinkan saya bahwa salah satu bukti keseriusannya adalah memperkenalkan saya kepada kedua orang tuanya. Dan begitu juga sebaliknya. Meskipun dia bukan yang pertama, tapi saya pastikan bahwa dia yang pertama dan satu-satunya yang saya perkenalkan secara resmi kepada orangtua saya, khususnya ayah saya.

Terimakasih Po,

Dari dulu saya cukup tau diri untuk tidak mengharapkan seorang kamu, even itu hanya dalam pikiran atau batin saya. Saya cukup menjejak bumi. Tapi dengan kamu menyayangi saya dengan memperjuangkan saya ke keluargamu sudah cukup membuat saya yakin bahwa “this is the best marriage proposal ever”. Kamu memang bukan tipikal pria-pria korea fantasy saya yang tiba-tiba bawa cincin dan berlutut sembari bilang “would you marry me?” tapi ya, tindakanmu dengan memperkenalkanku pada orangtuamu (terlebih ibumu) membuatku merasa_”I don’t need anything, when I have (these) everything”

Mungkin karena kita sama-sama tipe golongan darah B ya, makanya bagi orang kita bernilai cuek. Padahal aslinya gag. Tapi aku gag peduli itu, dan kamu pun gag peduli hal demikian. Yang kita lakukan hanya “keep calm and make our dreams happen”.

Semangat yaa buat kita, Po

You are half of me, understanding me well..know very well how to train my ego..
Benar kata orang, soulmate itu bukan orang yang satu karakter sama kita, tetapi “belahan” kita yang lain. Ibarat dua kutub yang berlawanan, tapi pada dasarnya “nyatu”. You are my opposite shadow, that’s why people called soulmate is like a mirror. Two different side shadows, but basicly it is the “ONE”.

Xie Xie, Gomawoyo, Arigatou Po,


Senin, 22 Desember 2014

Tradisi Perayaan Hari Ibu di Beberapa Negara

0 komentar
Indonesia Mother's Day by Google's doodle 2014



Bulan desember selalu identic dengan bulan kasih sayang. Secara personal, desember merupakan bulan yang special, karena bulan ini ada dua moment penting yang berkaitan dengan ibu. Pertama, desember adalah bulan kelahiran ibu saya. Dan kedua, bulan desember adalah bulan “hari ibu” atau “mother’s day”. Kalau saya flashback, rasanya setiap mendekati, tepat, atau tidak jauh dari hari ibu pasti disitu moment saya untuk kembali blogging setelah hiatus panjang. Terakhir kali menulis sebenarnya di bulan lalu, hanya saja saya ingin menulis secara jujur di sini. Menulis apa yang ingin saya tulis, karena blog ini seperti yang sudah sering saya sampaikan di awal tidak lain layaknya seperti jurnal pribadi saya. Memang isinya terbilang random, tetapi setidaknya ini tempat dimana saya bisa enjoy jadi diri sendiri.


Kembali ke topic tentang hari ibu, saya sebenarnya tidak yakin apakah hari ibu di sini adalah hari ibu nasional atau international mother’s day.Tapi dari hasil browsing, di beberapa Negara, khususnya Negara-negara di eropa, hari ibu ada di bulan Mei.  Yang pasti kalau di Indonesia, hari ibu selalu berada pada tanggal 22 Desember. Di tanggal itu pula saya punya kebiasaan, lebih tepatnya sejak saya hidup terpisah dari orangtua, saya selalu menyempatkan diri untuk berkirim pesan singkat mengucapkan selamat hari ibu untuk ibu yang saya panggil “umak”. Umak tau kalau saya orangnya memang agak sedikit puitis, mungkin karena paham anaknya ini dari kecil punya hobby nulis sama bikin puisi kali ya, hahaha… Dan toh saya juga tidak pernah merasa malu untuk mengucapkan terimakasih kepada umak saya. Terimakasih karena sudah menjadi ibu yang terbaik untuk kami anak-anaknya, dan tak lupa saya selipkan ucapkan do’a agar beliau selalu sehat dan bahagia.


Kalau tahun ini, memang sedikit berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kali ini daftar “ibu” yang saya ucapkan selamat hari ibu ikut bertambah. Kalau secara personal, biasanya saya hanya mengirimkan kepada umak saya. Selebihnya untuk kakak dan istri abang saya, di mana keduanya telah menjadi ibu, maka saya buatkan “status” di media social untuk mengucapkan selamat hari ibu. Tak lupa saya sertakan kedua nenek dari kedua keponakan saya, taqi dan fathia. Dan tahun ini, listnya ikut bertambah. Selain mengucapkan personal kepada umak saya, saya juga mengirimkan ucapan selamat hari ibu kepada wanita yang saya panggil “ibu”. Beliau tak lain adalah ibu dari Po,pacar saya.. Isinya persis seperti apa yang saya tuliskan untuk umak. Di line yang saya kirimkan untuk beliau tadi pagi, saya ucapkan selamat hari ibu, serta tak lupa saya ucapkan terima kasih karena sudah menjadi “mama terbaik” untuk Po. Seperti biasanya, Alhamdulillah respon beliau selalu positif. Hal ini membuat saya sadar bahwa dimanapun saya berada, saya bersyukur memiliki keluarga yang sayang dan menghargai saya. Sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang tidak alami.


Berbicara tentang hari ibu, meskipun saat ini kita berada di era teknologi dimana kita bisa dengan gampang dan mudah memasang status di media social, tetap saja bagi saya mengucapkan secara langsung kepada ibu (entah itu sms, telpon, atau berbicara langsung) memiliki kesan yang berbeda. Saya pribadi penyuka personal direct message. Artinya dibanding menjadikannya status public, saya lebih suka mengucapkan sesuatu juga langsung ke orangnya. Setelah itu barulah jika itu national’s day_sebagai bentuk ikut merayakannya, saya akan memasangnya di akun social pribadi.


Berikut beberapa tradisi perayaan hari ibu di beberapa Negara :

·         JERMAN

Di Jerman, hari ibu atau yang disebut “muttertag” berada pada hari minggu kedua di bulan Mei. Hari ibu di Negara ini dirayakan dengan memberikan kartu ucapan selamat hari ibu dari anak ke ibunya. Selama periode Perang Dunia II,ternyata terdapat tradisi pemberian medali, baik itu emas, silver, atau perunggu. Jenis medali tergantung pada jumlah anak. Setelah PD II, barulah pemberian benda lebih diarahkan ke sesuatu yang lebih simple seperti bunga, kado atau kartu ucapan.


·         JEPANG

Pada saat hari ibu, anak-anak di Jepang memiliki perayaan dengan menggambar wajah ibu mereka masing dan mengikutsertakan hasil gambarnya ke sebuah kontes gambar. Selain itu, di jepang, hari ibu merupakan hari untuk menyenangkan ibu. Biasanya anak-anak disana akan membuatkan sesuatu yang special, misalnya sushi _atau memberikan bunga anyelir yang merupakan lambang hari ibu di Jepang.


·         BRAZIL

Perayaan hari ibu di Negara ini ternyata tak kalah meriah dengan perayaan natal. Di hari ibu, mereka akan berkumpul bersama-sama di gereja, yang diakhiri dengan makan bersama.


·         PERANCIS

Sebelum tahun 1950, Hari Ibu di Perancis bukan merupakan hari libur resmi, sampai kemudian oleh Napoleon disahkan menjadi hari libur nasional. Di Perancis, hari ibu merupakan hari “me time” atau “istirahat”nya para ibu. Di hari tersebut para anak “bertukar peran” menjadi ibu, dimana mereka akan mengerjakan tugas/pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh ibu mereka sehari-harinya.


·         ETIOPIA

Di Etiopia, hari ibu akan dirayakan dengan sebuah pesta besar, dimana anak perempuan akan membawa sayur-sayuran,mentega,rempah dan keju. Sedangkan anak laki-laki akan membawa jenis daging-dagingan. Hal ini merupakan tradisi lokal yang sudah dijalankan secara turun temurun. Saat pesta mereka akan menari dan bernyanyi bersama-sama.



Yang terpenting sebenarnya bagaimana spirit atau semangat hari ibu terus ada setiap harinya. Last but not least, selamat hari ibu untuk seluruh ibu dan calon ibu, serta seluruh wanita di seluruh dunia…^^

Senin, 03 Maret 2014

me and holiday

0 komentar
yeayyy hampir satu bulan udah gag ngeblog.kangen banget buat nulis panjang-panjang. sebenarnya saya punya media sosial lain yang bisa digunakan untuk berbagi cerita,tapi belum ada yang bisa menyamai blog dalam hal menampung semuanya.tanpa terbatas jumlah kata-kata,bahkan terkadang batasan apa yang ingin disampaikan.kalau di media sosial lainnya semisal fb atau twitter,sedikit risih kalau nulis sering dan kebanyakan (pengecualian untuk sesuatu yang sifatnya informatif,edukatif atau yang berbau-bau spirituial.gag masalah.tapi diluar itu,siap-siap dicap spamming,nyampah,atau ngegalau. dan karena follower/friend saya gag terbatas satu komunitas,jadilah saya menghindari untuk "curcol" di akun2 tersebut.kalaupun koneksi inet lagi gag memungkinkan buat ngeblog,toh saya tetap mengeluarkannya tidak di akun publik saya itu,alias di my private semi secret account.heheh sudah lama saya punya banyak akun fb,twitter,email,bahkan blog...haha...ya itu semacam escaping gate.

well kali ini saya pengen posting tentang hari2 liburan saya di pulau belitung.seperti yang pernah saya tulis di postan saya lebaran tahun lalu,belitung sebenrnya adalah tempat yang baru bagi saya.seenggaknya dalam kurun waktu dari sejak smp sampai umur saya mendekati 25 ini. saya cuma lahir,tiga tahun waktu masih kecil,selebihnya saya jhabiskan di pulau bangka. well liburan kali ini adalah liburan ke 2 saya yang paling la?ma,sebulan.sebelumnya paling banter ya cuma dua minggu.yang pertama waktu saya berangkat ke korea dan lanjut lebaran.itu lebih dari sebulan.yups holiday itu kayak cuti or quality time sama orang2 terdekat (dalam hal ini keluarga).dan holiday itu semacam refresh atau recharge semangat.yang sudah2, shabis pulang holiday bisa dipastikan saya akan jadi saya yang baru,saya yang insy positif dan sedikit realistis.haha..ada sebuah kesadaran yang saya rasakan kalau pulang holiday kalau ternyata i am not teen anymore. udah saatnya untuk saya lebih realistis dalam nyikapin hidup,kalau yang sekarang_bentuk realistis saya adalah ya..i have to looking for job for my earn living.

holiday itu semacam "pre-test" buat saya untuk gag macem2. artinya ketika saya pulang holiday,saya jadi memahami bahwa saya adalah bentuk tanggung jawab orangtua saya ke Tuhan. jadi kalau saya macem2 dalam artian jadi anak yang gag benar secara pandangan Tuhan,artinya saya gag amanah jadi anak.dan kebahagian orangtua ya bagi saya tergantung anaknya.dan meskipun tampilan saya begini (belum syarilah ya istilahnya) bismillah dan insy sejauh ini saya masih jaga amanah itu.dan dengan holiday sedikit membuktikan bahwa i am absolutely serious here.kalau saya mau gag bener,ngapain saya jalanin sejauh dan selama ini.

well memang kembali ke pilihan masing2. kita dibentuk sama pilihan2 kita.dan pilihan kita dibentuk sama cara pandang kita. benar atau tidak pilihan kita kan semua dikembalikan ke hati nurani dan niat.dan insyaAllah sejauh ini niat saya gag melenceng. bahwa saya tetap mau jadi anak yang benar,gag sekedar baik.

have a nice day fellaaaaaassss....

Rabu, 05 Februari 2014

Mendokumentasikan Kisah

0 komentar


(my travel writing workshop's certificate by TEMPO)

Satu resolusi tahun ini akhirnya kesampaiaaaaannnn....
Kalau readers masih ingat postingan saya sebelum2nya (my 2014 resolution), di salah satu poin saya menuliskan kalau pengen ikut kelas menulis professional. Jujur, saya belum pernah sama sekali mengikuti kelas penulisan. Dan Thanks God, berkat info dan tawaran dari partner saya di Legoo, Amie _serta acc dari sang tetua Legoo, bang Jamz, akhirnyaaaaa...saya punya kesempatan untuk mewujudkan resolusi saya itu, dengan biaya gratisssss...Terima kasih Legoo *xoxo*

Saya mau cerita dikit tentang kegiatan menulis yang udah saya tekuni selama kurang lebih 15 tahun. Yups, saya sudah mulai suka menulis sejak pertama kali dapat diary *waktu menang sebuah lomba, saya lupa lomba apa waktu masih kelas 4 sd*. Sejak itulah saya ketagihan nulis. Berawal dari nulis diary berlanjut ke nulis fiksi. Waktu itu saya ingat, cerpen pertama yang berhasil saya buat adalah cerpen gubahan/saduran (ditulis ulang dalam bahasa dan gaya penulisan sendiri) dari sebuah novel anak-anak. Saya lupa judulnya apa, tetapi jalan ceritanya saya masih ingat, yaitu tentang kisah seorang anak perempuan yang memiliki saudara angkat, yang tidak disukai keberadaannya, namun ternyata di akhir hidupnya (saudara angkatnya kecelakaan dan meninggal) mendonorkan matanya untuk kesembuhan seorang tuna netra. Cerpen ini adalah cerpen pertama ketika saya duduk di bangku kelas 4 sd. Waktu itu saya senang banget waktu dapat respon positif dari teman-teman sekelas yang baca cerpen saya. Dan sejak saat itulah saya hobby nulis. Jadi kalau dihitung-hitung, jam menulis saya mungkin sudah lebih dari 10000 jam. Hanya saja, karya-karya tersebut tidak pernah didokumentasikan secara baik. Baru setelah saya mengenal blog di tahun 2009, saya mulai belajar buat mendokumentasikan karya-karya saya. Blog udah kayak gallery plus 'diary' pribadi saya.

Kalau berbicara tentang prestasi bidang menulis, sejauh ini masih tingkat regional. Sharing dikit, waktu masih duduk di bangku sekolah, cerpen-cerpen saya pernah masuk majalah lokal daerah dan menangin lomba-lomba (meskipun cuma tingkat sesekolahan :D). Prestasi tertinggi saya di bidang menulis waktu  SMA, ketika berhasil jadi juara umum lomba cipta dan baca puisi se-provinsi, dan karya saya dibukukan (kompilasi bersama karya pemenang lainnya), serta Thanks God pas masih SMA saya sudah dapat laptop dari menang kompetisi tersebut. Setelah itu ? pas duduk bangku kuliah, saya sempat lolos seleksi FLP (forum lingkar pena) Yogyakarta, tetapi karena kesibukan akhirnya saya batal ikut.Kemudian saya juga sempat tergabung di klub jurnalistik jurusan, tapi lagi-lagi karena kesibukan di luar kampus, saya memilih mundur setelah dua semester bergabung. Setelah itu saya kebanyakan menulis secara mandiri, ya lewat blog ini.

Tahun kemaren saya sempat berada di 'fase galau' ketika memutuskan pengen jadi apa nanti. Saya punya 3 options, yaitu jadi praktisi urban planner, wirausahawati, atau penulis. Jujur, kalau berbicara keinginan hati saya tidak terlalu suka dengan sesuatu yang mengikat, kerja kantoran dengan tingkat stress setiap saat kurang cocok bagi saya. Saya orangnya mudah jenuh dengan rutinitas. Makanya kalau pun saya harus (karena orang tua menginginkan) berkarier sesuai background pendidikan , saya memilih untuk jadi PNS saja. Meskipun jenjang kariernya termasuk lambat, tetapi setidaknya saya punya waktu luang untuk mengembangkan bakat saya secara professional di bidang tulis menulis, sembari punya usaha sendiri. Memang kelihatannya gag fokus sih, tapi justru tiga hal itu fokus bagi saya. Dan tujuan akhirnya adalah saya ingin menjadi penulis professional yang stabil, sehingga punya waktu yang banyak untuk mengurus keluarga.

Well, apapun itu saya bersyukur dikaruniai hobby dan (mungkin) bakat dari Tuhan YME dibidang menulis dan membaca ini. Yups, merujuk pada apa yang disampaikan pemateri tadi, seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Dengan banyak membaca, membuat tulisan kita jadi gag kering. Tapi setidaknya, untuk bisa menulis, satu-satunya tips terbaik adalah dengan MENULIS, MENULIS dan MENULIS !. Perbanyak jam terbang dalam menulis.

Sedangkan untuk jadi penulis proffesional, tipsnya adalah (kata bapaknya tadi) rajin-rajin belajar dari ahlinya (salah satunya dengan ikut workshop atau join komunitas penulis) juga berani diterbitkan. Perkara diterima atau ditolak ? itu nomor ke sekian. JK Rowling saja (penulis serial legendaris Harry Potter)  pernah merasakan ditolak oleh penerbit. Jadi habiskan jatah kegagalan di bidang menulis ini dulu...:D

Setiap orang bisa menulis, buktinya ? tuh bisa bikin timeline dan wall rame...:D.

Last but not least,


-Oleh-oleh terbaik dari sebuah perjalanan adalah tulisan perjalanan itu sendiri (+foto). More Everlasting dari oleh-oleh apapun, bahkan dari sebuah cerita mulut ke mulut sekalipun. Karena ketika si penulis udah gag ada, tulisan-tulisannya akan terus 'hidup'-by Anonim

Minggu, 02 Februari 2014

Ost For "First Snow : Acrophobia (episode 9)

0 komentar

 

aku punya blog !!! Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez